Puisi

Puisi Daviatul Umam

May 12, 2020

Telur Rebus

Palung malam di ujung

demam, kau gedor lelapku

hanya untuk membuka pintu

selera akan sesuatu yang kau

tahu tidak kusuka. Atas petuah,

penghalau wabah.

Telur di piring dicolong kucing,

berikut kesabaranmu. Suhu sisa

subuh dan semburat matamu

nyaris sama, menyentuh sukma

yang belum kembali seutuhnya.

Pagi menyibak jendela. Amis

telur berserakan di mana-mana.

Di tengah kemurungan semesta,

masih saja ada penular kegilaan.

Inikah wabah yang bakal abadi?

Bogor, 2020.


Aubade

Aku suka embun, kecuali

yang bergelantung pada

bulu matamu.

Seperti aku menyukai puisi,

tapi bukan yang tumbuh

dari keangkuhan.

Aku suka cara jari-jarimu

bekerja. Hanya saja lidahku

belum mampu membayarnya.

Maafkan aku yang dalam hal

mencintai, masih kalah hati-

hati sama puisi sendiri.

Sumenep, 2020.


Kopi Januari

Kopi sudah ampas, Sayang.

Sudah tiba aku di dasar pencarian.

Cawan sedingin almanak usang

yang kau tinggal menuju lembaran

baru. Tanpa kenal lagi

angka-angka rindu.

Halaman demi halaman buku kita

buka. Kata demi kata pun lihai

membuka diri kita.

Angin membagi-bagi sedap

melati. Kita menerimanya sebagai

pengharum ruang dada. Dada

yang menahun berlumut sepi.

Kopi sudah ampas. Tapi tak perlu

menyeduh lagi untuk meraih hangat.

Sumenep, 2020.


Kopi Susu

Terberkatilah aku di hadapanmu.

Menjadi gelas panas yang kau angkat,

lalu bibir kita bersatu melumpuhkan

cuaca dan bahasa.

Dengan lembut kau seruput kopi susu

dari golak batinku. Sampai tandas,

sampai dingin-kaku sekujur tubuh.

Tak apa jika sesudah ini tiba-tiba aku

pecah berkeping-keping. Aku bahagia

telah mengalirimu kehangatan sebagai

amal bajik, sekaligus bisa membawa

bekas kecupmu sebagai bekal terbaik.

Bogor, 2020.


Soto Ayam

Akhirnya kita punya menu

baru, setelah yang berlalu cuma

menyisakan jemu. Kuah hijau masam

perasan jeruk nipis, bertebar irisan

daging ayam dan kubis. Tak ada

kecap dan sambal kacang, ketupat

atau lontong yang kita kenal.

Semua berubah. Ini bukan gigitan

rempah-rempah yang karib di lidah.

Kenikmatan terpenuhi. Tapi perasaan

tak mau mengerti. Ada aroma lain

yang ingin kita rebut. Ada asap lain

yang ingin kita tuntut.

Di tepi situasi yang berantakan,

hangat tungku ibu betapa kita

harap sebagai perlindungan.

Bogor, 2020.


Dapur Perantauan

Tanganmu semakin lentur

menyalakan dapur.

Tiada kuah kelor, sayur asem pun

jadi. Seikat jenis sayuran yang kau

beli dari gerobak subuh itu asing

bagi mata kita, kecuali sepotong

jagung dan pepaya. Tanpa resep,

kau taburkan saja bumbu instan

yang justru mendustai pengecapan.

Sementara tempe gorenganmu

menyuarakan rasa terbaru. Seolah

menutup semua celah dari aneka

lauk kota. Berbalut tepung kemasan,

merayu angkara dan candu. Kendati

ujungnya, kebosanan hinggap juga.

Saat influenza tiba menjerat badan,

giliran wedang jahe kau hidangkan

sebagai perlawanan. Bersama doa

pagi khusyuk kuteguk. Namun hanya

keraguan yang dapat melewati liang

tenggorokan. Jahe kehilangan bisa.

Kau kehilangan cara. Dapur tidak

benar-benar menyala.

Bogor, 2020.


Sepasang Pujangga

Kita tak lagi berkirim puisi.

Tak kan pernah lagi. Karena kita

sudah menjadi kata-kata terindah

sekaligus makna terpenting

bagi diri masing-masing.

Bermadah di atas suka-duka,

membina kenangan sebagaimana

pengabdian Wida dan Toni,

Dian dan Budhi, Benazir dan Fauzi,

Jamal dan Maftuhah, Indrian

dan Mutia, David dan Ibna.

Hidup penuh metafora, istriku.

Beruntunglah jika kita peka selalu.

Belajar pada alam, mengaji

pada keadaan ataupun ketiadaan.

Biarkan jemari waktu

menganggit jadi larik-larik puitis.

Di dalamnya kita berumah

hingga baterai jam kefanaan habis.

Bogor, 2020.


Derai Pertikaian

Selain karena cangkir akan

selalu beradu dengan tutupnya,

rabu yang melahirkan kita

sepertinya memang jadi landasan

kuat mengapa ruang sering kali

melarang kita berdamai.

Kita dipertemukan oleh keisengan

liar otak remaja. Selanjutnya tangan

dunia tak kalah liar iseng-iseng

mengeruk ketenteraman.

Aku sendiri tak paham, amarahku

serupa kumis tipis yang kerap

menyentuh pipimu geli. Hari ini

dicabut, dua hari lagi tumbuh.

Begitupun keegoisanmu. Batu

yang jarang gagal menjatuhkan

sepatnya buah sesal.

Alangkah sukar pemakluman.

Sebegini lemahkah toleransi

dalam dada yang berlumur cinta?

Bogor, 2020.


Supermoon

Semalam aku mendongak

ke atap jagat yang langka.

Menatap kesempurnaan wajah,

berpendar-pendar menyilaukan

penglihatanku padamu.

Ingin kupandang lebih lama,

walau tengkukku akan ngilu.

Hampir lupa kalau pusat cahaya

akan menyesatkan mata semata.

Bogor, 2020.


Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Buku puisinya, Kampung Kekasih (2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *