Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

September 7, 2021

sehwalilanang

                sakit adalah hambaKu

                yang Kusertakan pada para kekasihKu

di atas buritan, ia kutip apa yang pernah ia ucapkan

pada sang putri, untuk dirinya sendiri, malam bulan gulita

negeri kafiri itu kian lamat, dan malaka masihlah jauh

ia ingin menoleh, seorang perempuan yang ia tinggali

benihnya – sembilan kali – berdiri mematung, menatapnya,

tapi ia tak menoleh

***

mungkin perempuan itu berkata, “jangan pergi,”

sebelum mengingatkannya tentang sebuah masa

ketika tuhan mengirimnya dari jeddah ke jawa,

ke pulau di mana surya siwabudha berkilau

dan ia terkenang sulbi subur itu, susu emas itu, lalu penyakit

yang sembuh oleh kata-kata, hanya kata-kata: bebaskan dirimu dari

bayang-bayang yang merusak, tak ada obat bagimu selain kekuatan

allah

“ingatlah nabi yang meninggalkan umatnya, ingatlah

allah mengasramakannya dalam perut seekor ikan,”

perempuan itu, bekas penyakitan itu, berkata

tapi ia bukan nabi

***

“ini hanya sulap,” ia dengar seseorang berkata,

mungkin sang prabu, mertuanya itu, atau sang patih

di atas meja jamuan, induk babi menguik dan ular sendok

melata, menyebarkan kentut dan memanjatkan syukur ke hadirat

allah yang mengembalikan mereka dari potongan daging sate

dan pepes

mungkin hanya perempuan itu, mempelainya, di ruang hajatan

yang mendengar ia berdoa, meminta tuhan mengirim peringatan

bagi kaum sesat yang merayakan pernikahannya

***

dalam tugur bulan gulita

ia cari apa yang keliru

siang harinya, sang prabu mempersembahkan

kinang sirih dan bunga kepada sebentangyoni perak

dan menyembah matahari terbit, meminta gunung

membuahi putri terkasihnya

“seperti firaun, prabu itu tak bakal tercerahkan”

dalam tugur yang sama

ia tak tahu apa yang membuatnya mesti pergi

: dakwah yang gagal, atau harga diri seorang lelaki

ia mengusap kainnya, lingganya masih berdiri

dengan ujung basah

***

“masuklah, seh,” nakhoda itu berkata

“angin malam tak baik bagi kesehatan”

ia memandang permukaan yang tenang

ia mengusap dadanya

ada sakit yang seperti tak bisa reda di sana,

bahkan oleh kata-kata yang pernah ia yakini


giri

angin tiba-tiba tak ada hari itu, hari di musim pancaroba yang ganas

ketika sebuah kapal menabrak seonggok peti yang terapung lalu terpaku

dan seorang bayi meringkuk di dalamnya, dan sang nakhoda memungutnya,

dan angin kembali berembus, tapi tidak ke bali ke mana semestinya kapal

itu menuju, melainkan kembali ke giri, ke mana kapal itu berasal, dan si janda

pemilik kapal, menjadi ibu tanpa getah susu

***

di blambangan, wabah belum berakhir

orang-orang kemasukan roh asing, dan tulang mereka membara

nyamuk berdengung sepanjang siang, mengirim balita dan lansia

ke negeri kematian

di keraton, nujum tentang seorang bayi yang akan

membakar kerajaan masih menggema

dan seorang raja mengingat tangis pertama cucu pertama

yang tak akan lagi pernah ia saksikan parasnya

telah ia tilasi cerita dari sebuah kitab

untuk memasukkan bayi itu dalam sebuah peti

dan melarungnya ke samudra luas

***

dua belas tahun kemudian, di ampel,

sang sunan menyimak laporan telik sandinya

“setiap pagi, tanah giri mendekat ke surabaya

dan setiap malam, tanah surabaya merapat ke giri

dan santri giri melompat, melompat kecil belaka,”

***

demi kitab-kitab, santri giri pada usia 16

pergi ke mekkah, dan kapal menyinggahkannya di malaka

di mana ia bertemu sehwalilanang

(dan paras mereka begitu mirip)

di mana ia mendapat wejang bahwa segala kejayaan

dan kekejian ada dalam alquran, dan apa yang ada dalam quran

ada dalam alfatihah, dan apa yang ada dalam fatihah ada

dalam bismillahirrahmanirrahim dan apa yang ada dalam basmalah

ada dalam ba dan apa yang ada dalam ba tersurat dalam

tanda titik di bawahnya

“putraku,” seh itu berkata, dan hatinya tergetar, seperti

ia dengar suara bapa yang tak pernah ia ketahui,

“sesungguhnya manusia tidur, dan terbangun ketika mati”

esok harinya, seh itu memberinya sebongkah tanah

dan menyuruhnya pulang ke jawa

***

sebongkah tanah pernah hilang dari giri

dan kini ia kembali bersama santri giri

dan tahun-tahun berlalu

dan sebuah pondok berdiri di giri

dan si santri telah menjadi sang sunan

dan kepadanya, orang-orang jawa, sunda, bugis

hingga ambon dan ternate, datang memohon ilmu

“beliau khalifatullah, dan giri memanglah negeri islamjawa”

***

di majapahit, brawijaya bermimpi tentang pulau-pulau

yang dijalin laut dan selat dan samudra, dan bukan dipisahkan

dan ia terbangun

darah akan mengalir

ia tahu

ia bakal kecewa

ia tak tahu

dan ia kirim sang mahapatih ke giri

tepat ketika sang sunan menyalin ayat dengan kuas

yang beberapa menit kemudian bertintakan darah

dari para penyerang yang kalah

dan begitulah kita, secara harafiah, mengerti bahwa

pena lebih tajam ketimbang pedang

***

segera sesudahnya, sang sunan membuka pintu

dan mendapati hari tak ada lagi

sulung dari sepuluh putranya

menyusul ke rahmatullah begitu diinjaknya

karpet khalifatullah

“gusti telah memilih cucu kanjeng sunan,

begitulah, begitulah”

***

sang cucu, kita menyebutnya sunan giri prapen,

kabur ke arah laut hari itu,

membiarkan orang-orang majapahit menodai

makam leluhur yang namanya ia ambil

sebelumnya, ia dengar amarah itu,

“ia bukan sunan yang mengusir kita dengan sebuah kuas

belaka, meski sebutannya mirip, mirip semata”

ketika nisan diangkat oleh sepasang juru kunci yang lumpuh

ribuan kumbang terbang menyerang, meluru dan memburu

serdadu majapahit, menciptakan tudung malam dan merenggut

matahari buda siwa dari negeri para penakluk itu selamanya

dan sepasang juru kunci itu, yang tiba-tiba sehat kedua kakinya,

sesaat sebelum menyusul sang junjungan ke arah laut, mendengar

seorang serdadu berteriak, “ia pernah mengalahkan kita dengan pena

dan kini dengan kumbang yang berasal dari huruf-huruf”

***

hari sedang senja ketika sunan muda itu tiba

dan menyaksikan puing serta abu

– hanya puing serta abu –

tapi ia tidak bahagia

ia tahu, dari lintang kebiruan yang jatuh di beringin barat halaman keputren

bahwa akan tiba masanya, tak lama lagi,

seseorang dari mataram bakal menaklukkannya

dan tak akan ada pena yang menyelamatkannya, juga huruf-huruf

“sebab pada waktu itu, seseorang yang lain

sedang menyiapkan mereka untuk menyusun sebuah kitab

agung, kitab berisi jalan kejayaan dan kekejian,

kesucian dan kecabulan

: suluk tambangraras”


perang

                bagaimana sembuh dari asmara, kecuali dengan perang?

“sanggama ini, dinda, begitu menyilaukan, begitu langka

dari batas ke batas, maut mendekapku, sebab kau hawa

dan aku tanah, maka di sinilah aku, dikurung lelah dan pahit

dan kita, hanyalah petugas dari peperangan dan birahi jawa”

lelaki itu menggumam, selasakliwon, setelah seorang ratu

dengan kuasa tak terperi kabur dari ranjangnya sebelum azan subuh,

hanya sedikit wangi melati tersisa di sprei kusut, juga nafsu yang perlahan susut

di keraton yang jauh, samar dalam hitamnya samudra padma merah,

sang ratu mengulang khaul, “tak bakal hilang keperawananku sebelum dunia

masuk ke kali yuga, dan bahwa telah kupilih raja islam paling rupawan, paling perkasa

sebagai kekasihku, juga turunannya, segenap penggantinya hingga akhir zaman”

***

siang harinya, lelaki itu, sultan para sultan, berdiri di atas permadani pasir hitam

menggelar tarung macan di alun-alun utara, di halaman selatan ia perintahkan

para punggawa memainkan adu biji kemiri dengan hukum sembelih bagi siapa

yang berlaku curang, sebuah masjid berdiri gagah di sisi barat, sekadar

berdiri dengan gagah, sebab ia lebih suka pergi ke mekah dengan pikirannya

setiap pekan menunaikan salat jumat

dengan kain putih biru, sorjan beludru hitam bermotif daun emas, serta kopiah

dan tongkat kayu pertanda kesalehan, ia titahkan adiknya, ratu pandhansari,

untuk mengirim serdadu ke giri

“sebab mereka begitu sombong, dan penguasanya merasa diri sebagai khalifatullah

tapi aku, sultan agung, tidak mengenal kalifah atau hubungan saudara, maka

sertai suamimu, pangeran pekik yang pengecut, untuk memerangi mereka”

***

menjelang subuh, pangeran dari surabaya itu tiba di giri

tepat ketika sunan prapen beserta santrinya mendaraskan ayat-ayat

alfalaq; katakanlah, aku berlindung kepada tuhan yang menguasai subuh

dari kejahatan makhluknya

hujan berat lebih dulu bertandang

dalam kilatan cahaya kilat, sang pangeran bergidig menyaksikan

bayangan bersimpuh di samping sang sunan

“namanya endrasena, china muda nan pilih tanding

putra angkat kanjeng sunan

dan ia tak gampang digertak”

***

“ini hanya persoalan duniawi, ayahanda,”

jayengresmi, putra mahkota giri itu, berkata

“dan kudengar segala keagungan, segala kemashyuran

ada dalam diri sultan dari mataram, maka sebelum setetes darah tumpah

kenapa kita tidak tunduk?”

sang sunan bergeming

udara dingin

dan sang putra mahkota tahu kemana ia mesti pergi

“endrasena,” sang sunan menurunkan titah

“sendika, ayahanda, kehendakmu jadilah”

maka begitulah dua ratus laskar dengan berteriak

yudhailahi dan pedang dengan gagang berukir asma allah

mengirim takut dan maut ke serdadu surabaya

“malam keburu tiba ayahanda, sebab kalau tidak,

sudah kami ringkus pangeran pekik, dan kami arak ke mataram

hingga perang ini berakhir dengan terhormat,” lapor endrasena

malam itu, di giri, zikir dan syair mengalun merdu

***

kala yang sama, bentang yang sama, merangkul duka

dan suka bersamaan, dalam dekapan pandhansari, pangeran

pekik menumpahkan airmata, juga sesal, juga malu, juga ketakutan

akan beban perang yang ia panggul

“bersabarlah pangeranku,” ratu itu berujar, “biar kubenahi

apa yang tidak bisa kau menangkan”

maka keesokan harinya, seusai sanggama terputus pukulan gong

ia nyalakan harga diri serdadu surabaya, dan dengan rambut berkibar

ia pimpin pasukan yang marah itu

di palagan, ia buntungi endrasena dengan bedilnya: mulanya tangan kanan

lalu tangan kiri, lalu kaki kiri, dan ambruklah sang naga china

sebelum tubuh lumpuhnya dihujani tombak, endrasena meraung

“ini jihad kecil belaka, ratu, dan kita belum pula menempuh gurun roh serta

jurang raga, kemenanganmu bukan penyingkapan ilahi

dan kematianku tak juga pengungkai dunia kegaiban, ini mula jihad besar belaka…”

tubuhnya luluh, seakan larut dalam sanggama agung dengan perempuan pertiwi


pengembaraan

1/ memasuki suluk, hilang dari pandangan suluk

di gunung itu, jayengresmi menyaksikan lidah api

dan ia mengerti tubuhnya membara

lalu suara; bersabar dan kuatlah putra wali

sebab segala kotoran perlu dibasuh

dan tak ada pembasuh yang lebih baik dari bara api

ia tak tahu kemana mesti menuju

ia tak tahu ia telah memasuki suluk

sendiri

sembari meratapi sepasang adik

yang tercebur ke jurang dalam

menghilang dari pandangan suluk

diiringi santri buras

2/ gathakgathuk dan ki purwa

dari sesuluran merambat bunyi

dan dua dugal keluar mengecup kaki jayengresmi

“nama kami gathak dan gathuk

dan seperti yang tersuratkan, kami hambamu belaka”

sekian hari kemudian, pada suatu magrib

mereka menyaksikan api dari gerbang yang mengurung langit

dan puing keraton, dan akar-akar gantung, dan kolam,

dan bunga-bunga

mereka mendengar tembang cangkang kerang

sewaktu bersuci dalam kolam, dan sebuah embusan muram,

setelah tiga rakaat, membimbing mereka ke candi bata susun tiga

di mana sebilah pedang menantang langit di pucuknya

seorang juru kunci menghidupkan tembang dan menyalakan kandil

lalu menyengkelah pisau dan mengepras kepala boneka yang lantas berdarah

“namaku ki purwa, penjaga apa yang tertinggal dari majapahit

dan kukorbankan boneka-boneka itu sebab budha benci persembahan manusia”

malam itu purnama raya, dan ki purwa bercerita tentang bajangratu,

seribu langkah dari situ, di mana sesiapa yang melihatnya bakal hilang

akal dan arah

“tapi aku mencari adikku, dan tak butuh hilang akal dan arah,”

jayengresmi berujar, sebelum memilih mata angin

3/ ratu mas trengganawulan

seusai gempa yang sementara

seorang perempuan yang tersakiti tembang dan sajak,

dengan telanjang dan rambut terurai

menyongsong jayengresmi

“tapamu, duafa luhur, melekatkanmu pada allah

sekaligus merapatkan bencana pada rakyatku”

ia, yang kemudian kita tahu berasma ratu mas trengganawulan,

berujar dengan bibir gemetar

dan ia ajar sang pangeran giri tentang tanda-tanda

kaok gagak, berkah kera keramat yang dianggap bijaksana

oleh kaum nabi dan wali, serta cerita tentang hutan bagor

“tak sanggup aku menerima kesempurnaan ajaran rasul,

sebab aku putri brawijaya, dan budha memberkahiku kuasa

mengatur hutan ini, juga sendang yang kunamai sugihwaras”

juga kalangwan, syair yang mampu menyelamatkan para hina,

mengangkat jiwa pendarasnya dan melarutkannya dalam samudra keindahan

“deminya jiwaku, namun bagiku, siwa menggantinya dengan kicau

burung selangit, dan segala syair kini hanya mengisi hatiku

dengan kesedihan”

menjelang pagi, semak-semak terlepas, ratu mas trengganawulan

tak lagi berbekas, dan ekor seekor kera menyentuh kaki gathakgathuk yang baru

bebas dari mimpi yang lekas

4/ ki wisma, ajisaka dan muhammad, dan penyihir yang tersihir

barangkali hanya dalam cerita ki wisma, ajisaka dan muhammadal mekkah

adalah dua muka keping tembaga, utara dan selatan, siang dan malam, laki-laki dan perempuan,

ying dan yang, senasib sehakikat, sepasang yang terikat

awalnya, seekor raja naga sekarat lantaran orang kehilangan iman kepadanya

dan seorang lelaki miskin, kikures, menghadiahinya semangkuk susu setiap hari

dan sang naga mengganjarnya setahi emas setiap kalinya,

hingga si putra orang papa yang durhaka,

suatu kali berlaku licik dan mati, dan istrinya yang bunting melahirkan anak tanpa bapa

tapi naga itu berkata, “ia putraku belaka, dan ia bernama aji, artinya penyihir, dan kelak

ia akan pergi ke barat, ke mekkah, untuk berguru pada lelaki rupawan bernama muhammad

dan ia bakal bersaudara dengan abu bakar, dengan umar, dengan usman, dengan ali,

hingga suatu kali, ketika wabah menyerang jazirah arab, malaikat yang agung menculiknya,

membawanya ke atas kealiman, ke aras ilahi, tersembunyi di saka guru masjid akbar

tepat ketika muhammad menunaikan salat

dan begitulah berakhirnya guru murid, berganti hubungan yang setara belaka

dan tuhan mengirim seorang bersebut setia untuk melayani muhammad

dan seorang berjuluk setuhu untuk mengabdi pada aji, ajisaka

dan akan tiba suatu masa ketika ajisaka beserta pengiringnya tiba

di medangkemulan, menaklukkan raja para pemangsa bernama dewatacengkar

dengan sehelai surban, sehelai saja, yang melingkupi 5/3 tanah jawa,

dan bertuliskan 20 aksara yang membentang tiada habisnya,

menampung segala ilmu, yang dihargai maupun yang tidak dihargai,

yang telah dan bakal ditemukan

dan setelahnya, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab, akan ia kirim

setuhu untuk memungut keris yang tertinggal di mekkah, di mana muhammad

sang nabi telah memerintahkan setia menjaganya hanya untuk diambil kembarannya

belaka, dan begitulah dua abdi itu berkelahi, lalu sama kembali ke alam keabadian”

dan barangkali hanya dalam cerita nyi wisma, ajisaka yang linglung pangling pada

naga bapanya, dan membunuhnya dalam suatu perburuan, sebelum dilihatnya

seorang perempuan bernama rarasati, lalu jatuh birahinya, lalu keluar biji maninya,

dan keluar pula sari sang perempuan, yang keduanya segera ditelan seekor ayam katai

“ajisaka sang penyihir, tersihir oleh cinta, lalu dikutuk malu dan lingganya layu”

namun karena ki wisma adalah penganut budha yang taat, penjaga medangkemulan

yang hanya muncul sewaktu kaki bromo tersungkup kabut, dan ia memberi jayengresmi

beserta gathakgathuk nira serta ketela juga air wudu yang mengucur dari tebasan

 dahan jembul, maka kita mesti percaya apa yang diucapkannya

setidaknya, begitulah sang suluk bercerita

5/  seh siti jenar

seekor anjing buduk, sembari mengusap kerak koreng

dan membatalkan wudu pangeran giri, menggonggong tentang hakikat

yang tak bisa diselaraskan dengan syariat meski hakikat tak akan

memancar tanpa syariat, dan syariat mengalir dari hakikat,

juga tentang surga yang tak berisi kali susu dan madu, melainkan

perjalanan tanpa henti belaka, dan kebangkitan kembali yang tidak

berasal dari kubur dan ditandai tiupan sangkakala, juga cinta yang bukan

ikatan, melainkan kemabukan

ia pernah menjadi manusia sebagai abdul jalil, sebelum berbuat

dosa dan dikutuk menjadi cacing, lalu tersuruk ke dalam sebongkah tanah

penambal perahu, tepat ketika sunan bonang mewedar ilmu manusia semesta

kepada kalijaga, “jagad semesta adalah orang besar, dan manusia adalah jagad kecil”

tapi ia, sebab pernah menjadi cacing, adalah yang selalu dipinggirkan,

maka ia bangun pusat di pinggirnya, dan seorang aulia turunan brawijaya

menimba sekaligus menuang ilmu pada sumurnya, “ia berkata,” katanya, “bahwa kilat

yang terkurung di pintu gerbang, yang ditangkap ki ageng sela, adalah lingga siwa

dan kukatakan kepadanya bahwa petir-pelir itu adalah nur allah, cahaya di atas cahaya

untuk membimbing siapa-siapa yang ia maui”

namun walisanga, yang terusik kekondangannya, menangkapnya pada suatu hari,

dan mengganjarnya hukum penggal, dan dari leher yang koyak, mengalir darah putih belaka,

dan mereka meletakkan jasad itu di atas kafan yang memancarakan lima warna

setiap malam menjelang serta menguarkan seribu wewangian

begitu banyak keajaiban mesti dikaburkan, maka mereka letakkan bangkai

seekor anjing kudisan di atas kafan itu, dan keesokan harinya, mereka gantung bangkai itu

“kalijaga,” katanya, “yang suci itu, kau tahu, berkata padaku bahwa segala perkataanku

benar belaka, namun kata-kata kekasih yang terlalu masyuk mesti dibungkam,

dan beginilah aku, sebagai seekor anjing kurap”

petir menggelegar; meniru ki ageng sela, gathakgathuk mengucap gantri berkali-kali

dan jayengresmi melihat bagaimana anjing itu pudar, juga bayang samar masjid demak

hujan turun, namun tak mampu membasahinya

6/ ki karang

di bekas tapak kakinya, bunga-bunga tumbuh dan mekar

di kanan kiri jalan yang ia tempuh, pohon-pohon merundukkan buah segar

tapi ia tahu, dari cerita orang lama, bahwa ia tak boleh menjamahnya

“jalan masih jauh, puncak gunung salak masih jauh

dan pengganti putra yang hilang menunggu di sana, mungkin dalam jenuh”

dan di sanalah, di balik tirai sawit,

menunggu jayengresmi, dan kata-kata tak lagi bermakna

; guru menemukan muridnya, bapa menemukan anaknya

lalu sebuah perjalanan tak terceritakan

menuju karang yang mengapung di selat sunda, ia, yang karenanya disebut ki karang

mewedar hakikat perahu, nelayan, dan laut tak bertepi

; bukan yang terlalu banyak berhitung yang bakal sampai ke pantai,

melainkan yang mengenali dirinya sendiri, mengenali keluasan samudra ilahi

7/ kembali ke dalam suluk

dengan dua keping tembaga china dari si cantik rara suci

santri buras mengiringi jayengsari dan rancangkapti

keluar dari jerat jurang, kembali ke dalam semesta suluk

di mana mereka bertemu sepasang saudagar dari blambangan

yang tak berputra

“akan kau temukan kakang kalian, jayengresmi,” saudagar itu, kihartati

berujar, dan si nyai, menyingkap rahasia sanggama kepada rancangkapti

sebelum mati keesokan paginya, dan seratus hari kemudian, seperti semua

cerita cinta sejati, menyusul kihartati, meninggalkan sepasang anak yang belum

ia kenal betul perangainya, sepasang anak yang menyedekahkan segala warisan

dan kemudian, beserta buras dan dua keping tembaga china

kembali menyusuri suluk, yang entah kapan sampai

pada tembang terakhir


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *