Cerpen

Perkutut di Pangkuan Laksmita

November 24, 2020

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Menukik dari dahan pohon randu alas, seekor perkutut terbang rendah, hinggap di pangkuan Laksmita. Perempuan yang hamil muda itu tengah duduk di pendapa, membiarkan perkutut itu bertengger di pangkuannya. Ia tak ingin menangkap perkutut itu dan mengurungnya dalam sangkar. Telah berhari-hari Laksmita mengamati perkutut itu. Jinak, perkutut itu senantiasa berkeliaran di sekitar telapak kaki Laksmita. Tidak beranjak ke mana-mana.

Baru pagi ini perkutut hinggap di pangkuan Laksmita. Burung itu seperti ingin ditangkap dan dipelihara dalam sangkar. Tetapi Laksmita tak ingin menangkapnya. Ia ingin mendengar kicau perkutut itu dari dahan pepohonan. Tenang, tanpa rasa takut,  perkutut itu bertengger di pangkuan Laksmita. Seperti  sudah sangat mengenal Laksmita, burung itu bermanja-manja di pangkuan. Tiap pagi Laksmita menggenggam ketan hitam dan jewawut, ditebar di pelataran, segera dipatuki perkutut itu, pelan, nikmat, dan tak tergesa-gesa. Perkutut  itu menjadi bagian hidup Laksmita.

Broto memperhatikan perkutut itu dan beralih menatap perangai istrinya yang penuh kesabaran.

“Sepertinya dulu perkutut ini tak pernah hinggap di pelataran?” Broto menggugat. Ia ingat, ketika gadis dulu, Laksmita seringkali berada di tepi sendang, usai mencuci dan mandi. Tetapi perkutut itu tak pernah menampakkan diri. Yang hinggap di antara dahan pepohonan randu alas adalah burung kacer. Broto pernah mengikuti terbang burung kacer dari rumah orangtuanya ke pelataran rumah Laksmita—yang mengantarkannya bertemu dengan gadis itu, dan kemudian menikahinya.

“Perkutut ini sudah lama datang padaku melalui mimpi,” kata Laksmita, seperti ingin menelan kembali kata-katanya.

“Aku juga telah lama datang dalam mimpimu?”

Laksmita menatap teduh Broto. “Engkau datang dalam mimpiku, empat puluh hari menjelang pertemuan kita.”

“Kenapa kau tak pernah cerita?”

“Aku tak ingin mendahului kehendak Yang Mencipta Mimpi.”

“Tangkap saja perkutut itu! Ia ingin kaupelihara.”

Memenuhi permintaan suaminya, perkutut  itu ditangkap Laksmita dan dimasukkan ke dalam sangkar. Perkutut  itu sangat jinak, berada di sangkar tanpa merasa asing. Mematuk jewawut dan ketan hitam, minum sesekali. Broto memang mempunyai pekerjaan baru, merawat perkutut itu tiap pagi. Membersihkan sangkar. Mengganti jewawut dan ketan hitam. Mengganti air yang keruh dan mengering. Ia tak pernah menggerutu. Ia sadar, perkutut itu telah lama hadir dalam mimpi dan kehidupan Laksmita, istrinya.

Laksmita sering memandangi perkutut itu, terutama ketika sedang berkicau. Ia seperti terhibur, dan tertegun mencari makna kicau burung itu.

“Apa yang kaupahami dari kicau perkutut itu?” desak Broto pada Laksmita yang kini sedang mengandung.

“Perkutut itu bercerita, bayi yang kukandung ini laki-laki.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ia berkisah melalui kicauannya.”

Broto tercengang, dan bertanya-tanya dalam hati: Laksmita bisa memaknai kicau perkutut itu? Ia baru sadar sekarang, bila istrinya bisa menangkap percakapan perkutut melalui kicauannya. Ia juga bisa memahami suatu peristiwa melalui mimpinya. Lalu, kejadian apa lagi yang akan diketahuinya melalui mimpi dan kicau perkutut itu?

***

Dipendapa Broto senantiasa menyendiri, membayangkan gerakan-gerakan tari yang mesti diciptakannya. Selalu saja Broto menemukan berbagai gerak tarian “Sang Hyang Memedi Sawah” yang melibatkan tokoh petani, burung-burung, memedi sawah, dan Dewi Sri. Ia menciptakan tarian jenaka, gerakan-gerakan yang diperkirakan membangkitkan tawa dan kadang senyum terpendam. Broto selalu menemukan gerakan-gerakan tari, dan membayangkan burung-burung pipit di hamparan padi menguning, terbang-hinggap, menghindari memedi sawah.

Perkutut itu selalu berkicau, bila  Broto terdiam, memikirkan gerakan tari yang sedang ia ciptakan. Selalu muncul gerakan baru setelah kicau perkutut itu. Hari ini Broto berpuasa, seharian ia tak melihat perkutut itu makan dan minum. Benarkah perkutut itu ikut juga puasa? Sore hari,  Broto berbuka, dan ia melihat perkutut itu mulai makan dan minum. Broto melihat, ketika mematuk-matuk jewawut, sepasang mata perkutut itu tampak tajam. Tetapi tidak menakutkan. Ditenggelamkan paruhnya yang panjang dan melengkung tipis itu pada tempat air, minum. Terlihat perkutut itu berkicau sambil mengangguk-anggukkan kepala yang kecil, dengan ekor panjang yang berjingkat-jingkat. Ki Broto menemukan gerakan-gerakan tari, dari seluruh penampilan dan perilaku perkutut itu. Selalu saja ia menemukan gerakan tari yang tak pernah disadarinya, tak pernah direncanakan dengan kesadarannya. Ia menemukan gerakan yang tak sadar dari seluruh pengamatan dan suara kicau perkutut itu.

Menjelang pagi Ki Broto selesai menemukan gerak tari “Sang Hyang Memedi Sawah” yang mengusir wabah burung-burung pipit dan hama sawah. Ia didampingi beberapa orang penabuh lesung, yang mencari irama tetabuhan sesuai dengan gerakan-gerakan tari Broto. Gerakan-gerakannya kadang meloncat, menghardik burung-burung, menakut-nakuti serupa gerakan memedi.

Tarian itu dengan pakaian dari akar pohon, jerami, dan daun-daun pisang kering. Tarian yang diciptakan Broto diikuti penari-penari pedepokan. Begitu juga ketika pergelaran tari “Sang Hyang Memedi Sawah” diperagakan di pedepokan secara kolosal, dengan begitu banyak tamu berdatangan, memuji-muji Broto. Tetapi Broto tetap saja tegang, seperti masih ingin menyempurnakan gerak tari itu.

***

Selamaperkutut  itu berada di sangkar pendapa rumah Broto, di halaman sekitar pedepokan terdengar kicau perkutut bersahut-sahutan. Mereka berkicau bersamaan, menjelang fajar dini hari. Kicauan itu merayakan rekah matahari. Kadang mereka berkicau bersamaan, dari sudut-sudut kebun, di dahan-dahan pohon, terlindung lebat dedaunan. Menjelang siang perkutut-perkutut itu seperti lenyap meninggalkan kebun, kembali ke hutan lereng Merapi. Senyap. Tetapi tidak. Perkutut-perkutut itu terbang bersamaan, hinggap di pelataran, di sekitar sangkar perkutut sanggabuwana di pendapa rumah Broto. Mereka seperti menghormati sang pangeran putra mahkota, dan setelah itu kembali terbang ke dahan-dahan pohon, lenyap dari pandangan. Dari dahan-dahan pohon itu tak ada lagi suara kicau perkutut. Broto yang sedang melatih tari untuk pergelaran di sebuah hotel, tak lagi memperhatikan perilaku perkutut itu. Ia sibuk. Lagipula, ia lebih memikirkan istrinya, menanti kelahiran anak pertama. Sudah waktunya Laksmita melahirkan. 

***   

Taklagi memperhatikan perkutut, Broto mesti mengantar Laksmita ke rumah sakit. Lepas isya, Laksmita merasakan perutnya mulas, menahan rintihan sepanjang malam. Broto menahan kecemasan, gugup, meski ia mencoba menenangkan diri. Lewat tengah malam ia merasa tenteram, setelah mendengar suara bayi, kencang, dari ruang bersalin. Ia lebih tenteram lagi ketika perawat mempertunjukkan padanya bayi lelaki dengan mata terpejam, mulut mungil, rambut tipis.

Ketika  Broto mengantar Laksmita dan bayi lelakinya pulang ke pedepokan, semua orang menyambut bayi lelaki yang tampan. Mereka juga lebih takjub memandangi wajah Laksmita yang lebih bercahaya. Laksmita belum melihat perkututnya sepulang dari rumah sakit.

Menjelang matahari rekah, Laksmita menggendong bayinya ke pendapa, berdiri di bawah kurungan perkutut. Tengadah. Tak ada lagi perkutut itu dalam sangkar. Pintu sangkar setengah terbuka. Ia lepas. Laksmita turun ke pelataran. Tak terdengar lagi kicau perkutut yang biasanya bertengger di dahan-dahan pohon. Laksmita merasa kehilangan sasmita, mimpi-mimpi, dan kemampuannya melihat suatu peristiwa yang belum terjadi. Tapi tiap kali memandang wajah bayinya, Laksmita merasa tenteram. Ia kini memiliki masa depan: anak lelaki yang akan menjaganya.***

                                                         Pandana Merdeka, November 2020


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen yang segera terbit adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *