Puisi

Puisi Daffa Randai

June 23, 2020

Gerimis Merambat

ke Rambutmu

suatu ketika, gerimis merambat ke rambutmu

menitis pelan ke kening dan berhenti

tepat di pucuk bibirmu yang dingin.

sepasang matamu menyanderaku

seperti membujuk, seperti menunggu

sepasang bibirku lembut menyapu

bibirmu yang gigil itu.

2020


Sengketa Rindu dan Kesepian

kembalilah, tubuhku akan lebih berguna

hanya dengan sering melindungimu dalam pelukan.

lengkapi kesepianku, lekasi nasib burukku

sebab hanya padamu, air mataku menolak gugur.

kembalilah, tubuhku butuh tubuhmu

sebagai pelerai gaduh, rindu di jantung

seperti sedang berperang, seperti mengerang

takluk di hadapan jarak yang sadis dan kejam.

kembalilah, bantu aku jadi pemenang

menghadapi sengketa rindu dan kesepian.

bantu aku jadi satu-satunya peminang

yang bikin bahagiamu tak berkesudahan.

2020


Kita Tak Harus Bertikai

biarlah kesepianku terus berlayar

melintasi kenangan lapuk

yang jauh tersimpan di tubuh waktu.

biar rindu terus mendebur

menggulung segala inginku

menjumpaimu di luar tidur.

sungguh, kita tak harus bertikai

mendebatkan perpisahan

dan penyesalan ini milik siapa.

sebab masa lalu tetap milik kita

ijazah bagi hari jauh yang telah

tuntas kita lintasi berdua.

sungguh, kita tak harus bertikai

mendebatkan masa depan

di tengah masa lalu yang kacau.

sebab kita ialah kesedihan

yang tersesat di jalur derita

tanpa ujung, tanpa batas teritorial.

2020


Selepas Berpisah

bayangkan, bayangkanlah

selepas berpisah, di antara kita

siapa yang lebih tegar untuk tak saling tegur

bahkan ketika dada kita menjelma angkutan

yang penuh hanya karena satu jenis muatan:

rindu akan kenangan yang begitu ingin diulang?

bayangkan, bayangkanlah

selepas berpisah, di antara kita

adakah yang bakal merasa terancam

oleh penyesalan, oleh kehilangan, oleh segala

yang tumbuh seiring dengan kenyataan

tak lagi ada yang bisa dipeluk selain ingatan?

2020


Punah Terkubur Kenangan

: untuk Lia

katakan, bagaimana kesepian bekerja

menghidangkanmu kembali ke ruang dengarku

sebagai masa lalu, sebagai yang bukan lagi milikku.

sementara di dada, suaramu terus menggema

tak putus kudengar dari telinga

seperti menyesal, seperti ingin lagi kuterima.

di hadapanku, kau kuras air mata

mungkin rayuan, mungkin permintaan maaf

atas buruknya niat, menjadikanku pelarian.

kau suguhkan bagian inti tubuhmu

yang tuntas kau sayat untukku

seperti merayu, seperti menunggu jawabku.

tetapi maaf, hatiku telanjur berkarat

mustahil kusucikan ulang untuk kau

yang telah punah, terkubur kenangan.

2020


Ingatan Masa Lalu

aku penyair, datang dari masa lalu

diutus kenangan untuk menjenguk

riwayat harimu yang penuh rindu.

aku tahu, ragamu tak lagi utuh

tak lagi mengandung aku

sejak ia tiba mengetuk

kesepianmu pascaperpisahan itu.

aku tahu, bekas pelukanku

mungkin sudah kau basuh

kau sucikan dari tubuh

dari ingatanmu yang keruh.

aku tahu, ia mencintaimu

sedekat nadi dengan denyut

sedekat jantung dengan degup

sedekat hidup dengan maut.

sementara kau tunduk

pada ingatan masa lalu

ingatan semasa denganku

yang gagal kau lupakan itu.

2020


Hujan Jatuh

hujan jatuh dan yang basah

adalah ingatanku tentang kau.

setiap rintik di atap kuangkakan

sebagai rindu yang betah berdenting

menghitung bulir-bulir detik

membahasakan kita sebagai kekasih

yang piawai merawat rasa sakit.

hujan jatuh dan yang basah

adalah ingatanku tentang kau.

setiap helai gerimis yang hinggap

di jendela kamar kumaknai sebagai kau

menghitung butir-butir waktu

menangkap aku sebagai masa lalu

yang piawai mendatangkan rindu.

2019


Permaisuriku

            ─ Wei Gu & Putri Wang Tai

permaisuriku, putri gubernur wang.

sebelum mimpi jauh mengular, dengarlah

dengar apa yang hendak kuselipkan di alkisah:

seorang lelaki nyaris membunuh takdirnya sendiri.

114 tahun silam, ia meminjam namaku

lengkap dengan tubuh dan silsilah keluarga

ke songcheng dikawal para pelayan.

2suatu malam, bulan berguguran di pasar

ia jumpa lelaki tua tak dikenal

yang begitu saja membekukan sabda:

3“kuberitakan padamu, wei gu.

demikian takdir rampung disusun

dan kepada gadis berpelayan buta itu

kelak bakal kau persembahkan hidup.”

4tapi ia tak percaya dan murka.

lantas menitahkan utusan agar segera

menikamkan pisau ke tubuh gadis

yang tak ia kehendaki adanya.

permaisuriku, putri gubernur wang.

14 tahun silam, usiamu menginjak 3 angka

dengarlah, dengar apa yang hendak kukisahkan:

seorang lelaki nyaris menikahi penyesalannya sendiri.

5ia gagal merayakan kematian gadis

sebab utusannya tak cukup akal

bersilat pisau di tengah kerumun orang.

6kemudian, berlari ia menjauhi kota

sembunyi dalam rahasia, dan berharap

tak seorang pun sanggup mengingatnya.

714 tahun berjalan, ia lalu dijodohkan

dengan putri gubernur xiang, wang tai:

seorang gadis yang 14 tahun silam

pernah begitu ingin ia musnahkan.

permaisuriku, putri gubernur wang.

sebelum mimpi jauh mengular, dengarlah

dengar apa yang hendak kusenandikakan:

14 tahun silam, andai kau sampai berpulang,

siapa yang bakal kusanding di pelaminan?

2019


Jika Terpaksa Kembali

kelak, setiap jalan dan tempat yang sempat

kita singgahi akan pikun pada waktunya,

dan kita menua dengan derita yang berlainan.

jika terpaksa kembali, rupa kota tak lagi sama

jangan mengenang, jangan mengenang!

tentarakan dirimu, cekal air mata sebelum jatuh.

berjalan dan singgahlah di mana pun, tanpa aku.

biar kota tumbuh dan memulihkan rupa

dari jejak kesedihan kita yang parah.

2019


Sisakan Air Mata

sisakan air mata

sisakan sehelai untukku

di perut gelas yang dalam

tuangkan, tuangkanlah segera

biar lekas kuteguk segala

kesedihan yang ada

kita hampir berpisah

hampir kembali asing

untuk tetap mengenal

semua yang bakal sudah

esok, akankah kehilangan

lebih mudah diterima

daripada bertahan

dari debur amarah?

sisakan air mata

sisakan sehelai

untuk kita perderas

selepas resmi berpisah

2019



Daffa Randai,
lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Alumnus mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Presiden komunitas Pura-Pura Penyair. Buku tunggal perdana: Rumah Kecil di Kepalamu (Purata Publishing, 2018). Beberapa puisinya terbit di buku antologi bersama, media cetak dan online. Bisa dihubungi lewatsurel: randaidaffa22@gmail.com atau Instagram: @randaidaffa96.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *