Puisi

Puisi Daruz Armedian

March 9, 2021

di luar ketiadaan

di luar ketiadaan, sesuatu yang tak teraba

oleh mata terbuka, menciptakanmu,

menciptakan ruang dan waktu,

nama dan bahasa,

rindu dan cinta,

semesta.

di luar ketiadaan, semesta menjadi

kekosongan. rindu dan cinta lebur,

nama dan bahasa hancur,

ruang dan waktu remuk,

dirimu tak terbentuk.

di luar ketiadaan, tampak

hanya ‘ada’, yang akan

menutupi ‘ketiadaan’ itu sendiri.


kemungkinan

mungkin, di bawah pohon itu,

kita pernah bercengkerama.

soal filsafat dan agama,

soal ada dan tak ada,

soal moral dan dogma,

soal muasal bahasa-bahasa,

soal adam dan hawa,

soal penciptaan dunia,

dan sebagainya.

tapi mungkin tak seperti itu.

kita tak pernah di sana,

tak bercengkerama soal apa pun.

yang ada hanya angin

menggugurkan daun-daun.


distopia

aku terjaga dan tak menemukan diriku

yang sesungguhnya.

berjalan dengan kaki yang tak menginjak

sebagaimana mestinya.

memandang dengan mata yang buta.

ruang sepertinya hanya terbuat dari kegelapan.

duh, tuhan yang menguasai alam,

kenapa mesti ada kebangkitan?

tak ada musik

mengalun di sini,

apalagi cericit burung pagi hari,

apalagi nyanyianmu

(yang di telingaku

kuanggap sebagai kebahagiaan tertentu).

duh, tuhan yang menciptakan bunyi,

kenapa mesti ada sunyi?

sesekali kurasa ada yang memanggil.

pelan-pelan tapi bergema.

mungkin dirimu

tapi tak kutahu itu di mana.

arah jalan semakin lama

semakin bercabang

dan setiap cabang

hanya berisi kekosongan

tuhan, sejak kapan kita berjauhan?


setelah kata-kata tak ada lagi

setelah kata-kata tak ada lagi,

dengan apa kita bicara,

menulis puisi,

dan mengarang cerita?

kepada apa kita musti membaca,

memahami,

dan menduga tanda-tanda?

bagaimana cara berbagi,

berjanji,

dan menjawab tanda tanya?

setelah kata-kata tak ada lagi,

mungkin hanya hening,

dan kita menjadi batu,

bisu,

mungkin hanya dingin

yang lain.


lekas peluk aku

lekas, lekas peluk aku dan tenangkan

keriuhan di kepalaku. makin hari,

bumi makin lupa cara menerima

manusia. kota makin membara,

dan hujan jatuh lebih sering dalam

bentuk melankolia. duh, manisku,

aku mencintaimu di tengah-tengah

kepadatan penduduk, di sekitar

kerumunan buruh harian, anak

jalanan, gerombolan tunawisma,

dan sebagainya. aku mencintaimu

pada zaman di mana aparat

tak pernah bersahabat, pada waktu

di mana pemerintah lupa menaruh

nuraninya. lekas peluk aku dan

tenangkan keriuhan di kepalaku.

sebab negara tak pernah memeluk

penduduknya. tak menjamin

ketenangan rakyatnya.


hatiku gelombang

hatiku gelombang:

bergemuruh

dalam pencarian.

dan kau pantai:

menunggu

dalam keheningan.

untuk dapat bertemu,

keakuanku perlu selesai.

perlu lebur menjadi buih.

hancur menjadi kekasih.


cara terbaik membuka mata

setelah kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.


percintaan kuli bangunan

o astaga, di ruang ini kita cuma berdua.

selain itu; kalender tahun lalu,

gitar tua, jendela yang tak terlalu

beres engselnya, dan jam dinding

yang kelihatan lain. kamu mau

kutandai lehermu? atau telinga?

atau… tutup pintunya. dalam

percintaan kita, jangan ada

yang boleh masuk, apalagi aturan

negara. di luar, biar berkecamuk,

biar kota sibuk merawat polusi

dan polisi (dua hal yang amat

mengganggu ini). biarin aja.

keringat kita, pelan dan amat pelan,

menyusun bahasa, yang tidak

dipahami oleh para pembenci;

oknum partai, pemegang kekuasaan,

ustaz palsu, pendakwah gadungan,

aparat taik, kontraktor taik, bos taik.

o gendaanku yang paling yoi,

jangan tidur malam ini. kita

main sampai pagi. sampai pagi.


aku akan memelukmu

aku akan memelukmu dalam

bentuk bayangan tidak utuh,

asing dan jauh. lalu cerita

soal hidup dalam kesia-siaan

dan kematian dari orang yang

terlupakan. aku akan menyiram

pohonan yang subur di tubuhmu

dengan air mata kedukaanku:

selain kebahagiaan, kesedihan

juga butuh dibagikan.


aku ingin menyudahi kesedihanku

aku ingin menyudahi kesedihanku

sebagai manusia

yang kerap gagal memaknai

jalur-jalur hidupnya.

menjadi batu, misalnya,

atau cemara atau keheningan beranda.

diam dan mengamati

bagaimana cara manusia

meluaskan kebodohannya sendiri.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya pernah tayang di media cetak dan online. Buku kumpulan puisinya, agaknya mau terbit tahun ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *