Puisi

Puisi Anjrah Lelono Broto

May 7, 2019

Patah Hati

Jangan lagi ada janji padanya

Kumpulan berlimpah air menyegara

Laut tak butuh lagi ikrar

Lukanya telah menulis mengakar ke dasar

Bilamana masih ada janji

Di saku, di laci, di almari

Dia bersungguh patah hati.

Suara laut beranjak sayup. Mengertilah

kesabaran juga berbatas galah

seperti jatuh cinta pada ombak yang pecah

laut juga bisa patah hati. Bila lelah telah

menjadi muara sekian janji

(Surabaya, 2019)

Mengulang Pertemuan

entah telah berapa windu berlalu

engkau menulis tentang kealpaan

untuk menasbihkan dada juga bahu

selayaknya tiang pancang sandaran

sebentuk napas bernadi biru,

berawan merah jambu, bernapas lugu,

juga beraroma tembakau

jatuh kemudian

“sedemikian menjulang

kerinduan akan duka?”

pertanyaan di hulu hujan

itu kubawa lari langgang ke ladang

terbiar sampai perdu setinggi pinggang

putaran jarum jam lalu menjura

dada juga bahu lalu pun berseikat

menjadi sandaran melukaimu

dan perulangan pertemuan di masa dulu

terasa serupa simponi beralas cadas bebatu

(Mojokerto, 2019)

Senantiasa Sudi

Hingga sampai sebuah peristiwa, untuk kali ke sekian

keyakinan pada teduhnya pandang mata itu dihadapkan

ujian satu, ujian dua, ujian tiga, terus sampai ujian

tak lagi berangka. Jika kemudian ada sesal bertaburan,

kecewa berhamburan, Sayang, itu aku, bukan!

Kau mungkin pernah menziarahi prasasti

dengan timbunan baju zirah dan namaku terpatri?

Tak dapat kupungkiri, tapak-tapak kaki

ini terasa berat beribu kati

sarat luka yang kita garit sendiri,

dari pagi sampai pagi ke seratus ribu pagi lagi.

Tapi. Simpan jantungmu di almari

ketenangan. Bukan aku yang menduakan, apalagi

menjadi pelakon kisah-kisah pengkhianatan (diri).

Teduh matamu masih seindah lengkung pelangi

kemarin, sekarang, juga nanti.

(Mojokerto, 2019)

Wajah-Wajah Penantian

wajah segelas anggur adalah penantian

hangat namun membubung-lupakan

penantian lalu serupa wajah kepompong kupu-kupu

diam selalu serta pekat harapan tanpa ragu

terkadang penantian menjelma wajah pukat harimau

tertebar dan segala ikan diterkam mau

penantian pun mampu menjadi wajah cermin

buram, retak, bahkan pecah saat nir ingin

di muara usia, wajah penantian adalah penantian

tak ada gelombang; mematung di baris antrian

(Mojokerto, 2019)

Kereta Kenyataan

Nampaknya kereta akan segera tiba

kaki dan matanya disimpan jauh di lubuk

tak terjangkau gapai tangan-tangan kita,

“Kalau engkau enggan, aku bisa mohonkan

padanya, agar gerbong itu tak menelan

lalu cerita kita dilanjut-bacakan

sampai banyak yang berseru kehilangan,”

kataku padamu, sementara auman

kereta itu menyerbu telinga penuh perasaan.

“Di ngarai yang akan kutuju,

akan terajut cerita sebiru ini, tak perlu

risau kau tikamkan bersanding kelu,” jawabmu.

Kereta pun telah membujur lalu menamparku

dengan peringatan; “Siapkah aku

menerima? Kenyataan bukanlah harapan itu.”

(Malang, 2018)

Kitab Luka

Tapi,

bagaimana jika aku kencing berdiri

dan jakun kemudian tumbuh di tepi?

Pencarianku tentang akar

kemudian sampai pada halaman

kitab batang, dahan, daun,

bunga, buah, dan benih.

Di kitab terakhir,

kupukul perutku kencang-kencang.

Di sana,

tak ada rahim yang menggelinjang.

Serapah lalu menjadi kelaziman

yang mengalir, membuncah, dan

muncrat ke segala arah.

Kukutuk siapa saja,

kukutuk apa saja,

bahkan sesuatu yang bertahta

di lapisan luka kulit (entah) ke berapa.

(Surabaya, 2019)

Serupa Menimba Air Mata dari Tempayan

biar saja hujan menghapus kemarau

membasahkan tanah merah

membasahkan batang rebah

air mata tak melukiskan

sekian warna

air mata serupa

lonceng yang berdentang

sekali

lalu sunyi

pegang lengan ini

tak ada yang memilih menjadi berarti

dan atau tanpa nama sama sekali

tapi menjadi muara harapan

adalah pilihan

meski tak berbeda dengan

menimba air mata dari tempayan

di dapur rumah sendiri

(Mojokerto, 2019)

Diterkam Gamang

Lembaran demi lembaran daun ini bersulamkan benang berdebu,

bertuliskan catatan panjang tentang bulan juga kupu-kupu.

Lembarannya telah usang dan sudut-sudutnya hilang disudahi waktu.

Bersama perca-perca harap dilepas rindu

dan kekecewaan bersandar di dermaga kalbu,

selangkah maju memikat di gamang membukit-membatu.

Apakah semuanya akan seperti isi lembar demi lembaran daun itu?

Pertanyaan berkalung melati itu membuat semuanya menghela

nafas tanpa sesumbar dan bintang jatuh di atas para-para,

pecah, berai, sunyi. Aku segera saja menyalakan tungku tua,

kuseduh secangkir teh. Lalu, aku ingin menjemput impian yang tersisa,

tinggal selembar pula.

Diterkam gamang, aku mengukir prasasti pengakuan. Sebab di jalan,

aku berpapasan dengan perempuan muda yang

membawa kisah lain. Tentang kupu-kupu bersayap pedang

yang memakan lembaran-lembaran daun catatan. Dan aku segan menghadang,

karena aku terlalu lelah dan ingin segera tidur setelah sepanjang

usia ini diterkam gamang.

(Mojokerto, 2019)

Laki-Laki di Mata Perempuan Ketika Musim Bunga

telah usai sebuah musim bunga

batang pohon lipat dedaun bersahaja

setangkup kuncup pun tiada bersiul

tak ada sesal, tak ada sesal, air mata memanggul

     telah kucium beragam bunga

     dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah *)

menambatkan perahu hati

adalah pilihan, sejak anak-anak pertama Adam-Hawa

namun ada yang menguliti tubuh ini

meski ruh masih di kandung badani

kerna perahu tertambat di tiang pancang sudraloka

alangkah kejam laki-laki di ufuk pandang perempuan

kami bebas melengkungkan janur

sementara mereka mengaduh

saat pecah perawan dan atau melahirkan

(Surabaya, 2018)

*) bait kedua puisi “Patiwangi” karya Oka Rusmini, Horison – XXXV/4/2002

Anjrah Lelono Broto tinggal di Trowulan-Mojokerto. Menulis esai, cerpen, puisi dan geguritan. Bebeberapa karya pribadi dan bersamanya adalah Syukuran (naskah monolog, 1998), Blossom In The Wind (saduran naskah teater, 1999), Lilih (antologi geguritan, 2004), Negeri Di Angan (antologi esay, 2008), Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Pasewakan (antologi geguritan, 2012), Tasbih Hijau Bumi (antologi puisi, 2014), dan Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerpen berbahasa Jawa, 2015). “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Dapat disapa di e-mail:anantaanandswami@gmail.com, FB: anjrahlelonobroto, IG: anjrahlelonobroto

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *