Puisi

Puisi Bruno Rey Pantola

August 20, 2019

Kepada Laut

Angin berembus perlahan

Menelurkan hawa-hawa dingin

Segara merapal seuntai kenangan

Dalam deru ombak nan kejam

Kepadamu laut yang biru

Cintaku kandas pada terjal lekukmu

Lenyap di antara busa putih

Menjelma garam, asin di pinggir pantai

Bersanding dengan leretan bakau

Aku ingin sebuah jumpa

Yang tempo hari dijanjikan petang

Namun tersisa kepala bulan

Yang terbaring di ufuk timur jauh

Tiada sentuhan mesrah di ujung bibir

Kecuali asin yang mengalir dari pelupuk mata

Dan kepadamu laut, aku ingin menyambangi

Nelayan, agar menuntun sampan ke seberang pulau

Namun, kau menjelma jarak-jarak

Seluas rinduku berkelana.

Kepadamu laut, aku ingin

Berlayar ke dalam doa Sang Amoi

Yang terhimpit di dalam ribu-ribu

Gulunganmu.

Yogyakarta, 2019.


Agatha

Agatha memeluk angin

Di suatu malam yang dingin

Menerobos gelap yang meringkuk

Di antara dahan-dahan dadanya.

Dua helai waktu direnggutnya dari hari;

Pagi dan senja, terlahap oleh rindunya,

Meritualkannya sebagai kenangan akan aku

Dan menyulamnya menjadi penantian panjang.

Di hadapan tetua adat

Aku berdiri kokoh mengulum air liur

Menerawang angkasa di dalam dada Agatha

Lalu menikam waktu agar segera pudar.

“Oh, Agatha yang menawan

Hasratku pupus di atas tandus tanah

Terhuyung bagaikan duyung tak berdayung

Pasrah terhadap gelombang. Lenguh. Lalu lusuh

Terkapar di atas tradisi yang berbelit-belit.”

Yogyakarta, 2019.


Telah Lama

Telah lama aku menjadi teratai di atas permukaan kolam

Berteman dengan cipratan-cipratan ombak kecil yang disebabkan oleh angin

Belaian mentari kadang membuatku bertumbuh lebih subur

Sebab, ada metamorfosis di dalam tubuhku yang tak kunjung

Menyelam ke dasar hatimu yang tersimpan rapi dengan endapan lumpur

Di dasar kolam.

Akar-akar ingatanku menjadi ambangan angan yang tak pernah menyentuhmu

Namun, ia mengetuk pintu permukaan kolam sepanjang hari berlalu.

Aku berdoa di atas ombang-ambing hidupku. Tiada lain selain kematian

yang menyamar menjadi parit ikan di sekelilingku.

Telah lama aku di sini.

Menanti malam, menjumpai siang, bercengkerama dengan sawang,

Menerewang langit, mendustai senja, dan membiarkan sekelompok

Serangga menyerang dengan taring-taring mungilnya__mengahuncurkanku perlahan.

Telah lama menyendiri di sini.

Bersama serabut-serabut rambutku yang kadang kuuraikan sebagai

Keyakinan akan sebuah cinta.

Sedangkan kau makin hari menjadi sesuatu yang sukar kutakar.

Yogyakarta, 2019.


Seperti Malam

Seperti malam

Kau hinggap di antara dedaunan

Mengibaskan nafas alam dalam tidurku

Menyimpan mimpi di atas kepalaku lalu menjelma cicak di plafon.

Seperti malam

Berbaring di sampingku dengan sepotong lenan

Yang kau tangkupkan dengan tubuhku dan bantal merah itu,

Membopong igauanku ke luar rumah dan anjing melolong rindu

Seperti malam

Sepi

Sunyi

Lenyap

Lelap

Yogyakarta, 2019.


Menyudahi Rindu

Pagi hari di Timor

Matahari turun di atas kabin pesawat

Kulihat rambutmu bertangkupan dengan sinarnya

Meliuk-liuk elok memenuhi mataku

Di suatu terowongan tak berjejak

Kurasakan hangatmu yang kian terekat

Walau sua masih menanti beberapa menit

Untuk mempertemukan senyum kusut kita

Pesawat mendekat

Rindu menepi sejenak

Detak-detak dada menghitung detik-detik

Memungut segala penat, menyumburkannya ke tepi jendela

Sesudah kutapakkan kaki di tanah Timor

Kau mengumbar-umbar lantunan angin merdu

Ke seluruh kupingku

Lalu mendekap tubuh ini menjadi satu.

Rindu terkulai di tanah

Pandangan menembus dada

Dan tiada yang kosong di sana

Kecuali rindu.

Yogyakarta, 2019.


Di Bawah Tatapan St. Rafael

Ada satu potret masa lalu

Yang kutempelkan di dalam sal kenangan

Juga masih terpampang rapi di tembok kamar

Atau masih dalam memori handphone

Malam-malam datang

Ia bertandang

Menyambangi doaku yang khusyuk

Kepada st. Rafael

Potret itu berwarna coklat

Mungkin tubuh St. Rafael atau alam yang keriput

Atau saat-saat di mana jiwa-jiwa menjemur pakaian

Mungkin pula mendung yang berdusta terhadap matahari

Di suatu waktu

Aku melihatnya benar-benar cokelat

Di bagian-bagiannya terkena tiris hujan

Namun wajah di dalamnya masih segar

Di suatu hening

Kukenang-kenang dalam alunan merdu lagu “feot honi”

Ternya kita pernah mengeratkan jari-jemari

Di bawah tatapan patung St. Rafael.

Yogyakarta, 2019.


Mencintai Dua Perempuan

Cintaku berjumpalitan di atas tubuh-tubuh ayu

Menguntit cara bercinta kakek yang sangat kurang ajar

Bagaikan negara yang otoriter dan menindih

Namun terasa adem di atas kepedihan

Setiap saku celanaku yang berjumlah dua

Terisi duit dan cincin emas

Kusisakan satu untuk Si Jelita

Dan lainnya untuk Si Niny

Cinta memang tak sesenang itu

Kadang mengegerung-gerung mengharapkan kepastian

Kadang mati di ujung bibir dan itu yang kunamakan cinta.

Sebab, mencintai dua orang dalam rongga kegelapan yang dalam.

Terngiang gemelutuk gigi penuh nafsu.

Di ujung jalan menuju pernikahan

Aku mengetuk-ngetuk dinding dadaku

Dan dua orang meregang cintanya di tepi ngarai hatiku yang kelam

Lalu wafat. Meninggalkan keranda dankain kafan bagiku.

Yogyakarta, 2019.


Di Balikpapan

Sebelum kapal berangkat dari pelabuhan

Kulihat namamu terurai di dermaga

Membiarkan ombak mengelus-elusnya

Kadang menjilat-jilatnya hingga ujung-ujung hurufnya sirna.

Aku menjarah kenangan ke dalam kepalaku

Sedangkan di dada, kurebahkan tubuhmu yang hangat

Sehangat usai menidurimu di bangkai perahu

Du ujung pulau.

Di sana, kita pernah menyeduh sembilu menjadi secangkir perpisahan

Lalu menenggaknya bergantian hingga tersisa karang-karang piatu

Berseliweran dihempas angin laut, sepanjang waktu

Dan suatu ketika, kuharap kau menunaikan kangenmu ke dalam sebuah kapal pelni

Yang tak jauh dari tatapanmu dari bibir segara.

Aku ingin kembali

Namun waktu tak pernah menjanjikan pertemuan

Ia hanya melangkah maju walau tertatih

Dan umur kita dipotongnya sedikit demi sedikit.

Yogyakarta, 2019.


Selepas Hujan

Selepas hujan

Aroma tanah

Ringkihan kuda

Jeritan burung

Bekas kaki anjing

Puisi anomali

Eskapisme sastra

Dan tamparan kesunyian

Kau purna.

Yogyakarta, 2019.


Di Kupang

Alam menggigil sendiri

Pantai Oesapa dipenuhi orang-orang

Bir-bir berjejer di atas meja

Kita kedinginan di atas kerikil pantai

Mengurai pasir

Menakar angin dan

Memilin dusta.

Siapa yang ingin ini berlalu?

Dentang lonceng.

Angelus menyatukan kita lalu melerai kita.

Yogyakarta,2019


Bruno Rey Pantola, lahir di Lospalos, Timor Leste, 23 Maret 1997. Buku puisinya “Sendu di Desa”. Beberapa puisinya dimuat di Tribun Bali, Pos Kupang, Apajake, Viktory News, Horison Dipantar dan media lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *