Puisi

Puisi Arida Erwianti

September 8, 2020

Gadis Sepatu Biru

Sepanjang hari gadis bersepatu jelly hak tinggi

ia merasa bisa menjangkau apa saja

lalu membuka kuku-kukunya dan menulis puisi

pintu kamarnya yang layu setengah terbuka

agar ibunya tahu ia tidak ke mana-mana

karena setiap malam datang

ia menyelinap melalui dinding-dinding  pada bantal

ia terbang ke dalam status dan foto-foto dalam media sosialnya


Sedu

Di dinding kamar kau melukis jendela

setelah membuang nama-nama di jalanan

kepala dan debaran di dadamu sibuk

mengingat yang pernah menjelma menjadi tempat pulang

berulang-ulang

tapi lupa memberi kompas


Kau dalam Diriku

Aku telah lari, darimu

tapi seperti bekerja keras di atas treadmill

ketika jarak direntang jauh dan penuh

aku selalu menjangkaumu di mataku

melupakanmu sedemikan rupa

tapi kau ternyata berada dalam laptop bahkan dalam lemari pendinginku

kubelai-belai wajahmu di layar gawai

berharap menulis ulang matahari

hingga suatu malam seorang tua datang berbisik

untuk menggengam namamu dalam doa, maka kudekap

engkau benar-benar lepas


Di Telingamu

Aku ingin berkirim surat ke telingamu

kutulis dengan tinta berisi lagu favoritmu

aku akan menyusun puzzle di telingamu

kupakai sarung tangan dari madu

aku ingin berbisik di telingamu

dari tempat yang jauh

saksama kutunggu isyarat

angin selalu meniupkan sesuatu yang jujur namun bergegas pergi

dari ruang gelap, aroma jeruk dan juga tentang layang-layang


Api

Di matanya lilin menyala

mataku meraup matanya, haus

besoknya ia bilang, maafkanlah yang penuh angkara

ia bukanlah seorang yang kuat,

ia lemah membiarkan hutan terbakar-bakar di dalam dirinya

lilin di matanya menguar hangat

aku terbaring di sana


Surga dan Medan Perang

Dadamu pernah menjadi medan perang

kau hunus kalimat berakar raksasa

tapi engkau juga

yang napasmu menjelma subuh yang hening

dengan

telapak kaki yang surga

hasratmu meraup dunia

dalam toko furniture berdinding biru, yang akan kau masukkan dalam kotak kaca

tetapi dalam udara kita berbagi

rumah tak bisa dijejali dengan sepuluh meja makan


Metropolitan dan Payung Hitam

Berganti-ganti gawai mereguk daya dari kabel-kabel

sampai tuntas

tapi ternyata orang-orang tetap dahaga

berteriak-teriak di tengah kota metropolitan

berpuluh-puluh tahun

tapi suara raib tertelan gedung beratap kelabu

baju hitam tak lagi berwarna

karena mata-mata buta sebelum membuka

panas meranggas pada getir

payung hitam telah diterbangkan


Cinta

Mencintaimu dengan penuh

karena umur tak utuh

mencintaiku dengan bara, katamu

karena masa tak selamanya benderang

pada tubuhmu padang telaga muda yang ranum

kurengkuh bagai masuk dalam mesin waktu

pada jiwaku jalan panjang berasam garam, katamu

kau tempuh dengan tafakur

cinta tak pernah melukai

karena darinya pisau kita petik

untuk mengupas buahnya, yang lebih dulu


di

di pantai aku melukis rindu berjilid-jilid

di langit aku berbisik, menabur daun-daun

di keheningan kupetik senja setelah hujan yang keemasan

pada getar, aku termenung merapal doa-doa

pada riang, aku telah menari-nari

di kedai kopi aku menulis surat untukmu

dengan alamat yang telah kuketahui bertahun-tahun

di rumahmu kutersesat

setelah memandang matamu, labirin yang biru

di mana aku berujung?

padahal tanya tak pernah dimulai

di mana kita berpisah?

padahal pertemuan tak pernah


Kita tanpa catatan kaki

Jika langit terbentang, hati kita melapang

Jika hutan-hutan menghijau, jiwa kita merimbun

kita adalah kaki-kaki kecil, berjalan melewati semesta

menunggu matahari terbit, dengan menulis buku-buku yang tebal

pada permata kita tak silau

karena mata kita adalah kilau

namun, entah sejak kapan kita menjadi ahli berpatah hati

tapi pencari ulung dalam ruang kesyukuran

pagi ke petang bagai kelopak bunga-bunga

yang kita jahit dengan benang, satu-satu

kita usai, tapi penuh


Arida Erwianti, lahir di Segeri, Sulawesi Selatan. Ibu rumah tangga, dan sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia. Pengajar di STKIP Kusuma Negara. Menulis buku“Mozaik Pemikiran Pendiri Bangsa” (Kumpulan tulisan). Cerpennya pernah dimuat di media. Dapat dijumpai di instagram @ridawianti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *