Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

August 4, 2020

pembuat topeng

maut seperti cahaya fajar yang tak terelakkan, atau

angin dusun yang menyusup melalui bilah gedek

tapi lelaki itu gesit berkelit

dengan lambung bocor dan hati bengkak yang mesti ia

gembol ke mana-mana

“beri aku waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi,” gumamnya

ketika api neraka serasa dituang di kawasan perutnya

dan ia raut pelan-pelan pangkal bambu

menyerupai wajahnya yang kurus dan nyaris tak berdaging

lantas ia letakkan di tempat di mana ia tahu, maut

akan datang untuk menjemputnya, maut yang kemudian kecewa,

maut yang akan kembali memburunya dengan kemarahan

yang lebih besar, maut yang terus merutuk, “hanya karena

namamu slamet, bukan berarti kau selalu selamat!”

dan ia akan terus kabur, terus bergumam, “beri aku

waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi”

dengan lambung bocor dan hati bengkak

ada yang belum tunai ia kerjakan dalam hidup

: merasa bahagia meski hanya tiga detik


angin besar

angin besar

turun dari gunung

angin besar

menderakkan dahan-dahan

angin besar

mengelus ubun-ubun lelaki demam

angin besar

menebang dahan-dahan

angin besar

mengusap nisan di kaki gunung


anjing geladak

lima menit sebelum pukul empat petang

hari sudah gelap, udara berat, mereka

tak ingin menyibak selimut

“di kehidupan selanjutnya,” perempuan

itu berkata dengan suara serak

“aku akan lebih dulu menemukanmu”

dan si lelaki menguap

ia tahu, mereka mesti pergi

sebelum ibu anak-anaknya menelepon

“pada waktu itu,” kata si lelaki

“kita akan tinggal di pacet, di mana

waktu merangkak, dan ruang meluas,

agar dingin mengingatkan kita supaya terus

berpelukan, agar angin pegunungan memanjangkan

usia kita, agar hamparan sawah bawang menyegarkan

mata kita, agar…”

“agar kita bahagia,” potong si perempuan

tapi mereka berkemas juga

ketika geluduk pertama terdengar

mereka bukan orang lokal, mereka

tak tahu, di pacet, doa-doa tak lazim

gampang diijabahi

tiga kilometer kemudian, di sela pekat kabut

si lelaki melihat seekor anjing melompat,

ia mendengar decit ban, ia merasa jari perempuan

itu mencengkeram pinggangnya, ia mencium amis darah

ia tak tahu berapa lama terlelap,

namun ketika membuka mata, perempuan

itu begitu dekat dengan dirinya, begitu lekat

“apa yang terjadi?” ia tak mengerti

“kukira,” perempuan itu menjawab

“seekor anjing geladak memakan bangkai kita

dan dalam dirinya, kita kini meneruskan hidup,

bersama, bersama, seperti yang kita inginkan”


di gua jepang cangar

di ranjang tanah yang keras itu maut datang dan mengelus

tubuh mereka, yang muda dan telanjang

udara pengap jadi panas

“apakah ini hawa neraka?” tanya si perempuan

“ini nuansa cinta,” si lelaki melekapkan bibir di leher yang

bersemu hijau

lenguh menggema

dalam gelap yang kekal

lantas rintih

kesakitan

dari tubuh yang ringkih

“aku tak bisa melepasnya”

“tapi kau harus melepasnya”

di samping mereka, maut menari

dengan satu kaki menginjak punggung si lelaki

mereka ingin menjerit

tapi tak sanggup

mereka tak kuasa membayangkan

orang-orang tiba

dan menemukan mereka

masih terpaut

tapi tujuh hari kemudian

orang-orang tetap datang

dan mendapati mereka

saling memeluk dan membusuk

terbungkus udara lembab

di lantai gua yang kotor

“mereka sepasang pezina terkutuk!” kata kiai setempat

“mereka sepasang pecinta yang terberkati,” gumam seorang remaja

yang tengah kasmaran


pulang ke pacet

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat,” seseorang berteriak, sedikit serak,

sedikit kasar

dingin mengeras dan menegang

jalan membuka dan memanjang

kafe dan pujasera menjulurkan tangan,

pemandian dan arena wisata foto mengenalkan

nama, vila dan hotel tersenyum menyapa ramah

tapi turis yang baru tiba itu hanya ingin

berbicara pada sawah dan padi

dalam kepalanya, kambing dan sapi

dalam kenangannya

ia bukan turis, sesungguhnya

malam membeku

tapi bulan kuning leleh seperti mentega

ia orang lokal, lama terjerat kota

lantas kembali

untuk menjadi orang asing

dan seorang pemandu dengan suara serak,

berteriak sedikit kasar

demi ia

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat!”


suratman berjalan telanjang tengah malam

enam belas laron sufi

mengerubung nyala sebatang lilin

di puncak musim hujan yang pucat

dari nako jendela, suratman tahu bulan layu

langit kuyup kelam, dan ribuan laron

meredupkan lampu di sepanjang jalan

setelah selarik mantra

orang-orang tiba pada lelap purba,

suratman akan berjalan

perlahan seperti ratapan tobat nasuha

telanjang seperti bayi yang fitrah

berkeliling kampung seperti seorang jagabaya

“berangkatlah,” kata istrinya

dibukanya pintu belakang

dingin mengerutkan buah zakar

angin membawa ujian

mengembus nyala lilin

yang ditudung istrinya dengan dua telapak tangan

dan suratman berjalan

seraya mengenang dua putra tercinta

yang berseteru di jalanan

dengan arit dan maki

sebelum empat orang di warung yu rai

datang dan melerai,

memperseterukan seorang perempuan

yang tak setia; suratman berjalan

seraya mengucap pujian untuk leluhur

sholawat bagi nabi

doa kepada tuhan

juga permintaan pada danyang kampung

di rumah, bersama enam belas laron sufi

istrinya berharap tak ada orang yang

luput dari sirep mandi

dan membuat lilin padam

atau semua akan sia-sia,

bibirnya gemetar memanjatkan harap

perempuan itu tahu

anak-anak akan selamanya kanak-kanak

: berebut mainan sewaktu bocah

berebut perempuan atau warisan

ketika dewasa, dan orangtua selalu orangtua

sabar mendamaikan

dengan cara apa pun

atau bagaimana pun


kematian mak lah

dengan wajah pucat dan mata terpejam dan tubuh dingin,

mak lah ditelentangkan di atas amben di halaman, orang-

orang datang dengan muka masam dan

matahari semakin meninggi

“kenapa ia tidak segera dikuburkan?” tanya orang-orang sambil

berteduh di teras

“apakah kau berani bersaksi bahwa ia sudah benar-

benar mati?”

tak ada yang benar-benar berani bersaksi, mereka

hanya mengingat bagaimana mak lah bangkit ketika

disalatkan di masjid pada kematiannya yang pertama,

dan merayah-rayah dengan tersengal sewaktu tubuhnya

baru diletakkan di liang pada kematiannya yang kedua

orang-orang mulai jengah dan lelah

seseorang mengeluhkan padi yang perlu disiangi

seseorang mengeluhkan sapi yang perlu diransumi

“kenapa ia selalu merepotkan?”

mereka tahu, bagi perempuan itu, kematian hanyalah perjalanan

sepele yang bisa ia ulang aliki sesuka hati

menjelang sore, orang-orang pergi

jagabaya mengatakan agar mak lah tetap dibiarkan di situ

“biar dia segera bangun kalau kedinginan nanti malam”

tapi pada kematiannya yang ketiga itu, mak lah tidak pernah

bangun lagi

dan orang-orang baru meyakininya pada hari keempat, sewaktu

bau tidak sedap mulai menguar dari tubuhnya yang bengkak

dan berair


pagi hijau

untuk ulang tahunnya yang ke-44

ning menginginkan sebuah pagi hijau

ketika biji ditabur sabar di lahan gembur,

kecambah tumbuh tidak tergesa,

dan nyanyian burung menarik matahari pelan-pelan

“agar kau lebih lama bersamaku,” katanya

di cuping telinga lelaki itu

hangat mendesir dan bergema

di liang-liang tubuhnya

tapi yang tak pernah terlambat adalah waktu

dan lelaki itu tahu, ia mesti pergi

maka dikecupnya kening ning

seraya mengingat ulang tahun perempuan itu

yang ke-40

ketika ia mengendus sebilah pisau di kolong meja

dan didengarnya ning yang bingung berujar malas

“kenapa seorang perempuan tidak pernah memiliki

waktu untuk dirinya sendiri, bahkan ketika ia berulang tahun?”

lelaki itu tahu, sebab ia karib dengan dongeng-dongeng,

bahwa ning akan berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan suami”

tapi ning sudah bersuami

dan ia mendengar ning berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan selingkuhan”

ia mengigit pisau itu, seperti anjing-anjing dalam dongeng

dan membawanya ke depan ning yang kebingungan dengan

seikat sayur dan seonggok daging kambing

lantas seperti mukjizat, segera ia menjadi lelaki rupawan

“iblis yang murah hati,” katanya, “memberkahi

nadarmu dengan mengirimku mulai hari ini dan sebelum

matahari meninggi setiap hari ulang tahunmu”

pada hari ulang tahunnya yang ke-44

ning masih saja berduka

ketika lelaki itu mulai kembali menjulurkan lidah


kodok kecil

kodok kecil di pinggir kali

mati terinjak kaki petani

tak jauh darinya,

semak tetap berbunga

rumput masih hijau

kutilang berdendang dari dahan kaliandra

angin mempertemukan serbuk sari dan kepala putik

ikan berenang

matahari bersinar

bumi berputar

seratus empat puluh dua ekor semut

merubung bangkainya,

bersyukur atas kematiannya

dan tak ada air mata atau puisi sedih,

tak ada hujan atau sedikit melankoli


ia menunggumu, yai

ia menunggumu, yai, di sawah tomat

sepanjang hari hidup dan malam padam

ia menunggumu, yai, bahkan ketika

hujan lari atau panas berdesir

ia menunggumu, yai, memberi rasa lain

pada air tomat, memulaskan warna lain

pada kulit tomat, memanjatkan doa-doa

atas mereka yang terbenam sebagai rabuk

bagi lunak tanah sawah itu, mengucapkan

sepatah maaf yang bakal membuatnya

rela memetik tomat-tomat matang

tapi hanya dilihatnya kau yang memandang

dendam tiap kali melewati sawah tomat itu

seraya bergumam, “tomat-tomat itu haram,

sebab hanya rabuk dari bangkai komunis yang

disesapnya”

ia belum pernah mampu memetik tomat-tomat itu,

sebab setiap kali ia hendak memetiknya, ia merasa

hendak memetik secuil demi secuil daging bapaknya

yang belum rela


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *