Puisi

Puisi Budhi Setyawan

December 15, 2020

Penyepian

begitu dalam pagut gaduh meracuni urat tahun
dan kepak jelajah kian jauh
dilambai ingin yang terus ulurkan samun
jalanan pun penuh lampu
yang sumbunya mengait ke detak masa depan
dengan rumus yang dikeramatkan

lalu merecik 
kilasan tanya di tubir pasai
ke mana alamat semua arus ini
ketika semua peluk dan ciuman ketergesaan
adalah serombongan tafsir yang banal
dan juga gagal dalam menandai
denyut keberadaan 
di bawah tatapan ruang yang seringai
dan terkaman waktu yang serigala

lalu perlahan dan lirih
ada yang memanggil untuk duduk berdiam
di haribaan hening jam 
mengembalikan hasrat kepada rongga
jeda napas sebelum terbit kata
pukau yang tersapih dari risau
bukan tentang siapa siapa
dan tidak untuk apa apa

Bekasi, 2020 


Silam Haru dan Rudapaksa Kota

sepi
bertandanglah
usapkanlah telapak nirmalamu
ke dadaku yang tirus dan koyak ini
oleh riuh amuk berahi kota
yang rajin kirimkan peluk
dan menciumiku tanpa cinta

ingin kulepas kepercayaan pada langit
saat keniscayaan kata begitu rumit
dan teduh dusun di punggung kanak masa lalu
diam diam menertawakanku

ah, ini kegilaan menggumuliku
sampai tumpas lepas belulang kenang
suaraku pun gawal menyentuh kemurnian waktu
tak ada kesedihan 
hanya ada bisik berkaca kaca
diam diam merayap sendiri
ke ruas napas yang begitu piatu

Bekasi, 2020 


Nujum Cium dari Kota

kota kota adalah tarian para perempuan sintal
yang datang dengan dada setengah terbuka
berlari gegas padamu sembari 
mengabarkan ramalan kebahagiaan
dan mengibarkan bendera
bertuliskan sajak sajak masa depan
tercerabut dari kemarin yang temaram

lenguhannya menikam jantung langit 
mencipta awan yang entah kapan
menjelma hujan
dan rayuannya selalu menjadi penunjuk jalan
bagi kuda hijau usai melepas diri dari istal

mereka merawi hasrat kemakmuran
menjadi kitab ciuman 
yang antarkan musim penghambaan
pada pohon larangan dengan dahannya
memijarkan lampu lampu
sebarkan bayang ketergantungan

kau pun menjadi bagian 
dari yang mengimani kejumudan 
dalam kerubut kesibukan kata kata 
yang mengalir dari pelukan kota berparfum nakal
dan membuatmu lupa pada riwayat muasal

Bekasi, 2020 


Kota Besar

kota besar
adalah sosok asing yang melintas
di depan kita saat menunggu
keajaiban nasib
dari kesialan yang rumit

dengannya tak banyak cakap
tentang nama atau alamat
apalagi ihwal tabiat
namun tetap kita kawini juga ia
sudah kepalang tanggung cumbuan
mesti segera dituntaskan
lebih hunjam
dan ratusan ritual pengulangan

maka lahirlah anak anak
bermata cekung
dengan tatapan nyalang dan sangsi
lalu berkata:
ceritakan pada kami apa itu cinta?

Bekasi, 2020 


Diingatkan Agar Melupakan

lupakan ciumanku,
katamu dari balik bait puisi
di halaman sebuah buku 
yang tekun ikhtisarkan waktu

kalimat bermajas telah berlalu
menuju kemarin yang tenang
tetapi kuraba masih ada tubir retak 
dari hampar kemarau di bibirku

saat kubuka halaman berikutnya
kamu kembali berucap
kau amat bandel ya,
betah bersama lembar perihmu

Bekasi, 2020 


Sebagai Teman

sebagai teman 
izinkan aku menemanimu
membaca puisi 
pelan pelan merunut 
dan menyusup ke sebalik diksi 
mencari cuaca yang lebih teduh dari hari ini
meski ia tak jua tertangkap 
biarlah menjadi buhul dalam ingatan pagi

kembali kita akan jelajahi
setapak rumpil di antara tunjam tunjam majas 
yang sulurnya mengejapkan bermacam warna
detak kita mengejar ruang ruang baru
yang berjela rambatan tafsir
seperti berkelok raih 
gulir usapan jauh dan dekat
meski lagi lagi kita tak mendapatkan buruan
hingga bait penghabisan
dan kata terakhir

sebagai teman
izinkan kutulis puisi untukmu
namun jangan kautanya makna
barangkali saja bisa menjelma sehampar taman
yang tak lupa pada matahari
dan tumbuh rimbun perdu kegembiraan
yang dengan riang akan bilang:
betapa kita tak pernah sendiri

Bekasi, 2020 


Bepergian

ada kalanya kita perlu bepergian
ke tempat terjauh di dalam diri
ke bilik-bilik yang selalu terang
meski tanpa lampu dan matahari

di sana kita bisa merekam detak
membaca napas dan mengusap
pori yang menyimpan getar puisi
dan terlalu lama menunggu sendiri

Bekasi, 2020


Detak Detik

tiba tiba jam dinding
di ruang tengah itu berucap
maaf, aku jalan sendiri dulu

ku tak bisa menunggu

kau kelewat peragu
diammu serupa jarum menusukku
sedangkan kau pun tahu
aku tak punya banyak waktu

Bekasi, 2020


Perempuan Bubu

aku hanyalah ikan kecil
yang riang berenang 
di riak kali kecil
berbatu

lalu kutemu bantaran 
landai dengan sebaran kerikil miring 
dan jeram mungil

kuturut arus
terjun di lubuk tenang
dan cuma satu arah
aku masuk ke sempit pintu
dengan rumbai tajam lidi bambu
tak bisa lagi keluar ke hulu

berputar putar aku
dalam perangkap
bubu

: lingkarwaktu, sintal tubuhmu

Bekasi, 2020 


Pagi Mencakar Dadaku

matahari kabarkan beringas kemarau
teras rumah dipanggang
dan seonggok tubuh luruh
bobi, anak kucing dengan tubuh kaku pergi

tak ada lagi mungil kuku kuku
mencakar kandang
memanjat kaki dan punggungku

kemarin kau melemas
tak mau bersantap
seperti teman temanmu

ah, gegasnya kau 
menancapkan haru 
di pagiku

Bekasi, 2020 


Budhi Setyawan, lahir di Purworejo, 9 Agustus 1969. Mengelola Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB), serta ikut bergabung di komunitas Sastra Reboan dan Komunitas Sastra Kemenkeu (KSK). Buku puisi terbarunya Mazhab Sunyi (2019). Bekerja sebagai dosen. Saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *