Puisi

Puisi Cesila Anggita Pangestu

October 1, 2019

Elegi #1

Perihal hati yang luka

Alih-alih rela

Lagaknya aku sukar melupa

Membiarkan batin ini terus berumpama

Sebab ia terus menanggalkan ‘kita’

dalam wadahnya

Jogja, 14 Juli 2019


Elegi #2

Kekasihnya datang

Kau tertawa di pertemuan

Aku pun tersenyum merekah-ruah

Mungkin saat ini,

Adalah patah yang sukar kurasa

Tak berdarah

Dan aku mulai belajar lebih tabah

Jogja, 14 Juli 2019


Elegi #3

Apadaya aku tak tahan

Sesaknya riuh pertemanan

Menanggal aku dan kamu

Dalam satu ikatan

Tiada kepastian

Alih-alih berujung kepahitan

Dapatkah menghentikan rasa?

Menyudahi tawa

Dan menutup cerita

Jogja, 16 Juli 2019


Elegi #4

Sunyi mengalun malam

Sedangkan aku,

duduk di pelataran

Lelah, resah … patah

Kisah mengajak bernostalgia

Konyol aku tak marah

Saatnya mulai melepas

Memangkas rasa tak bersisa

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #5

Memulangkan realita

Tanpa selip harap apa-apa

Pun tinggal bijih aksara

Yang menyemai prosa-prosa

Sebatas coretan belaka

Sebab rasa iba, berganti biasa saja

Sedangkan raga cepat menggugat

Batin menggeliat

Tersurat dalam cangkir kosakata

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #6

Perihal hati yang tersirat

Kalau tak suka bilang saja

Rasamu hanya sebatas kata-kata

Sebab rindu tak bermuara temu

Hanya buang-buang waktu

Sekadar pesuruh

Dianggurin melulu

Sakit tauk

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #7

Puan, mari kita pulang

Perihal rasa telah diutarakan

Belum juga kunjung tuntas, benarkah?

Ah, lagaknya kau tak mau melupa

Sebab meniadakan perkara

Menyukai tanpa jeda

Sama berisikonya,

melukai tanpa was-was

Siapkah waktu menggilas dada?

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #8

Semula ingin, sekarang asing

Bukan berarti tak punya hati

Hanya aku tak lagi peduli

Walau kau semegah monjali

Setinggi tugu merapi

Berani memuisikanmu itu asyik

Aku tak lagi perih

Alih-alih terinspirasi

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #9

Ada jeda tanda kita semai rindu

Acapkali bersatu

Pun tak direstui waktu

Nyatanya harus menunggu

Sampai lumut-lumut

Takdir menahan kita di muara temu

Jogja, 23 September  2019


Elegi #10

Mulai sekon ini

Puan, jangan melulu siksa diri

Apalagi jadi budak hati

Gampang sekali dibunuh situasi

Cukup terhenti sampai sini

Asal aksara tak tergilas mati

Tertanda, dari pena pengagum diksi

Jogja, 23 September 2019


Cesila Anggita Pangestu, lahir di Pekalongan, kini tengah menempuh studinya di Kota Yogyakarta. Cerpen dan puisinya pernah dimuat dalam harian Kedaulatan Rakyat. Menjadi finalis 20 besar terpilih lomba essai nasional Asian Youth Day (2017) dan beberapa tulisan pernah diikutsertakan dalam antologi; Story of Friends Komkep KWI (2017), Rahasia Ambigu AT Press Bali (2018), Puisi Sakatara AT Press Bali (2018),  A Voice Flute Ellunar Publisher (2019), Kode Berdarah Reybook Media (2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *