Cerpen

Perihal Naskah Cerpen yang Dibaca Inspektur Konadi

July 27, 2021

Cerpen Nanda Winar Sagita

“Ah, kita memang selalu bisa mengandalkan seorang pembunuh untuk menulis prosa yang indah,” gumam Inspektur Konadi di hadapan kawan-kawannya sesaat setelah membaca tiga naskah cerpen yang dicomotnya dari kamar kos Parmin.

Inspektur Konadi tentu mengutip kalimat Vladimir Nabokov dalam Lolita. Hanya saja dia mengubah subjek jamak ‘kalian’ menjadi ‘kita’. Meskipun seorang polisi, dia suka membaca buku yang berkisah tentang, atau setidaknya menyinggung, pembunuhan. Secara mengesankan, kebiasaan itu pula yang membuatnya berhasil mengungkap kasus kematian Johan Gurdi, seorang bos redaktur koran lokal, yang tewas di dapur rumahnya sendiri karena lehernya tertikam garpu. Parmin, itu nama pembunuhnya. Dia adalah seorang penulis gagal yang berkali-kali mengirim naskah cerpen ke koran tersebut; sebanyak apa dia mengirim, sebanyak itu pula naskahnya ditolak.

Suatu hari, Parmin menghubungi Johan Gurdi yang sudah almarhum itu lewat surel. Dia ingin bertemu langsung, dan mengetahui alasan pasti ihwal kenapa naskahnya selalu ditolak. Dengan rendah hati, Johan Gurdi memenuhi dan menyuruh Parmin untuk datang ke rumahnya. Setiba di sana, Johan Gurdi mengajak Parmin untuk makan siang; dan menjelaskan penilaian subjektifnya atas naskah cerpen yang dikirim Parmin. Sebenarnya dia tidak menghina, hanya saja Parmin tidak terima dengan penjelasan itu. Mereka sempat bersawala sebelum pada akhirnya Parmin murka dan menikam leher Johan Gurdi dengan garpu.

Parmin kabur, dan keesokan harinya berita tentang kematian Johan Gurdi tersebar. Inspektur Konadi ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan itu. Sebenarnya tidak sulit untuk menemukan pelakunya, karena dia hanya melihat surel masuk di ponsel Johan Gurdi. Setelah itu, dia mencari tahu informasi tentang Parmin dan berhasil menangkapnya saat Parmin sedang menulis di kamar kosnya. Pada saat itulah, Inspektur Konadi sempat melihat bejibun kertas di meja kamar itu. Setelah memilah, dia melihat tergeletak tiga naskah cerpen dan mencomotnya begitu saja. Setibanya di kantor, ia baca satu per satu. Inspektur Gurdi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada ide narasi yang ditulis oleh Parmin. Pada saat itulah dia bergumam di hadapan teman-temannya, “Ah, kita memang selalu bisa mengandalkan seorang pembunuh untuk menulis prosa yang indah.”

Bagaimana pun juga, bukan kelanjutan kisah itu yang akan kita bahas. Naskah cerpen Parmin, sebagaimana pun jeleknya menurut penilaian Johan Gurdi, perlu untuk kita tahu. Inspektur Konadi memang bukan ahli sastra, tapi kebanyakan dari kita memang orang awam sastra seperti dia; dan siapa tahu selera kita sama seperti seleranya. Oleh karena itu saya akan membeberkan ringkasan dari tiga naskah cerpen karya Parmin itu, sebagaimana berikut ini:

Memburu Tuan X

Cerpen ini dimulai dengan pengenalan karakter utama. Protagonis itu tanpa nama, tapi disebut sebagai seorang psikopat yang tinggal di Aceh. Dia punya obsesi aneh untuk membunuh korban dengan nama yang berurutan sesuai abjad. Saat cerita dimulai, sudah ada 23 korban yang mati (itu artinya, dia telah membunuh korban dengan nama diawali huruf A sampai W). Meskipun begitu, dia tersendat di korban dengan nama dari huruf X. Lantaran nyaris tidak ada nama orang Indonesia yang bermula dari X, sejauh yang dia tahu hanya almarhum Xarim MS, maka dia menyusun rencana garib. Untuk menemukan korban selanjutnya, dia mengumpulkan uang dengan berbagai cara: mulai dari memungut sedekah di tepi jalan sampai meminjam dari rentenir dengan agunan surat tanah rumahnya sendiri. Niatnya hanya satu, yakni pergi ke Timor Leste. Dia sudah punya target di sana, dan siapa lagi kalau bukan Xanana Gusmao. Singkat cerita, dia berhasil tiba di Dili dan bertemu langsung dengan mantan Perdana Menteri yang populer itu. Namun ketika sedang berbincang, dia baru tahu kalau nama asli Xanana Gusmao diawali dengan huruf K. Dia sudah telanjur tiba di Timor Leste, dan sudah berhadapan langsung dengan targetnya. Sialnya, dia terjebak dilema antara membunuh Xanana Gusmao atau tidak. Sudah, hanya sampai di situ saja akhirnya.

Pertemuan dengan Salman Rushdie

Cerpen ini punya tokoh utama, lagi-lagi tanpa nama, seorang ekstremis Islam yang terobsesi untuk membunuh Salman Rushdie. Meskipun harga kepala si penulis mahsyur itu cukup untuk membuatnya kaya seumur hidup, tapi dia tidak tergoda oleh uang. Niatnya tulus untuk membunuh si penista agama itu, demi mendapatkan pahala syahid. Dengan posisinya yang sekarang, dia tahu mustahil untuk bertemu dengan Salman Rushdie. Jadi dia berjuang dari nol untuk menjadi seorang penulis terkenal: membaca buku-buku sastra dan mengarang novel dengan mutu adiluhung. Beruntung, dia benar-benar menjadi seorang penulis terkenal yang karyanya diterjemahkan ke berbagai macam bahasa dan laris di seantero dunia. Atas prestasi itu, dia diundang untuk hadir ke acara festival sastra di London. Kebetulan target pembunuhannya juga ada di sana. Nah, pada saat itulah dia terjebak dilema antara membunuh Salman Rushdie atau tidak. Dia bimbang menimbang antara mendapatkan pahala syahid seperti yang diimpikannya atau melanjutkan popularitasnya sebagai seorang penulis. Sudah, hanya sampai di situ saja akhirnya.

Kronik Kematian Seorang Redaktur Koran

Cerpen ini tak perlu dijelaskan lebih lanjut lagi, karena kisahnya sama persis seperti alur kematian Johan Gurdi di tangan Parmin. Selain itu, nama tokohnya juga tidak disamarkan. Hanya saja bagian akhirnya sengaja dibuat berbeda. Setelah selesai bersawala dengan Johan Gurdi, Parmin memang murka dan siap menikam dengan garpu yang sudah berada di genggamannya. Namun dia bimbang memilih antara membunuh Johan Gurdi atau memaksanya untuk memuat salah satu cerpennya yang baru selesai ditulis di koran lokal itu. Tentu saja cerpen yang dimaksud adalah Membunuh Tuan X dan Pertemuan dengan Salman Rushdie.***


Nanda Winar Sagita, seorang penulis lepas dan guru sejarah. Karyanya berupa esai dan cerpen telah dimuat di berbagai media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *