Buku Resensi

Pisau Bedah di Ruang Informasi Serbamedia

November 10, 2020

Oleh Dwi Alfian Bahri

Saat hidup di era informasi serbamedia, justru kebenaran informasi tidak lagi dipertanyakan. Itu karena yang menjadi kebenaran adalah yang dipercayai. Dengan banyaknya informasi di berbagai media, terutama media sosial, orang tidak lagi bisa mengingat dari  mana informasi tersebut berasal, apa isinya, atau apa distingsinya dengan informasi-informasi lain. Permasalahan inilah yang coba dikumpulkan oleh Wening Udasmoro (editor) dalam buku Gerak Kuasa (KPG, 2020).

Meminjam kacamata Deleuze, masyarakat era informasi serbamedia sebenarnya sedang mengidap skizofrenik. Sebuah masyarakat yang meletakkan yang nyata dan semu pada posisi yang sama. Kondisi ini menjadikan individu mengenggam berbagai kebenaran sekaligus, sehingga ia berbasis pada absurditas. Ini sebagaimana paradoks logika yang berkembang di tengah masyarakat: ingin bebas makan tetapi tubuh tetap langsing, ingin tubuh yang sehat tetapi tetap begadang, dan seterusnya.  Inilah fenomena yang terjadi dewasa ini.

Melalui buku ini, fenomena absurditas dan temporalitas masyarakat informasi serbamedia coba direkam, diulas, dibedah, diuraikan, dan ditawarkan. Buku ini semacam gudang perbekalan untuk mengarungi ruang-ruang informasi serbamedia yang banal tersebut. Persis seperti pendaki yang harus dan wajib menyiapkan perlengkapan safety sebelum menaklukkan medan terjal. Apa yang teruraikan dan tertawarkan dalam Gerak Kuasa inilah alat safety tersebut.

Semua itu coba diurai dengan sederhana, komprehensif, berdasar, dan terarah. Dimulai dari pemahaman mengenai culture studies, buku ini sebenarnya mengajak masyarakat informasi serbamedia untuk mulai berpikir secara mendasar, mengakar, kritis, dan mengakui-hargai perbedaan. Sebab, sekarang ini masyarakat memang sedang krisis atas hal itu.

Selain itu, culture studies sendiri merupakan suatu body of knowledge yang sangat berpotensi menjadi agen penting proyek dekolonasi produksi pengetahuan selain karena sifatnya yang politis; secara metodelogis ia melengkapi diri dengan conjunctural analysis, yang bisa membantu menghindarkan diri dari jebakan-jebakan esensialisme.

Lebih lanjut lagi, buku ini merupakan usaha untuk menjelaskan teori-teori yang banyak dipakai dalam kajian budaya dan media. Kekuatan utama buku ini adalah dihadirkannya konsep-konsep dari berbagai teoritikus kajian budaya dan media yang belum banyak disentuh dalam perdebatan akademis di Indonesia. Mulai pemikiran Hommy Babha, Stuart Hall, Julia Kristeva, Slavoj Zizek, Paul Gilroy, Christian Mets, Andy Benner, Gilles Deleuze, Angela McRobbie, Paul Virilio, Henri Lefebvre, dan Pierre Bourdieu, semua coba dihadirkan untuk mengulas, mengurai, dan mengkritisi fenomena masyarakat informasi serbamedia. Lebih tepatnya, buku ini semacam pisau bedah untuk fenomena informasi serbamedia.

Secara keseluruhan, buku Gerak Kuasa menghimpun 14 tulisan yang terbagi dalam 4 bab. Yang pertama berisi konsep-konsep dasar kajian budaya dan media, kedua berbicara tentang bahasa dan wacana, ketiga mengenai subjek dan identitas, serta keempat menyoal politik ruang dan waktu.

Para  pembaca bisa menjadikan buku ini sebagai landasan berpikir awal dalam olah pemikiran akademisnya maupun non-akademisnya. Tidak hanya itu, ada kebaruan yang ditawarkan dalam pembedahan tiap tulisan dan teorinya. Dapat dibilang, buku ini mencoba memberi jalan alternatif pemikiran yang lebih terarah, mendasar, sistematis, dan segar.

Awalnya, fenomena coba digulirkan, lalu pemikiran teoritikus coba dimasukkan untuk memahami, mengurai, dan mengonstruksi fenomena, kemudian semuanya dipertegas pada bagian penutup. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengatakan bahwa buku ini tepat secara akademis.

Masyarakat informasi serbamedia membutuhkan keadaan berpikir semacam itu. Karena sesungguhnya masyarakat dewasa ini kehilangan atas apa yang disebut pijakan berpikir, bersikap, dan berkritis. Segala hal yang ada sekarang sifatnya rapuh, banal, dan multiplisitas. Akibatnya, masyarakat mentransformasikan dirinya, dari kelompok empati menjadi kelompok antipati (banci sosial). Ini yang sedang terjadi sekarang.

Buku ini hadir mengisi kekosongan itu sekaligus mengurainya secara akademis. Bagaimana pembaca akan diajak berpikir secara teoritis guna menghindari konflik panjang yang tak berakar dan tak berkesudahan seperti yang sedang terjadi saat ini.

Tidak bisa dipungkiri, dalam masyarakat yang tenggelam dalam informasi saat ini, beragam fenomena sosial yang demikian beragam dan tidak sedikit darinya mengejutkan, bisa jadi hanya mampu dibaca dengan meminjam kacamata dari teoritikus dalam uraian buku ini.


Dwi Alfian Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMP Kawung 1 Surabaya. Lahir di Kota Pahlawan, 29 April 1993. Tinggal di kawasan Surabaya Utara. Pada waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni-sastra di Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018). Bila  berminat menjalin komunikasi, bisa di Instagram @suaraalfian47.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *