Puisi

Puisi Daru Sima S.

September 17, 2019

Palugon—Selain Pulang, Apa yang Dicari Setelah Kepergian

pulang, pada perasaan Ibu yang menunggu di balik pintu

sebagai iba yang menjalar dari ujung baju ke ujung jiwa yang ditingkap segenap jiwa

dada Ibu serupa lengkung gamelan

dengan ning-nong lantunan gong

aku pulang dengan perasaan haru

setelah jawa dan sunda bercampur jadi satu

pada diri dan juga tubuhmu

sedikit-sedikit bisa, sedikit-sedikit lupa

sesekali kulihat bapak

menghidu cangklong, memijit lututnya

yang sering berderit

sedang ular derit telah tiada

berpindah dari kaki bapak, ke bapak yang lain

demikianlah keluhan itu menjalar

setelah aku tiba dengan uban dan sepa

tiang-tiang rumah dan rumbia

sudah lama berganti rupa

tinggal satu-dua masjid yang bergaya Masjid Demak titisan aulia

tapi pulang adalah keharusan

jalalan  menanjak ke utara dari Wanareja

orang selalu bertanya

Palugon itu sebelah mana?

aku bilang tiga desa terakhir Wanareja

Palugon, Jambu, Cigintung—Palujantung

yang jalanannya dipenuhi hutan pinus dan kabut

dekat ke Banjar, dekat ke Cirebon

oh, demikianlah jawaban ketidaktahuan itu

sedang aku terus bertanya pada jiwa            

selain pulang, apa yang dicari setelah kepergian

dan lengkung dada Ibu, abadi dalam ingatan

Palugon, 2019


Kisah Kasih

kisah selalu saja kasih

yang asih dan asuh antara engkau dan aku

aku menceritakan sesuatu

di kepalamu, ialah cerita yang lain

namun kita tetap satu

seperti api dan lilin

yang benderang

di gulita malam

Palugon, 2019


Apa yang Sudah Kulakukan untuk Mencintaimu

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

pohon-pohon tersingkap angin

botol-botol bekas di pinggir kali

berhenti mengalir dan sungai kering

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

hujan diluar musim

sumur-sumur berwarna kuning

dan ombak menjulur ke tengah-tengah daratan

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

cericit burung dalam ingatan

anak-anak melihat dalam gambar

abjad-abjad di tempel penuh di dinding

mengeja dan menghitung

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

seratus untuk kebenaran

dan mengaku salah adalah keburukan

sedang pohon manggis

dalam wujud bunga mulai berguguran

kini mencintaimu, makin samar

Palugon, 2019


Ibu yang Pencemburu

pada perasaan bahagia

di ladang-ladang orang

Ibu merasa wajib cemburu

pada nasib musang yang memakan biji enau

dan biji jatuh lalu tumbuh di lahan gersang

ada yang bernasib baik, ada yang biasa saja

ada yang mati sebelum berdahan

ada yang busuk jadi makanan semut rangrang

tapi Ibu tetap memandang

pada dahan yang bunganya

                                    banyak nira

Palugon, 2019


Terapung Aku di Sungaimu

terapung aku di sungaimu

                                           kekasih

sebagai plastik bekas

yang mencari tempat singgah

                                           rumah dan cinta

barangkali pada api pembakaran

aku benar-benar mati

dan tak akan lagi mempertanyakan

                                           cintamu

Palugon, 2019


Pada Gigil Pagi

pada gigil sebuah pagi

yang gemetar seusai mandi

aku mengikat ujung baju

pada batang-batang bambu belah

sebagai awal hari

dan kuucapkan, selamat

rengkuhan tanganmu

akan sampai padaku

asuh yang asih

tanpa pengawet

tanpa sampah plastik

tanpa jarak yang renggang

setelah sepuluh hari dari hitungan pertama, hujan rahmah

sudut gelap kita, barangkali gugur

aku hanya bisa menerka

dari pandangan kita

yang tidak pernah sama

Palugon, 2019


Menumbuhkan Pohon Kopi

dalam pandangan Ibu, pohon kopi tumbuh baik

sejak akar, dahan, daun , dan biji

mengkilap bebas duri, tentu saja

pada gulma yang tumbuh, ia titipkan berkah

di bukit Bunisari ia sedekah

persembahan tabah batin yang lapang

pada butir-butir merah phoska

atau hitam kelir kotoran domba

ada yang setahun, ada yang tiga tahun

pohon sumringah dalam genjah

Palugon, 2019


Melihat Buku Berserakan

seandainya kita berak buku, kemudian bertelur sembarangan

di kota-kota yang pikuk, hutan yang jadi tempat wisata

sawah yang masih dibajak gembala

dan tentu saja, jalanan yang sudah mulai sedikit lubang-lubang

ada yang senggama di pikiran kita

melihat mobil mewah, insan yang gemerlap

dan rumah dengan arsitektur sumringah

ada juga kesepian kita

yang mati sejak lahir ke dunia

kata-kata baik, bisa jadi bijak

kata-kata tak beraturan, bisa jadi berantakan

dipungut dan dibuang

Palugon, 2019


Membelikanmu Bulan

aku ingin membelikanmu bulan

di toko-toko pinggir jalan

sebab matamu teramat luas menguasaiku

kutebas semua duka lara

kutebas dengan pisau jiwa

jika musim hujan tiba

alir jiwamu menghangatkanku

serupa beludru domba Adam

jika musim kemarau tiba

tatapmu menyejukkan

menjadi salju jiwaku

aku ingin membelikanmu bulan

menyebrangi pasang lautan

bersama angin

menyusupi jiwamu

Palugon, 2019


Pada Pohon Jeruk yang Tak Lekas Berbuah

daunnya yang legam

menziarahi waktu, rimbun

aku telah bertualang

dari wilayah seberang

dimana pohon jeruk setinggi dada

ditingkapi buah-buah

dan aku, kekasih

membayangkan banyak daun

sepadan dengan keringat yang mengalir

bersama pantulan sinar mentari

sebagai buah

ada banyak rindu setelah masa tanam

ada banyak pendoa saat masa bunga menjelang

ada yang mati, terusik hama, ada yang di antara kita

tidak saling mengenal—sebagai orang asing

aku kemudian memandang

pohon jeruk menghitam

menunggu hujan, dan engkau datang

sebagai kekasih dengan bulat

buah matang

Palugon, 2019


Daru Sima S., tinggal di Palugon-Cilacap. Ikut mengelola komunitas baca Pojok Pustaka Majenang. Buku puisinya Di Pinggir Kolam, Mengaji Pada Ikan-ikan diterbitkan Unsa Press (2018).

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *