Cerpen

Perempuan dengan Segelas Racun

December 11, 2019

Cerpen Aljas Sahni H

            Angin malam sedikit nakal menyelusup ke dalam kutangmu, menyerupai tentakel angin itu merabamu dalam dingin, seolah tahu akan kesepian yang menjalar dalam tubuhmu. Kamu menikmati perihal itu, tak ada niatan sedikit pun untuk menutup jendela, malah membiarkan angin menyetubuhimu dengan leluasa. 

            Untuk malam ini saja, katamu, aku ingin dibelai seperti perempuan pada umumnya. Air mata menitik dari kelopak matamu, mengalir membasahi pipi dan berakhir jatuh di atas lantai. Dadamu terasa sesak, merangsek inti dari segala nestapa. Kamu merindukan saat-saat itu, saat di mana senyum masih kerap tersungging di bibir suamimu.

            Suamimu kerap memuji rona merah pipimu, tapi sekarang pipimu adalah tempat pendaratan tangan suamimu. Akhir-akhir ini suamimu seringkali menamparmu, sehingga rona merah pipimu menjadi memar. Suamimu menyiksamu seperti binatang, seperti kusir melecitkan cambuk pada kudanya.

            Ke mana kata-kata indahmu dahulu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membayang dalam tempurung kepalamu. Tentu nyalimu kurang berani apabila mengajukan pertanyaan itu terang-terangan pada suamimu. Kamu menerima begitu saja aniaya suamimu tanpa berkomentar apa pun. Kamu rela suamimu menjambak rambutmu, menyeretmu ke dalam kamar, lantas tamparan melayang di pipimu, dan berakhir pecut sabuk berulangkali.

            Tubuhmu remuk dengan garis-garis memar sebab ulah biadab suamimu. Tak hanya cambukan yang kamu terima, sering juga kamu gelagapan direndam di dalam air. Kamu disuruh memperagakan seekor anjing dalam keadaan telanjang, dan suamimu tertawa terbahak-bahak melihat penderitaanmu.

            Kamu merasa terhina di hadapan suamimu sendiri, menjadi tempat pelampiasan suamimu yang di kantor dibodoh-bodohi oleh bos dan teman-temannya. Tapi kamu tak berani melawan. Kamu juga tak lari dari rumah itu meninggalkan suamimu karena kamu merasa itu tak mungkin, bagaimana juga itu adalah rumahmu satu-satunya.

            Dulu, kamu lari dari orangtuamu demi menikah dengan lelaki bajingan itu, memiliki angan-angan indah hidup harmonis bersama suamimu, tapi sekarang harapan itu sirna. Kamu menyesal, dan tentu penyesalan akan selalu menjadi penyesalan.

            Ada alasan lain pula, mengapa kamu tak mau meninggalkan rumah itu. Kamu tak mau meninggalkan anakmu, dan kamu juga tak mau membagi penderitaan pada anakmu. Kamu rela menderita sendiri, asal anakmu tidak, dan takkan pernah kamu biarkan itu terjadi.

            “Hey Jalang! Di mana kamu?!” Lamunanmu buyar oleh teriakan yang berasal dari mulut suamimu. Kini dia sudah ada di ruang tamu.

            Kamu cepat-cepat menghapus sisa-sisa air matamu, keluar kamar dan menemui nafsu suamimu yang bajingan. Malam sudah larut, suamimu memang kerap datang larut malam, bahkan pagi, bahkan pula tak pulang berhari-hari. Suamimu lebih suka menyewa pelacur daripada tidur denganmu, bila pulang, pasti dalam keadaan mabuk.

            Seperti sekarang, bau alkohol menyeruak ke dalam lubang hidungmu. “Dari mana saja kamu, Jalang?! Kenapa lama sekali kamu datang?!” sentak suamimu. Tubuh suamimu agak linglung dan mata suamimu seperti tak mampu untuk terjaga.

            “Ma… maaf, tadi aku habis dari kamar mandi,” sahutmu tergagap. Kamu tahu, permintaan maafmu takkan pernah diampuni.

            Kamu meringis kesakitan, ketika suamimu menjambak rambutmu. Suamimu meradang pada kesalahanmu yang datang terlambat. “Hey Jalang! Dengarkan! Aku tak mau melihatmu seperti ini lagi! Sekarang bawakan aku air panas dan basuh kakiku! Satu lagi, buatkan aku teh hangat! Tak pakai lama! Mengerti?!”

            Kepalamu mengangguk-angguk meski agak susah. Suamimu melepaskan jambakannya dan kamu segera mungkin pergi ke belakang. Kamu memasak air namun dadamu yang mendidih. Kamu tak kuat lagi menanggung derita ini, kamu ingin mengakhiri semua ini. Kamu ingin mengakhiri penderitaan suamimu yang selalu dibodohi oleh bos dan teman-temannya. Dengan racun, kamu ingin mengirim suamimu ke neraka.

            Teh hangat yang akan kamu suguhkan pada suamimu telah dibumbui racun. Kamu berjalan dengan sedikit senyum gila ke arah suamimu. Kamu ulurkan cangkir itu di hadapan suamimu. “Minumlah, mumpung masih hangat,” ucapmu lembut.

            Suamimu menyimpan curiga atas kemanisanmu, tapi dia tak sepenuhnya memedulikan itu. Dia dengan senang hati meminum apa yang baru saja kamu suguhkan.

            Kamu melihat lekat-lekat raut suamimu saat meneguk racun itu. Racun itu bekerja cepat, tak butuh waktu lama, mulut suamimu telah berbusa. Mulut yang pernah memujimu, mulut yang pernah mencacimakimu, kini mulut itu tak lagi dapat mengeluarkan kata-kata, semua telah terselimut busa.

            Semestinya kamu senang racun membuat suamimu mati, tapi kamu malah cemas. Bukan karena suamimu, tapi karena anakmu. Anakmu melihat semua kejadian itu. Entah bagaimana anakmu bisa bangun, dan melihat kala kamu meracuni ayahnya hingga tewas. Kamu seketika menyadari kalau hidup selanjutnya akan tampak lebih sulit.

            Kamu menelepon ambulans, dan bilang, suamimu frustasi sebab kerap dibodoh-bodohi bos dan teman-temannya, sehingga ia mengakhiri hidup dengan meneguk racun. Semua orang percaya, dan anakmu tak pernah membocorkan rahasia di balik kematian suamimu. Anakmu memilih diam dengan mata penuh kebencian.

***

            Sejak kamu meracuni suamimu sendiri, anakmu tak lagi mau berbicara denganmu. Dia membencimu.  Hidupmu masih dibalut kesepian. Kamu merasa hidup sendirian di dunia ini, hanya kadang angin malam yang diam-diam menemanimu.

            Anakmu lebih suka tidur di rumah temannya daripada di rumah sendiri. Lama-lama, anakmu mulai mirip dengan suamimu. Ketika pulang, melihat wajahmu saja, dia seakan tak pernah sudi. Kamu selalu mencari kesempatan untuk mengawali pembicaraan, tapi anakmu tak pernah ingin berbicara apalagi mendengarkan celotehmu.

            Kebencian memang telah merasuki anakmu, kebencian juga mengambil alih tubuh anakmu. Kamu ingin mengakhiri semua ini, persis seperti kamu mengakhiri hidup suamimu. Tapi bagaimana bisa, tak ada ibu yang ingin anaknya menderita.

Ini bukan derita. Ini untuk melepas penderitaan itu sendiri, batinmu.

            Kamu tak kuasa melihat anakmu menanggung kebencian. Kamu ingin menyudahi penderitaanmu sendiri juga penderitaan anakmu.

Kala itu anakmu pulang, ia tampak tergesa membereskan pakaiannya ke dalam tas. Sepertinya anakmu ingin pergi, meninggalkanmu, dan takkan pernah ingin kembali.

            Dadamu sesak, ombak di dadamu semakin bergemuruh. Air matamu tak dapat lagi dibendung, lantas jatuh membasahi kedua pipimu. Kamu sudah tak sanggup hidup seperti sendiri, sekarang kamu akan benar-benar hidup sendiri tatkala anakmu lenyap di rumah ini. Sekarang bukan waktunya untuk menangis, tegasmu untuk dirimu sendiri.

            Kamu tak ingin melihat anakmu pergi, kamu harus membunuh kebencian di tubuh anakmu. Tentu, membunuh kebencian berarti membunuh pemilik kebencian itu sendiri. Kamu ingin mengirim anakmu ke surga, atau mengirim anakmu pada suamimu. Dengan segelas racun, harapan itu akan menjadi kenyataan.

            Tak ada ibu yang tega meracuni anak sendiri. Maka dari itu kamu membuat sebuah rencana, begini rencananya: setelah nanti racun itu bekerja dan membuat mulut anakmu berbusa—seperti dulu juga pernah terjadi pada suamimu—dan kamu juga akan meneguk racun itu, sehingga nanti kamu bersama suami dan anakmu bisa berbahagia di surga sana.

            Ketika sudah sampai di surga, kamu bisa mencari suamimu, meminta suamimu untuk menjelaskan pada anakmu, bahwa bukan kamu yang jahat. Ah, kamu sudah tak sabar mewujudkan impian mulia itu. Kamu sangat hati-hati membawa racun itu.

            “Minumlah susu ini, mumpung masih hangat,” suguhmu pada anakmu. Anakmu diam sejenak, memandangmu dengan mata nyalangnya. Kamu melempar senyum, kamu sudah yakin perihal ini yang terbaik. Kamu bersama suami dan anakmu bisa menjalin hidup baru di surga sana.

            Namun tak seperti harapanmu, anakmu malah menghempas segelas racun yang kamu suguhkan. Cangkir berisi racun itu terlepas dari tanganmu—jatuh—dan pecah berkeping-keping di lantai dan racun itu meruah membasahi serta mengotori lantai. Matamu dan mata anakmu saling bersitatap, setidaknya sampai anakmu mengeluarkan satu kalimat. “Aku takkan dibodohi oleh cara lama, dan aku takkan jatuh di jurang yang sama seperti bapak!”[]


Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *