Cerpen

Pesan Rahasia dari Virus AUX-20-Blue

April 5, 2022

Cerpen Fina Lanahdiana

“Sekali kita masuk ke dalam sesuatu, maka mustahil untuk bisa benar-benar keluar darinya.” Itu merupakan pesan pembuka dari sebuah suara yang diputar berulang-ulang oleh Qeff di waktu luangnya menikmati kesendirian, di ruang pribadi yang didesain minimalis dengan suasana senyaman mungkin. Perpaduan ruang kerja sekaligus tempat bersantai.

Ada sebuah kotak aquarium berisi ikan-ikan yang bisa dikeluarkan dan disembunyikan secara otomatis, seolah-olah menerobos ke dalam dinding. Ada pohon-pohon kecil berjajar di pot yang berada di dekat tumpukan buku-buku yang juga bisa ditata sedemikian rapi menggunakan sebuah tombol sentuh, bisa dibayangkan seperti sebuah mesin dispenser berisi buku-buku yang bisa diatur ulang apakah akan menatanya sesuai abjad judul, nama penulis, warna kover, atau suka-suka pemiliknya. Di sebelahnya, ada sebuah monitor berukuran 21 inci. Ruangan itu sepenuhnya kaca, agar bisa memenuhi kesan berada di tempat yang terbuka. Sementara di hadapannya, sebuah jendela secara suka rela menjadi tempat pertukaran cahaya dan warna.

Sekilas tampak biasa saja, tapi sebenarnya ruangan itu bisa ditenggelamkan ke dalam tanah yang di permukaannya ditumbuhi rumput hijau segar, menyenangkan mata siapa saja yang melihatnya. Itu dilakukannya untuk memberi kesan bahwa dirinya sedang pergi bekerja dengan suasana yang nyaman.

Dunia memang banyak berubah setelah virus AUX-20-Blue menyerang di hampir seluruh negara di dunia, sehingga tercatat sebagai pandemi. Gejalanya tidak jauh berbeda dari gejala flu, hanya saja lebih menular dan lebih mematikan. Memang ada sebagian penyintas yang bisa melewatinya hanya dengan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali. Tetapi seringkali bisa sangat berbayaha bagi pihak-pihak yang memiliki kondisi kesehatan rentan. Bagi yang memiliki gejala cukup parah, paru-paru menjadi target serangan virus AUX-20-Blue ini, sehingga penderita bisa mengalami sesak napas yang bisa berakibat fatal.

Qeff termasuk penyintas yang bertahan, tapi dunianya seolah menjadi hampa. Ia kehilangan ayah dan ibunya akibat virus AUX-20-Blue yang tidak disadarinya sudah menyerang tubuhnya tetapi tidak menunjukkan gejala yang berarti. Segalanya mungkin memang sudah berlalu, tetapi sejarah buruk di dalam hidupnya itu tidak pernah bisa ia lupakan.

“Aku sungguh menyesal karena tidak bersedia mengikuti aturan yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Aku pergi keluar rumah sesukaku, dan segalanya terjadi begitu saja,” ujar Qeff kepada Noe, seorang terapis yang menangani dirinya.

“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan,” balas Noe.

“Ya, aku tahu. Tapi seharusnya ini semua tidak akan terjadi jika aku …”

“Tidak apa, menangislah. Sebentar, biar kuambilkan minum.”

“Terima kasih.”

Air mata lelaki itu memang sudah tidak bisa ditahan lagi. Tak peduli bahwa sejak kecil ia selalu diajari bahwa tidak seharusnya lelaki menangis. Ruangan konsultasi itu seketika menjadi begitu riuh oleh suara tangisan.

“Sampai kapan? Sampai kapan aku akan seperti ini?”

“Ini, minumlah.”

Noe menepuk-nepuk punggung Qeff untuk menenangkannya, sementara Qeff menerima uluran gelas berisi air putih yang diberikan Noe.

“Sudah cukup tenang sekarang?”

Qeff mengangguk beberapa kali.

Begitulah, Qeff seolah tidak bisa melepaskan diri dari badai pandemi yang meskipun telah berlalu, tetapi tidak mengubah cita rasa gelapnya sedikit pun. Bahkan untuk waktu-waktu tertentu, emosinya bisa naik-turun seperti roller coaster yang naik dengan perlahan, lalu turun dengan sangat cepat yang tak jarang membuatnya terengah-engah.

Ia juga sering dibayangi mimpi buruk didatangi ayah dan ibunya yang muncul dengan raut wajah sedih dan tak henti-hentinya menyalahkannya.

“Kukira segalanya akan berlalu begitu saja jika semuanya sudah terlewati. Ya, kukira. Tapi mimpi buruk selalu datang, menyusup ke dalam tidurku seolah ingin mencuri setiap kebahagian yang tersisa, yang kumiliki.”

“Tidak seharusnya kau menyalahkan dirimu terus seperti itu. Setiap hal yang berlalu memang tidak bisa diubah, tapi selalu ada sesuatu yang bisa diambil darinya, kan?”

“Ya, mungkin kau benar.”

***

Qeff memang mengubah pandangannya mengenai pekerjaan setelah pandemi berlangsung. Ia telanjur nyaman dengan konsep ‘bekerja dari rumah’ yang mau-tidak mau dilakukan ketika pandemi berlangsung. Bidang teknologi juga mengalami percepatan yang tidak terduga, karena saat segala hal tidak bisa lagi dilakukan dengan pertemuan, maka yang berperan paling besar di dalamnya adalah teknologi. Kadang-kadang Qeff berpikir dengan disertai kecemasan, apakah kelak manusia benar-benar akan digantikan oleh mesin? Terlebih teknologi AI saat ini sudah sangat melampaui yang tidak pernah dipikirkan di masa lalu.

“Itu hanya ketakutanmu saja. Bagaimanapun, manusia menciptakan teknologi. Artinya, manusia masih lebih berdaya ketimbang mesin.” ujar Joe, temannya.

“Tapi kadang-kadang manusia kalah cepat dengan mesin.”

“Memang. Itu karena manusia punya rasa lelah, sedangkan mesin tidak. Maksudku, mesin tidak benar-benar merasa lelah, jika sudah saatnya rusak, ia hanya akan rusak. Seluruh hidupnya dikendalikan program. Sedangkan kau tahu, manusia punya kehendak bebas.”

Hal itu membuat segala hal menjadi mungkin dilakukan dengan cara yang lebih simpel dan lebih efisien. Kantor menjadi tidak harus sebuah ruangan luas yang berisi banyak orang. Teknologi juga mampu melipat jarak yang semula sulit untuk ditempuh menjadi mungkin  melalui udara. Setiap hal dapat diringkas sedemikian rupa sehingga akan bisa memotong perencanaan anggaran yang tentu saja tidak sedikit, sehingga pada akhirnya anggaran yang tersisa itu bisa dialihkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain yang lebih mendesak.

Berbelanja pun begitu. Setiap toko yang diinginkan seolah-olah telah menawarkan diri dalam genggaman tangan. Tidak perlu keluar rumah untuk membeli kebutuhan yang dikehendaki. Hanya perlu duduk dan menyentuh layar ponsel, memilih barang yang diinginkan, membayarnya, lantas barang itu akan datang mengetuk pintu rumah tanpa perlu repot-repot untuk menghabiskan tenaga.

“Benar-benar hidup seperti mesin yang serba otomatis …”

“Dan memudahkan segala kerepotanmu, kan?”

“Ya, dan kurang cahaya matahari.”

“Ayolah, kita bisa pergi keluar rumah sebentar, berlari kecil setiap pagi. Menyapa kucing dan anjing-anjing …”

“Kau benar …”

Bagi Qeff, berhasil melewati pandemi sudah lebih dari segalanya. Rasanya tak ada hal yang lebih berharga daripada itu, karena ia ingat pandemi mumbuat hidup menjadi seolah begitu sulit untuk diperjuangkan. Negara-negara di hampir seluruh dunia seperti kehilangan kendali; rumah sakit yang penuh sesak, pasien yang terlantar, alat-alat kesehatan yang dijual dengan harga tak masuk akal, anak-anak kos yang diusir ketika terinfeksi virus AUX-20-Blue, jenazah yang kesepian karena tidak boleh dijenguk oleh siapa pun dan orang-orang yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan yang kolaps dan tidak sanggup lagi membayar gaji karyawan.

***

Suatu malam Qeff bermimpi, ia terlibat pada sebuah survival game. Peserta dipilih oleh sistem, dan ia salah satunya, dan tak bisa lari dari itu. Maka selanjutnya ia mengikuti permainan yang sudah disiapkan. Ia dan pemain lain dimasukkan ke dalam sebuah mesin raksasa yang mengingatkannya pada film Charlie and The Chocolate Factory. Sebenarnya permainannya cukup aneh, karena tiba-tiba ia dan pemain lain telah berada di arena bermain roller coaster. Posisi duduknya juga berbeda dengan pemain lain, tetapi sungguh tidak terduga, itu bisa menguntungkannya. Seharusnya ia lolos ke stage selanjutnya, tapi ternyata yang terjadi tidak semudah kelihatannya. Berkali-kali ketika ia memasuki lift untuk naik level, ia ditolak dengan suara peringatan, ‘nomor ini belum diizinkan untuk masuk, silakan kembali ke tempat!’

Tetapi Qeff memang sungguh beruntung, karena ketika itu ada seseorang yang menyelamatkannya, membawanya masuk ke dalam lift melewati ‘pintu’ lain. Setelahnya ia terbangun dengan badan yang seluruhnya terasa remuk, seolah apa yang baru saja dialaminya bukanlah mimpi. Mimpi itu memang tidak benar-benar di luar kesadarannya, karena ia masih mendengar suara televisi ketika tidur, dan di waktu yang sama suara itu seolah masuk ke dalam mimpi sebagai backsound.

Qeff tidak terlalu tahu apa arti mimpi itu, tetapi setidaknya ada 3 hal yang ia garis bawahi: 1. Setiap hal memerlukan proses, sebaiknya tidak melewatkan proses apapun yang terjadi untuk bisa mencapai tujuan, 2. Bantuan orang lain bukanlah sebuah kesalahan, 3. Daripada menolak masalah, lebih penting untuk belajar menerimanya.

Bagaimana ia bisa menangkap pesan-pesan itu? Ia tidak tahu. Yang ia rasakan bahwa ia seolah-olah membaca di dalam pikirannya, yang seolah buku yang sedang terbuka.

Noe bilang, apa yang dibacanya dari mimpi itu bisa jadi merupakan sesuatu yang benar, yang berasal dari kesadaran Qeff yang lain.

“Menurut Freud, mimpi adalah pikiran bawah sadar yang bocor dan gagal mengendalikan diri …”

“Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Bagus, karena kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Apakah ayah dan ibumu masih sering mengunjungimu di dalam mimpi?”

“Kurasa tidak sesering dulu. Tapi masih. Dan agaknya … kalau aku tak salah ingat, mereka mulai tersenyum kepadaku.”

Kali ini Noe tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia berkali-kali menepuk punggung Qeff.***


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal. Beberapa tulisannya bermukim di www.filadina.my.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.