Puisi

Puisi Eko Setyawan

May 21, 2019

Memulangkan Pelukan

1.

pagi masih hangat.

meskipun pelukan sudah beranjak pergi.

2.

tak kutemui dirimu—

di sela-sela udara

yang memukul-mukul kenangan di kepalaku.

apa tak ada yang lebih berbahagia selain

kesedihan yang mengurung diri?

3.

“begitulah nasib bekerja, ia lebih keras kepala

dibanding cinta yang ditanam.”

4.

segala hal, tak pernah di mulai

jika tak ada akhir.

hari ini adalah kemarin yang lahir

dari tangisan di rerumputan yang menjelma embun.

            : di sembab matamu.

lesaplah kesedihan itu.

merupa cahaya yang memancar.

dari balik gunung yang jauh.

5.

selalu tak dapat kusapu binar matamu.

bergegas pergi dan mengemas diri.

kubekali kau tenunan langit pagi.

agar sewaktu-waktu—

kau dapat menyelimuti diri

dan kau dapatkan lagi pelukan

yang sengaja kau tinggalkan.

(2019)


Merapikan Ingatan

tak ada yang bisa kukecup selain rona pipimu.

ia merah muda.

seperti kedua tangan selepas bertepuk tangan.

seperti menjadi sejumput awan,

sekecil apa pun, ia tak akan tahu—

ke mana angin akan mengajaknya pergi.

begitulah cinta bekerja.

ia seperti doa.

dirapal khusyuk bagi ia yang meminta.

keinginan adalah doa yang terus menerus ditebar.

kita hanya bertugas menerima.

“tapi adakah yang sudi merapalkan duka?”

“tapi— adalah kata yang tak menolong.”

pulanglah tanpa alasan.

tanpa benar-benar berpikir bahwa—

di dunia ini, di kepalamu,

bersarang ingatan tentang perpisahan yang menyakitkan.

(2019)


Cinta yang Berlebihan adalah Bencana

1.

kujadikan diriku pedestrian dan tak

kudapati apa-apa selain perjalanan yang jauh.

kuikuti langkah kaki.

pergi dan tak tahu arah kembali.

2.

kukira cinta yang menuntunku.

namun setelah kubaca ulang karcisku.

ternyata hanya kesedihan semata.

3.

aku keras kepala.

kugiring kesepian pada kegelapan.

tak ada apa-apa.

tak kutemukan tempat baru.

segalanya berbekas dan tetap sama.

4.

kurapikan ulang langkah kaki.

kuingat benar bahwa− kau atau mungkin yang lain−

pernah berbahagia dengan cara yang sederhana.

5.

“bukankah cinta yang berlebihan adalah bencana?” katamu.

6.

kutarik langkahku. kupulangkan pada jalan

entah menuju ke mana.

(2019)


Mengemas Kesedihan

kutekan tombol silang pada remot.

hidup berhenti barang sesaat sembari menunggu

kereta yang mengantar rindu kembali ke dada.

matahari bermukim di atas kepala.

mekar dan memberi cinta di bawahnya.

“apa yang telah kembali?”

cinta yang pergi menjauh.

kereta yang lupa mengerami peron.

cinta yang lahir dalam deru kereta.

mungkin pula matahari  masih ada di atas kepala.

tak ada yang boleh bersedih di antara kita.

(2019)


Kau ialah Puisi

             : perempuan penjaga ruang CR

kuhirup bau buku-buku—

terselip semerbak namamu.

ruapnya ialah taman bunga.

ia menyebar di tubuhku.

menjadi pelukan yang tak henti-hentinya diberikan.

matamu, seutas puisi yang belum usai.

bercahaya dan enggan padam.

menunggu hingga titi mangsa disematkan.

senyummu cahaya.

menembus sela-sela jendela.

menjelma siluet yang hangat.

niscaya.

seluruhmu.

aku.

(2019)


Memadamkan Kenangan

gugurlah ia melawan cemburu.

dalam dada yang biru sempurna.

seumpama mati.

hidup adalah bertahan.

di tengah segala putus asa.

cinta seperti awan yang ranggas.

tak ada yang disentuhnya.

selain langit yang padam.

turunlah hujan dan turunlah pula malaikat.

seraya berbisik—

“usaikanlah kenangan, ranggaslah kesedihan.”

(2019)


Ruang Maaf

tak ada yang bisa dijawab setelah persinggungan

antara baik dan buruk.

tangan kanan tak lain kabar yang semu.

serupa sebuah sentuhan dan pukulan kecil di bibir.

tebakan buruk dianjurkan untuk diubah menjadi kapal

di buritan, air menyepi dan menggantung pada lengan kiri

menjelma pundak bagi si murung.

terbuat dari apakah jawaban?

seperti kalung tanpa liontin, malam

tanpa suara jangkrik, jalanan

tanpa pengendara, aku tanpa kau.

untuk kembali mengikatnya

entah seuntai tali atau makian— perlu ditautkan

pada sebuah huruf yang saling bersisian

hingga kita dibuatnya jatuh cinta.

sebab tak ada pertanyaan yang berganti

pahala dan dosa tak ubahnya sepasang kesalahan

yang tak hentinya direngkuh oleh maaf.

dan ketika segalanya usai.

usia mengabur dan bimbang memandang.

masih adakah ruang maaf di kepalamu?

(2018)


Perihal Masa

Aku magrib, kau subuh.

Kita senasib, tapi tak utuh.

(2019)


Eko Setyawan, Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *