Puisi

Puisi Ali Ibnu Anwar

December 8, 2020

lubang pot

lubang pot itu menanam hari-hariku. sebatang hari

tumbuh. sebatang kaktus tumbuh. melipat daging

segar yang menyebar dalam tubuh. setiap bangun

pagi, kuhirup udara amis dalam masker. bau berita

yang membongkar mortalitas manusia. kematian

bersembunyi di balik data-data menakutkan. kematian

yang juga menakuti kursi, meja kerja, baju kotor dan

cangkul. sial! siapa yang berhak atas kematian?

hari-hari gagal. waktu tanggal, aneh dan mengerikan.

bank tutup. kantor pajak tutup. puskesmas tutup.

sekolah tutup. ruang-ruang pelayanan mencekam

dalam lubang. lubang penuh duri yang senang

melukai gumpalan daging jadi merinding

lubang pot itu menumbuhkan senin setengah minggu.

senin yang kehilangan arti dalam kamus. bahasa

mengkerut dalam ritme isolasi, pandemi, hati-hati,

masker, kematian, kematian dan kematian. kematian

adalah jumlah kata yang paling banyak dicari,

sekaligus paling dihindari

jam-jam bergoyang, berputar, mengitari sebuah

lubang mencekam di dadaku. lubang yang tak pernah

tahu, kapan ia digali terakhir kali. untuk sebuah pot.

untuk sebiji hari yang menyerahkan kafan

pembungkus badan

jember 2020


cetak biru

segalanya harus dicetak biru. buku-buku, isu-isu,

rambu-rambu mencetak abu-abu. hari penuh hantu,

pincang dalam rencana penuh bencana

demi sebuah virus, segalanya harus diurus melawan

arus. tes rapid bagi sebuah buku yang belum selesai.

setiap kata dan kalimat perlu disemprot alkohol.

karena bahasa sudah menghindari bau rempah dan

tumbukan param

bagaimana cara mencetak biru sebuah kekosongan?

jember 2020


gerak berjarak

hari ini aku bergerak. berjarak. menghimpun apa-apa

yang sedianya berserak

setiap gerak butuh jarak yang cukup. langkah yang

cukup akan memberi jejak yang cukup pula. tapi

gerak perlahan hilang pijak

rumah-rumah tak lagi mampu menampung gerak.

perubahan juga gerak yang lain. gerak yang tak punya

silsilah untuk sebuah post factum. gerak yang

perlahan membuka buku kas, untuk menambal catatan

hutang, bagi kompor yang kehabisan gas

aku harus bergerak dalam pecahan jarak. dalam kerja

acak. bilapun diam, aku ingin orang-orang

mendengarku teriak

jember 2020


wabah melimpah

bersamaan jumlah orang terjangkit wabah melimpah,

orang lainnya membeli masker dari orang lainnya.

orang lainnya menjual masker untuk orang lainnya.

orang lainnya menganjurkan pakai masker bagi orang

lainnya. orang lainnya mendenda orang lainnya yang

tak pakai masker

di samping itu, orang lainnya mencurigai orang

lainnya yang bersin-bersin. orang lainnya menolak

jabat tangan orang lainnya. orang lainnya menetapkan

kematian akibat wabah terhadap orang lainnya. orang

lainnya tak terima keluarganya dikubur secara

protokol cegah wabah oleh orang lainnya

di sisi lain, orang lainnya mencari cara membeli

vaksin untuk menyelamatkan orang lainnya. orang

lainnya menduga ada permainan dilakukan orang

lainnya. orang lainnya diam-diam menunggu simpati

dari orang lainnya. orang lainnya diam-diam mencari

simpati dari orang lainnya

orang lainnya tertawa melihat orang lainnya yang

tertawa melihat orang lainnya

jember 2020


instalasi gawat darurat

sebuah ruangan membeku. di dalamnya ranjang

tertutup kelambu. di atas ranjang tubuh istriku. di

dalam tubuh itu calon anakku yang siap menghadapi

gunting, jarum jahit, dan usia yang belum genap. usia

yang menggunting jalan rahim setengah matang

seorang bidan gemetaran. lampu sorot untuk sebuah

kelahiran melototkan cahaya, pada sepotong tubuh

yang mengerang. ketegangan mengejan. sebuah

lorong mengirimkan seonggok daging merah setengah

matang

untuk sebuah instalasi kelahiran. ruang setengah

gawat. sore setengah darurat. seorang bayi menginap

dalam inkubator. sebuah kotak penghangat, telah

memisahkan kami dalam dingin yang ngilu

jember 2020


perihal asin

tentang kapal yang dulu pernah mengantarku

menyeberangi laut itu, ada saja kisah rahasia. garam

yang ingin menjadi ikan untuk sebuah impian. dulu

sekali ia pernah berpikir, kalau antara surabaya dan

madura terbentang sebuah jembatan, lambat laun laut

jadi barang antik di museum ingatan. ia akan berhenti

memperhatikan sepasang kekasih yang menghirup

angin di atas geladak sana

garam tak pernah mengeluh dan membutuhkan

jembatan, untuk menghubungkan rasa asin dan lemak

di tubuh ikan. ia pun ingin menjadi ikan, untuk

merasakan seberapa pekat rasa asin yang menjalar ke

tubuhnya. tak seorang pun mau mengakuinya, walau

dalam gelap matanya selalu menangkap mesin berbau

minyak yang mengubah rasa asin di tubuhnya

sejak itu, garam tak hanya ingin menjadi ikan. ia juga

ingin menjadi diriku yang selalu bernyanyi dengan

nada sumbang dalam amuk gelombang. ia selalu lebih

tahu, bahwa laut tetaplah guruku, yang mengajariku

menjadi karang, sebelum usiaku menyusut seperti

ombak menjabat pasir di pantai itu

madura 2020


selain laut

selain laut tak ada yang bisa melahirkan gelombang.

tapi cinta lebih mahir membuat gelombang di hati

kita. sajak-sajak bagai kapal yang berhenti berlabuh.

menambatkan berindu-rindu sauh dan sahdu.

kita kembali menjadi sepasang anak muda yang

mengenal cinta berbekal kasih yang menjalar jenaka,

di atas kapal. menebas-nebas dingin udara.

senyummu yang santun menebar ke segala semesta.

dahulu, selain laut tak ada yang bisa mengantar kita,

ke tempat kita bercita-cita menjadi purnama. kecipak

air dan riuh para penjaja begitu akrab bagi kita.

membunyikan lonceng kenangan, hingga kita

terbangun dan membuka mata.

kini, kita seberangi selat madura bukan lagi dengan

kapal dan angin. cukup duduk di atas kursi beroda

yang dipangku jembatan, melepas deru mesin.

segenap cahaya dan kerlip bintang, menanti

menemani mendekat dan pergi. dingin gemetar yang

dulu menimang, diganti pendingin suhu ruangan.

selain laut, adakah yang bisa mencium bau anyir

tanah ini?

madura 2020


tanjung papuma

langit begitu sempurna menyala di atas tanjung

papuma. laut biru memikat takjub jagat raya. bak

sajak, langit dan laut tak pernah tua. selalu berdarah

remaja membagi canda dan manja. aku berdiri di atas

tebing, dibimbing dua ratus anak tangga. mengaduk-

aduk napas yang beringas.

siapa yang paham jarak antara kaki langit dan sudut

biru itu? hutan-hutan, batu karang yang mengurung

laut itu, sebentar saja sudah menjadi gemuruh

sumbang gelombang.

matahari masih menggenang di barat langit. dan

ombak yang perkasa seakan menantang hari dan

melotot pada karang berduri. sementara aku masih

menyimpan ragu, terhadap cucu dan anak-anakku.

karena hutan-hutan itu perlahan melahirkan

kehilangan-kehilangan yang pasti.

jember 2020


Ali Ibnu Anwar, lahir di Jember. Menulis puisi, cerpen dan novel. Penggagas dan bergiat di Komunitas Ranggon Sastra, Jakarta. Kini berdomisili di Jember, sebagai petani, penulis dan editor lepas. Buku puisi terbarunya, Orde Batu (Buku Inti, 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *