Buku Resensi

Populisme Kiri: Menggugat Hegemoni, Meradikalkan Demokrasi

May 18, 2021

Oleh Muhammad Teguh Saputro

Frasa suci dalam catatan sejarah yang sudah tidak asing lagi kita dengarkan mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah tentang perebutan kekuasaan. Makna besar kekuasaan dalam frasa tersebut tidak semata tentang tahta kepemimpinan, susunan kabinet, atau kursi parlemen, melainkan lebih dari itu, pertarungan ide, gagasan, media, bahkan massa yang terkoneksi menjadi suatu tatanan sistem – ekonomi dan politik – yang bersifat mendominasi dalam segala lini kehidupan.

Perebutan wacana ide besar tatanan kehidupan – sistem, tidak lagi menjadi topik baru dalam altar peradaban manusia. Terhitung sejak lahirnya Revolusi Prancis di abad ke 18 sampai mencairnya Perang Dingin di senjakala abad ke 20 –tarik-menarik dominasi di percaturan politik global tidak pernah berhenti. Sejarah panjang yang populer dikenal dengan perebutan wacana antara Faksi Kanan dan Faksi Kiri perlahan berhenti ketika banyak negara secara bergilir mencapai titik konsensus yang dianggapnya sebuah konklusi dari konflik panjang ini. Konsensus yang dengan sepakat diberi nama demokrasi.

Titik Nadir Demokrasi

Chantal Mouffe, seorang teoritikus politik asal Belgia yang menyandang gelar profesor teori politik di University of Westminster, UK, menguraikan narasi dengan arah arus yang sangat baru dan berbeda. Lewat bukunya yang berjudul Populisme Kiri, Mouffe membeberkan bahwa konsensus demokrasi yang dulu dicita-citakan sebagai titik netral dengan menjunjung nilai kesetaraan dan kedaulatan, hari ini berada di titik nadir dengan semakin dominan dan kuatnya faksi Kanan – populis, yang terus mengglorifikasi politik identitas, sentimen rasial, keagamaan, kesukuan, xenofobik. Sebuah titik yang tidak pernah terbayangkan, titik konsensus yang dianggap netral dan setara hari ini berada di tangan-tangan populis yang mengimani pandangan yang bertolak belakang dari cita-cita.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri juga membeberkan tentang ruang demokrasi yang terkungkung dalam genggaman kaum populis saat ini bukan tanpa alasan. Mouffe lewat catatan dan analisa yang ditulisnya setidaknya mengatakan, titik nadir demokrasi di tangan kaum populis hari ini lahir dari jurang kesenjangan yang dilahirkan ruang demokrasi itu sendiri. Menurutnya, tatanan sistem konsensus demokrasi pasca perang dingin yang mengaburkan batas kanan-kiri melahirkan suatu pondasi sistem yang rentan akan krisis. Liberalisme yang semakin berkembang setelah mendapat tempat di sisi demokrasi pasca-konsensus, sejak awal mempunyai bagian yang saling bersinggungan dan bersifat kontradiktif.

Demokrasi yang berdiri dengan tiang agung kesetaraan dan kedaulatan, bertolak belakang dengan liberalisme yang menjunjung kebebasan individualisme. Perkawinan dua sistem yang mempunyai kontradiksi tersebut seakan tampil menjadi wacanan sistem baru yang bersifat mengakomodir. Dengan dibantu kinerja-kinerja hegemonik oleh berbagai formula hegemoni — seperti birokrasi, media, dan wacana globalisasi – sistem konsensus ini berkembang dengan sangat pesat namun menyimpan kerentanan yang sangat besar di baliknya.

Konsensus yang kemudian hari dikenal dengan istilah demokrasi liberal,berkembang dengan semangat mengalenisasi wacana rakyat– terganti dengan wacana kebebasan individu – mencapai titik nadirnya pada pecahnya krisis ekonomi internasional, seperti di tahun 2008 yang menimpa dan membuat dampak yang fatal bagi negara-negara besar demokrasi.

Ketimpangan dan kesenjangan yang dilahirkan demokrasi liberal semakin jelas pasca-krisis. Imbasnya, momen populis–momen merebut kembali kedaulatan dan wacana rakyat yang ada di banyak negara dan bersifat resistance–lahir dan diikuti meletusnya gerakan besar alternatif melawan hegemoni liberalisme.

Momen populis ini semakin tumbuh. Dengan metodologi redefinisi yang jelas antara makna dan siapa-kita serta makna dan siapa-mereka, (baca: rakyat v.s elit), kaum populis memanfaatkan momen ini dengan dalih memulihkan demokrasi. Alih-alih memulihkan ke cita-cita awal – kedaulatan dan kesetaraan – demokrasi semakin mencapai titik nadirnya dengan politik identitas, intoleransi, dan sentimen rasial di bawah tempurung populis-kanan.

Merebut dan Meradikalkan Demokrasi

Keprihatinan mengenai kondisi demokrasi saat ini yang – kebanyakan – berada di bawah kendali kaum populis – yang semakin menjauhkan tatanan dari kesetaraan – membuat beberapa filsuf dan akademisi politik berdebat dalam merumuskan strategi untuk merebut kembali demokrasi. Di posisi inilah Mouffe tampil dengan gagasan yang tertuang di bukunya; Populisme Kiri. Menurutnya, kondisi hari ini tidak semata gagalnya konsensus demokrasi liberal membendung krisis yang berakibat kesenjangan yang begitu besar, tetapi lebih dari terdapat fenomena realitas lain, yakni matinya gerakan revolusioner (baca:kiri), dan keberhasilan kaum populis memanfaatkan momen – kesempatan yang dihasilkan krisis.

Gerakan revolusioner sibuk menenggelamkan diri dengan perdebatan internal mengenai jalan mana yang harus ditempuh untuk merebut demokrasi. Banyaknya faksi yang terdapat dalam arus ini masih sibuk berdebat mengenai metodologi revolusi yang akan digulirkan. Beberapa memilih revolusi total, beberapa lain menyimpang dan memilih memasuki pusaran sistem dan berusaha merovolusi dari dalam. Imbasnya, ketiadaan keselarasan visi tersebut semakin melemahkan arus gerakan dan mengaburkan tujuan awal.

Sedangkan di sisi lain, faksi tandingan yang dikenal dengan istilah populis berhasil memanfaatkan krisis yang dilahirkan demokrasi liberal. Jurang kesenjangan berhasil dimanfaatkan kaum populis untuk meredefinisi musuh bersama. Wacana rakyat yang selama ini perlahan hilang dari gelanggang demokrasi, direbut dan dimunculkan kembali sebagai kendaraan untuk merebut demokrasi dan mengantarkan pada kemenangan – kekuasaan.

Mouffe, sebagai salah seorang yang prihatin terhadap kondisi yang dilahirkan kaum populis ini mencoba merumuskan dan menawarkan strategi baru untuk kaum revolusioner yang kehilangan arah. Bagi Mouffe, strategi populis yang berhasil tersebut dapat kita adopsi, meski tentu dengan berbagai catatan yang membedakan.

Mouffe menjelaskan, keberhasilan kaum populis sangat dipengaruhi momen populis yang dilahirkan oleh krisis. Momen populis yang dimanfaatkan gerakan untuk meredefinisi realitas guna membentuk wacana publik tersebut harus dimanfaatkan sebagai momen mengonsolidasi perlawanan. Jika kaum populis mendefiniskan dengan garis demokrasi yang jelas antara rakyat dan elit, yang dimanfaatkan untuk meraup suara, kaum kiri haruslah mampu melakukan hal yang sama. Membedakan diri dan menciptakan musuh bersama di wacana publik, serta merangkul berbagai elemen untuk mewujudkan kontra-hegemoni secara bersama.

Mouffe menyadari kemapanan sebuah sistem – termasuk demokrasi liberal – sangat ditopang oleh keberhasilan sebuah formula yang bersifat menghegemoni. Meminjam teori yang pernah diajarkan Antonio Gramsci, Mouffe menjelaskan melawan hegemoni tidak lain dengan menciptakan formula baru yang bersifat kontra-hegemoni.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri ini mengajak pembaca untuk merefleksi strategi yang pernah dilakukan kaum populis – dan berhasil, untuk diadopsi dan dimodifikasi dalam gerakan yang lebih revolusioner guna keluar dari hegemoni liberalisme dan menyelamatkan pilar demokrasi yang diinjak-injak kaum populis sejauh ini.

Mouffe yang percaya bahwa demokrasi dan negara adalah ruang netral untuk saling menciptakan ide-ide yang membentuk formula hegemoni, secara sederhana dia mengajak pembaca untuk menggugat hegemoni yang selama ini melahirkan krisis – liberalisme, dengan menciptakan formula kontra-hegemoni untuk turut mewarnai ruang demokrasi, serta menciptakan perubahan yang radikal dalam sistem demokrasi untuk cita-cita mulia yang pernah dimimpikan bersama. Bahwa demokrasi adalah sebuah konsensus untuk menegakkan kesetaraan dan kedaulatan di tangan rakyat – bukan elit, oligarki, dll. Pentingnya kemenangan kiri untuk menyelamatkan demokrasi harus disertai pentingnya membentuk wacana publik lewat momen populis, menciptakan formula kontra-hegemoni sebagai alternatif, serta meradikalkan sistem demokrasi untuk menciptakan berbagai perubahan-perubahan besar yang dimimpikan rakyat.


Muhammad Teguh Saputro, mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pegiat literasi dan diskusi di Komunitas Lorong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *