Cerpen

Perubahan Sudut Pandang

July 6, 2021

Cerpen karya Erwin Setia

Kadang perlu untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda. Beberapa hari ini situasi lingkunganku memburuk dan aku merasa tidak lagi sekadar perlu—tapi sangat perlu—untuk sepenuhnya mengubah sudut pandang. Ketika kusaksikan mayat demi mayat lelaki-lelaki muda tak henti-hentinya digotong oleh warga setiap harinya, aku berpikir itulah yang terbaik buat mereka. Setidaknya, anak-anak muda itu tidak akan menemui lagi kesialan-kesialan hidup di hari depan dan tidak akan menjumpai suasana apokaliptik ketika pada akhirnya hari kiamat tiba—itu kalau mereka percaya soal hari kiamat. Selain soal mayat-mayat lelaki muda, aku juga melihat hal-hal lain sebangsanya dengan kacamata baru: korupsi, nepotisme, kuasa oligarki, hutan terbakar, penjeblosan seseorang ke dalam penjara secara semena-mena, perburuan hewan-hewan langka, pencemaran laut, konflik sektarian, pertengkaran rumah tangga, kemiskinan, dan seterusnya—terlalu banyak jika kusebutkan semuanya. Aku tidak lagi berpikir semua itu adalah serentetan masalah yang harus segera dicari solusinya. Kini aku menganggap semua itu sebagai kerikil atau daun-daun kotor di atas hamparan kehidupan yang hijau dan luas yang tak harus buru-buru disingkirkan. Biarlah angin membawa mereka, biarlah kaki-kaki bocah melempar mereka, biarlah mereka pergi dengan sendirinya.

Malam itu istriku marah-marah ketika aku mengatakan soal perubahan sudut pandang.

“Kau sudah menyerah, Kak? Selemah itukah dirimu?”

“Bukan seperti itu maksudku, Dik. Kau harus mengerti.”

“Mengerti apa? Mengerti bahwa setelah segala usaha yang kita lakukan, kita harus menyerah dengan mudah. Begitu maksudmu, Kak?”

“Aku hanya ingin hidup kita menjadi sedikit lebih baik.”

“Semua orang juga maunya begitu, Kak. Tapi bukan dengan menyerah.”

“Aku tidak menyerah.”

“Lalu apa namanya, Kak? Putus asa?”

“Ayolah, dengar dulu penjelasanku.”

Suara letusan terdengar di luar rumah. Berkali-kali.

“Aku tidak butuh penjelasan Kakak. Cukuplah Kakak dengar suara-suara di luar itu. Apa itu kurang jelas?”

Ia meninggalkanku sebelum aku mengatakan semuanya. Ia buru-buru menuju kamarnya. Kudengar secara samar ia tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Cara bicaranya terdengar seperti orang yang sedang membicarakan suatu hal genting. Dan memang begitulah yang sedang terjadi. Sebuah ledakan—oh, bukan hanya satu ledakan, tapi banyak ledakan—pada tengah malam. Apa lagi kalau bukan suatu pertanda hal genting sedang terjadi?

Aku mengenakan jaket dan keluar rumah. Di seberang rumahku, di suatu warung kopi yang temaram empat orang berkumpul. Mereka berdiri tegak dan memandangi satu arah yang sama, di mana langit malam tampak menyala dan berasap.

“Sudah keberapa kalinya ini?” tanya Agea.

“Aku bahkan tidak sempat menghitungnya,” ujar Fai.

“Sudah tidak penting lagi menghitung-hitung ledakan yang terjadi. Sama tidak pentingnya dengan menghitung berapa orang yang sudah mati,” timpal Andro dengan wajah geram.

Seorang lagi, Ikal, tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengurut-urut hidungnya seolah dengan begitu keadaan bisa membaik.

Saat aku bergabung, mereka bergeming. Mereka hanya melihatku sekilas lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah langit yang bersinar terang. Ledakan terdengar sekali lagi ketika istriku keluar dari rumah dan berteriak memanggilku.

Aku kembali menuju rumah. Sama seperti saat aku datang, ketika aku pergi pun orang-orang di warung kopi tidak menghiraukanku.

“Bahim mati, Kak.”

Istriku menutup mukanya selepas mengatakan itu. Ia tidak bicara apa-apa lagi. Ia menelusupkan wajahnya ke bahuku. Dan menangis. Ketika itu kami masih berada di halaman. Orang-orang di warung kopi tampak memperhatikan kami. Barangkali jika tadi aku datang sambil menangis, mereka juga bakal memperhatikanku. Pada zaman ini, kau memang harus berlagak berbeda untuk dapat perhatian—menangis terisak-isak atau jungkir balik atau menjanjikan keselamatan, misalnya.

Kuusap-usap punggung dan leher istriku. Kubisikkan padanya semacam petuah. Kubilang bahwa kematian Bahim mungkin adalah yang terbaik untuknya. Seorang pahlawan atau orang baik biasanya memang tak berumur panjang. Kuberi ia perumpamaan perihal taman penuh bunga yang didatangi oleh seorang perempuan. Apabila perempuan itu diberi keleluasaan untuk memetik bunga mana saja, menurutmu bunga macam apa yang akan ia petik terlebih dahulu? Istriku tidak menjawab. “Tentu bunga-bunga yang paling indah,” kataku kemudian. Ia tetap tidak bereaksi, tampak larut dalam kesedihannya. Kupikir aku salah mengatakan itu pada saat begini, tapi bukan berarti apa yang kuucapkan salah. Kenyataannya memang begitu, bunga-bunga indah dan orang-orang baik kebanyakan berumur pendek.

Istriku tidak menginterupsi atau memprotes satu pun kata-kataku. Biasanya ia selalu punya amunisi untuk mempertanyakan atau menyerang balik apa-apa yang kuucapkan. Barangkali ia terlalu sedih untuk melakukan itu. Bahim, adik satu-satunya, seorang lelaki muda yang belum genap dua puluh tahun, baru saja meninggal dunia. Tentu saja itu kabar paling buruk yang menimpanya dan juga menimpaku beberapa hari ini. Sudah puluhan atau bahkan ratusan orang yang mati, tapi ketika yang mati itu adalah anggota keluargamu sendiri, tentu kau akan merasakan kesedihan sekaligus kemarahan yang berbeda. Yang lebih meluap-luap dan membuat gumpalan dendam di dadamu semakin membesar.

Aku menuntun istriku ke dalam rumah. Setibanya di kamar, ia berkata, “Besok kita harus ke pusat, Kak.” Pusat yang ia maksud adalah pusat kericuhan terjadi. Sebuah ruas jalan lebar dekat kantor pemerintahan yang belakangan tak lagi dilintasi para pengendara. Tempat di mana massa demonstran dan polisi bentrok selama berhari-hari. Massa demonstran tak mau mundur sebelum mereka bisa menemui presiden dan mengungkapkan aspirasi mereka secara terang-terangan. Mereka menuntut bermacam-macam, mulai dari penegakan hukum, revisi atas undang-undang bermasalah, hingga menuntut agar kawan-kawan mereka yang tak bersalah dibebaskan dan dikeluarkan dari tahanan. Namun, bukannya memenuhi tuntutan itu, suatu hari polisi malah melemparkan sebuah karung ke kerumunan massa. Sebuah karung berisi mayat seorang kawan mereka yang penuh luka lebam dan sudah berbau busuk. Sejak itulah bentrokan dan kericuhan semakin menjadi-jadi dan tiada habisnya.

“Kita tidak boleh tergesa-gesa, Dik,” kataku dengan cemas. Pergi ke tempat sekumpulan hewan buas tentu bukan keputusan yang bijak.

“Kakak punya pistol?”

“Kondisi belum kondusif, Dik. Kita tidak boleh ke mana-mana dulu.”

“Aku tanya, Kakak punya pistol atau tidak?”

Aku tidak menjawab. Istriku yang sebelumnya tampak lemah dan berduka, kini bergerak cepat dan mengacak-acak lemariku. Ia membuka laci-laci. Pada suatu laci, ia menemukan pistol yang belum kugunakan sejak aku membelinya seminggu lalu.

“Buat apa pistol ini kalau tidak digunakan, Kak?”

“Tapi, Dik.”

“Apa Kakak takut, hah? Apa Kakak sudah lupa dengan teman-teman Kakak yang tewas dibunuh para aparat biadab itu?”

Aku tak mampu berkata-kata. Ia berjalan cepat menuju pintu.

“Aku ingin membunuh semua polisi itu, Kak.”

Ia melangkah gesit. Diriku masih linglung dan dipenuhi rasa bersalah. Andro masuk rumahku. “Hei, Gustam, istrimu pergi menuju pusat, kenapa kau diam saja?”

Aku tersadar dari kebodohanku dan segera berlari ke luar rumah. Aku dan Andro mengejar-ngejar istriku. Tiga orang yang sebelumnya ada di warung kopi juga sudah berlari di depan, mengejar istriku. Istriku berlari sangat cepat. Pada saat itu aku baru ingat bahwa istriku pernah menjadi atlet taekwondo semasa mudanya dan ia biasa latihan lari jauh. Larinya sangat cepat. Letak pusat tidak begitu jauh dari permukiman. Hanya perlu waktu sepuluh menit jika berkendara dengan kecepatan rata-rata. Dan mungkin selama itu jugalah waktu yang diperlukan jika pergi ke sana dengan cara berlari.

Aku dan Andro masih terus berlari. Namun istriku memanjat tembok pembatas yang cukup tinggi dengan sigap, ia meloncat dari pembatas yang sekaligus berguna sebagai jalan pintas. Agea, Fai, dan Ikal tidak bisa memanjat tembok pembatas itu. Begitu juga Andro. Mereka menyerah dan menyalah-nyalahiku. Aku berusaha memanjat tembok itu. Dan setelah berusaha keras seolah sedang memanjat tebing paling terjal sedunia, aku akhirnya bisa melalui tembok itu. Istriku sudah tidak terjangkau mataku. Ketika akhirnya aku tiba di pusat, kudengar suara tembakan meletus tak habis-habis. Orang-orang baku tembak seperti sedang terjadi perang saja. Dan mungkin ini memang perang. Perang saudara yang sama sekali tak diperlukan. Dari suatu tempat yang kupikir cukup aman untuk berlindung, aku melihat seorang perempuan menembak-nembak dengan lihai. Perempuan itu berdiri di garda depan. Perempuan itu adalah istriku. Beberapa polisi ambruk terkena tembakannya.

Istriku terlihat seperti jagoan dalam film-film aksi. Perempuan tanpa rasa takut terhadap maut yang hanya memiliki keinginan untuk menuntaskan dendam. Ia terus menembak dan menjatuhkan satu demi satu polisi yang tak bertameng. Aku tak menyangka selama ini aku menikahi seorang perempuan jagoan. Namun kemulusan aksi istriku tak bertahan lama. Satu tembakan dari seorang polisi mengenai tubuhnya. Ia terjatuh dan pistol di genggamannya terlepas. Melihat itu, api di dadaku menyala. Aku langsung lari dari tempat persembunyian. Tanpa sedikitpun gentar, aku menuju tempat jasad istriku berada. Kupeluk dia sesaat. Kuperiksa detak jantungnya. Sudah berhenti. Lalu kuambil pistol yang tergeletak dan kutembak orang-orang berseragam di hadapanku. Aku tidak tahu pada tembakan keberapa ketika kusadari peluru pistolku sudah tandas. Aku tetap mengacung-acungkan dan menarik pemacu pistol kendati tak ada yang keluar dari moncong pistol selain udara hampa dan lenguh sepucuk pistol yang tak berdaya.

Ketika akhirnya kulemparkan pistol itu jauh-jauh dan berlari menerabas ke kerumunan polisi, aku sama sekali tak lagi memikirkan soal perubahan sudut pandang. Satu-satunya yang ada di pikiranku adalah keinginan untuk mengirim semua aparat bersenjata ke neraka. Aku tidak lagi memikirkan dunia ideal atau hikmah suatu kejadian atau omong-kosong semacamnya. Bahkan, saat sebuah peluru mencelos melewati dada kiriku, merambatkan panas yang aneh dan mengilukan, aku membayangkan berada di suatu tempat di mana aku menjadi seorang raja yang tengah menghukum para pembunuh berseragam resmi dengan tusukan pedang, sula, jerat, berondongan tembakan, dan segala macam alat yang pernah ditemukan manusia untuk membunuh manusia lainnya.**

Tambun Selatan, 21 Oktober 2019


Erwin Setia, lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita akan terbit dalam waktu dekat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *