Puisi

Puisi Eko Setyawan

November 2, 2021

Membincangkan dan Mendengar Kitaro: Theme from Silk Road

kau susuri gerbang kematian.

diiringi tangis, juga doa-doa,

lewat bau dupa.

seseorang menghidu bau kehilangan,

seorang yang lain menenangkan,

dan seseorang lagi memalingkan muka

sekaligus mengamini (karena benci?).

akan ada raung sirine

mengiringi kepergian yang tak tahu kapan kembali.

kembali, barangkali sepiring kwetiau atau  mapo doufu di mangkukmu

dan kau lupa melahapnya

sebelum benar-benar pergi.

tibalah waktu kremasi.

di krematorium, segala yang kau punya, segala yang kau miliki,

lenyap.

terbakarlah tubuhmu menjelma abu.

—“kapan waktu terbaik reinkarnasi?” tanyamu.

barangkali ketika karma tak lagi menimpamu.

hingga akhirnya, kau tahu orang-orang yang menangisi, mencintai,

dan membencimu di Thiong Ting hingga persemayaman terakhirmu.

—“mengapa?”

sebab, karma adalah bom waktu.

meledak ketika kau menyadari bahwa kematianmu

tak lain adalah hal yang paling kau tunggu.

setelahnya, hanya tinggal kesedihan semata.

kepergianmu menyisakan duka.

tapi kesendirianmu di ‘dunia lain’

ialah kedukaan sesungguhnya.

matimu, menyusuri jalan ini.

hanya ada sunyi. hanya ada sepi.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kemalasan yang Kian Akrab

pernah kujumpai kau dalam lelap.

ketika kau bermata puisi dan bersuara minor.

seperti Buddha tidur,

tak dapat kubaca apa pun

selain puisi-puisi yang kulihat

dan suara yang jauh.

sama halnya di bukit Khao Kala,

tak ada yang benar-benar mustahil.

sebab manusia tak selamanya bicara tentang manusia

tidur tak ubahnya upaya telepati

antara aku, kau, dan ‘ia yang lain’.

atau, sebatas alasan

agar tak terjaga tiba-tiba.

kemalasan kita,

tak terlihat dan tak bernada.

tapi, aku masih setia mengeja

dan tentu, mendengar apa-apa yang tak bersuara.

mimpiku, mimpi paling lengkap

ketika kudapati kau membaca puisi

dan berkhotbah ihwal cinta,

juga pernikahan yang biasa-biasa saja.

(Solo, 2019)


Membincangkan Perpisahan

kata-kata belum selesai disusun

ketika kereta membawamu pergi.

aku memanggilmu,

punggung menjauh yang menjawabku.

ia berkata ‘cinta’

tapi tak tahu cinta macam apa

yang dikatakannya.

semula, kau meminta pergi

tapi pergi, bagiku, ialah memecah waktu.

menjadi remah jumpa

juga jadi air mata setelahnya.

di peron, seekor burung berkicau

merapal namamu.

tanpa nada. tanpa suara.

kau telanjur pergi,

kata cinta yang harusnya kumaklumi

tiba-tiba jadi belati.

mencacah ingatan.

menjadi debu. menjadi batu.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Pernikahan

sejak orang-orang mulai menyusun rencana pernikahan.

semenjak mereka menginginkan.

aku memilih memejamkan mata.

            : untuk tidur lebih awal.

bahwa pernikahan nisbi sebuah agama.

kita bisa saja memeluknya.

namun tak bisa memaksa mengamini.

kelak suatu pagi,

aku dan kau

pergi ke tempat di mana kau biasa memanjatkan doa.

kau memegang kitab suci dan membacakannya untukku.

di hadapan Tuhanmu, kau merapalkan untukku:

Tuhan, ampunilah segala perbedaan.

lantas kusampaikan pada Tuhan,

kami kelaparan

: pelukan.

(Karanganyar, 2018)


Membincangkan Rencana

yang tak dapat kita tata dengan baik adalah rencana.

sebab setiap detiknya, seperti jantung yang bekerja.

berhenti sebentar, mati akan mengunjungi.

sebelum benar-benar kau pergi,

lipatlah kedua lenganmu.

di sana, telah kau rengkuh aku.

mengapa kita masih saja bercakap?

keputusan bukan keputusasaan.

kita berbicara dan masing-masing dari kita

bebas bersuara. dan tentu, bertukar isi kepala ialah jawabnya.

langkahmu langkah yang limbung.

seperti lelaki tua yang mabuk.

anggur merah, jamur, dan sedikit obat sakit kepala

tak bisa menyelamatkan perjalanan kita.

sebab hanya pikiran kita, dan mungkin, cerita-cerita

yang benar-benar mampu memperbaiki keadaan.

tak ada salahnya mengumandangkan omong kosong.

sebab dari sana, cerita-cerita bermula.

kelak, rencana yang kita susun

tak selesai di kata rencana.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Mimpi

langit, kadang jadi laut.

menampung gelisah sekaligus amarah.

seseorang datang dari masa depan berseru,

“gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

seseorang itu lupa bahwa Tuhan ada di sana.

cita-cita, hanya dapat terwujud

jika kau kenal Tuhan.

Ia telah mengenalimu

sebelum kau ada.

apa kau demikian adanya?

mimpimu menggulung.

mendamparkan ke tepian.

takdir, barangkali air pasang.

ia menyisihkanmu.

agar kau tahu,

mimpimu ialah aku, kau,

atau sesuatu yang sebenarnya

tak pernah kau kenali sebelumnya.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Suara di Ponselmu

“lekas pulang.

ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”

suara itu masuk ke ponselmu.

di kepalamu, meja makan menanti kedatanganmu.

nasi hangat, sayur bayam,

juga sepotong ingatan yang memudar.

kau mengambil sepiring nasi.

kau mengingat bentang sawah

dan di sana masa kecilmu kau habiskan.

kau menuang kuah sayur bayam.

tapi kau tenggelam.

dalam. semakin dalam.

tenggelam pada hati ibumu.

kau membaca ingatan yang tersisa.

ibumu, telah lama tiada.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Teka-Teki

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Barzanji

: suara anak-anak Palestina

pernah kudengar gema di langit

dan setelahnya, kembang api mekar.

seketika seluruhnya sirna.

rumah, mimpi, dan kebahagiaan perlahan susut.

runtuh dan gugur satu demi satu.

kuucap dan kurapal doa. tak henti-henti.

tiap detik, tiap menit, tiap detak, dan tiap embusan napas ini.

agar di sini, di tanah ini, kami bisa berbahagia.

kebahagiaan, adalah ketika kau diberi harapan

dan apa yang mereka beri bukan semata janji.

kadang, harapan hanya semata sesaat legawa,

tapi di hari berikutnya, mimpi itu pupus dan kembang api, lagi dan lagi menghujani.

sebab di sini, di tanah ini, ego jauh lebih penting daripada nyawa kami.

mereka menyerukan perdamaian

diiringi dengan mesiu yang terlontar dari senapan.

mereka menyerukan kekerabatan

diiringi kehancuran yang sengaja mereka kirimkan.

tapi di sini, kami tak menanam benci.

sebab hanya Allah yang berhak menghakimi.

hanya doa dan pinta yang tak ada jeda

tiap detik, tiap menit, dari bibir dan hati ini.

juga tak henti kami lafalkan barzanji.

sebab hanya Allah yang mampu melindungi dan menyelamatkan kami.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kunjungan Batara Kala

1/

seandainya bencana itu tidak datang, Kunti

barangkali langit akan tetap bergema dan kegelisahan-kegelisahan

yang menyelimutimu tak akan sampai membuatmu putus asa.

sebab dalam kebencian yang telanjur menyebar,

semua harapan yang telah kau bangun pupus.

Batara Kala telanjur tiba.

ia datang entah sebagai hukuman atau ujian.

keduanya tak ada beda.

seluruhnya membuat sengsara.

2/

perang, juga pagebluk,

adalah bentuk lain dari doa yang gagal terjawab.

Kuru telah jadi ladang perang.

kunjungan Batara Kala menjelma kutukan.

ia tiba sebagai wabah yang menjalar.

dalam hatimu, semula ialah taman bunga.

anak-anakmu hidup dan tumbuh di dalamnya.

tapi tak berselang lama, bunga-bunga di hatimu layu.

sebab tabiat anak-anak yang tak sesuai kehendakmu.

—pageblug mayangkara murup mulat-mulat.

3/

kegelisahan bukan hanya semata dalam dirimu, Kunti.

: hati Durna tak jauh beda.

kedamaian pada dirinya menjelma api.

disulut perangai murid-murid yang tak tahu diri.

kini,

kenyataan harus kau terima.

sebab, di seberang sana,

serapah dilafalkan agar kematian lekas datang.

sementara di sini, di tanah yang kau pijak, tak jauh beda,

doa dirangkai sebab benci telanjur tumbuh di hati.

agar kelak, Pandawa berjaya dan Kurawa sirna.

—apakah maksud kedatanganmu Batara Kala?

4/

pertanyaan, adalah jawaban dari tak sempurnanya doa.

dari sana, pertanyaan yang terlontar ialah jawaban itu sendiri.

jawaban tak ubahnya kepingan teka-teki.

bukan hanya kau yang mengajukan tanya, Kunti, Durna juga

: ia tak paham kenapa.

Pandawa dan Kurawa,

tak ubahnya seperti burung yang tak mengenali jalan pulang.

selepas kunjungan Batara Kala.

mereka lupa muasalnya.

lantas Kurusetra membara.

Batara Kala telanjur tiba,

perang dan pagebluk kini nyata di depan mata.

Kunti, kau harus ikhlas untuk seluruhnya.

(Karanganyar, 2021)


Eko setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku puisi Mengunjungi Janabijana memperoleh penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Antologi Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *