Puisi

Puisi Fatah Anshori

April 19, 2022

Moynihan, 1912

Pemangkas daging itu bekerja di antara cemas nyawa yang terkupas, was-was. Ahli bedah menggunting ruang lain di Berlin dalam lekuk-lekuk bahasa di keningmu. Orang-orang di jalan menggambar jurang dalam dirinya masing-masing seperti kelamin-kelamin yang berceceran di dinding kota dan beranda media. Ketakutan menganyam ulang sarangnya di kepala dan diri yang resah. Ah… hati seekor singa harus menyaru dalam lelaku, tangan seorang wanita, yang kau pelihara dalam tiap-tiap diam: mekar dalam sepuluh sangkar yang mengurung rupa wajah kota. Potret murung suatu gedung: mall, bioskop, taman kota, stadiun bola terangkum dalam larik-larik kata di beranda harian seorang remaja. Sebuah keluarga mati dalam ruang isolasi, ruhnya menguap di antara pengap baju hazmat. Kau masih bekerja memangkas ulang daging-daging di kening ingatan yang tumbuh tak keruan, menutupi pandangan: hanya gambar-gambar buram kehilangan. Masa depan hanya dongengan yang tertinggal di buritan sebuah kapal yang telah karam.

Lamongan, 2021


Phenobarbital

Awalnya nyeri, yang kerap kau jumpai dalam hubungan gelap di setiap derap kaki-kaki yang basah akan gelisah. Ada suara tembakan yang coba diredam dalam pesan-pesan yang tenggelam di rahim zaman. Notif penting dan tak penting berlalu seperti kerlip traffic light. Di perempatan jalan mereka mengusung upacara perayaan masing-masing tubuh, budaya yang merangkak seperti kura-kura digital dalam jaring laba-laba. Lalu orang-orang menguap seperti mulut ikan koi yang melahap tai di empang-empang seberang mereka menanam kakus-kakus sederhana. Dan orang-orang mencicil nyeri tiap pagi. Tapi laki-laki itu masih berlari dalam angan-angannya sendiri, ketika pagi merobek lagi mimpi-mimpi mudanya menggantinya dengan kenyataan yang tak enak dipandang. Realitas menggunting-gunting ideologi di sepanjang kepala hingga lambung mahasiswa-mahasiswi jadi kolam-kolam ikan lele, kandang-kandang itik, sawah-sawah yang minta diolah. Menjadi rupiah dan barang-barang mewah. Tapi di matanya segalanya akan pecah belah seperti hidup Haji Dullah, rumahnya mewah, tanahnya, istrinya, hartanya, sapinya, melimpah, tapi akhirnya pecah belah. Lalu di tanggal merah segalanya jadi merah. Haji Dullah berlumuran darah dan segalanya berserakan di tanah. Tapi segala yang pecah belah tak ia bawa ke tanah. Dan segalanya hanya jadi kisah yang kerap diasah oleh lidah-lidah keluh kesah. Tapi hidupmu adalah rasa nyeri di hati yang gagal disiasati atau diobati. Dan kau juga tak mungkin bunuh diri di hadapan sunyi tangis bayi dan istri yang dilumat api.

Lamongan, 2021


Catgut 900 M

Pada seluruh luka kita akan mengeja, berapa pendek dan panjang kesakitan yang musti dihubungkan, dibungkam, disembuhkan. Sebelum siksa di tubuh manusia menganga, kita hanya pipa-pipa mukosa di perut domba, setiap hari kita pamah rerumput yang jatuh dari lubang hitam dinding-dinding kelam. Tak ada jerit sakit, pendek atau panjang hanya nyanyian gudang penampung sebelum kran terakhir mengintip muara akhir. Dunia luar tanpa mercusuar, atau kita yang terbiasa menyala dalam legam. Percakapan-percakapan bungkam. Bahasa terabaikan dalam gerak peristaltik, dinding-dinding merah muda, berlendir, mahir mengeja rasa dalam asam basa. Mengaduk keduanya di lapang nihil. Tak ada kebencian makhluk lain, hanya benih-benih rerumput yang kita ramut dan pilah sesuai desah. Bising usus terdengar halus di sela-sela kita yang rakus: dinding yang tak pernah aus atau haus. Dan kita tak juga terputus, bekerja dan bekerja, meski nyawa tuan hilang sementara, kita budak sepanjang masa, sebelum luka manusia membutuhkan kita.

Lamongan, 2021


Hikayat Oximetry

:jenazah-jenazah dari rumah

Garis putus-putus warna biru yang lugu

mengapit buku jarimu yang layu

keriput di wajahmu seperti memetakan

masa lalu bersama angka-angka yang

mencuat di layar kaca sebagai neraca

kadar nyawa di dalam tubuh yang

kian rapuh:

-99%: kau berlari dalam kilometer

           -kilometer mimpi yang enggan

           menepi [dunia ini abadi] dan

           kau enggan menepi

           pada pucuk-pucuk sepi, tak ada

           aroma kenanga dalam raga.

-95%: kau saksikan jerit orang-orang

           terhimpit, tercekik, dalam

           ribuan derap kesusahan, yang

           samar-samar serupa memar

           tamparan perempuan yang

           pernah kau tinggalkan sebab

           perigi tak lagi suci

-90%: mulai ada yang terbakar dan

           tenggelam di dada, angan-

           angan berumah tangga, sambil

           menanam bunga-bunga gugur

           dalam grafik-grafik yang

           jatuh menukik ke dalam ambang

           kelam kecemasan yang terbit

           dari wajah-wajah iba di depan

           kepala: orang-orang tercinta

           bisa apa? ruang-ruang isolasi

           telah terkunci dan terisi.

-85%: kemudian hanya bayang-bayang

           awan di pertigaan mengambang

           di antara perjumpaan dan

           perpisahan. lolongan panjang

           menggantung nyaring di

           orofaring seperti jerit anak kucing

           yang menelan kail pemancing.

           hidup ini kian nyaring kian kering

           dering telepon dalam igauan

           tenggelam dan terabaikan, tak ada

           pertolongan pertama, kedua,

           atau ketiga, hanya ada sesak

           yang kian merusak di rusuk.

-70%: entah apa yang kian menipis,

           seiring hari-hari yang terkupas di

           ambang pelipis seperti ada puas

           yang teriris. tentu saja bukan jeruk

           nipis yang kau peras dalam gelas

           untuk meredakan batuk atau kutuk

           yang mengeras. tapi yang nihil

           seperti meremas nyawamu

           agar tandas dan lunas. segalanya

           terkuras dalam deras cemas

           apa-apa yang amblas.

-65%: lalu yang kau kenakan dan

           banggakan menjelma bayang-bayang

           samar di retina. pluit kereta atau

           derap langkah ribuan kuda

           menggenangi bangsal isolasi.

           tapi kau tak mengerti paru-paru

           yang tenggelam bersama jalan

           pulang. suatu malam di pekuburan

           dengan nyanyian berlumur tangisan.

           lembab, hijau, sembab dan

           berkeringat melekat hingga belikat.

-50%: kau berhadap-hadapan dengan

           jalan lain penuh dirimu dan gigil

           yang membiru di balik baju. sianosis

           merangkak dari jari ke jari. dyspnea

           mengambang dalam batang-batang

           igauan yang mengental bersama

           darah. …

-35%: aroma peziarah merekah

           dalam desah …

-0%  : dan gelisah

           luruh jatuh

           ke tanah …

Lamongan, 2021


Diathermy

Pada gelombang yang tembus pandang

Kau karang peta nyeri dalam tiap-tiap

Diri melewati lekuk lembah

Bukit daging dan segala

Daki yang menyelip di hati

Asam urat yang kerap buat hidup

Terhambat, membuat kakimu seperti

Terikat hutang negara

Dan terjerat pasal-pasal

Yang dibuat asal tanpa akal

Cahaya mengental tertimbun lemak

Di lipatan perut yang jarang

Diurut, minyak tawon atau

Balsem Lang dengan

Koin seribuan

Di antara orang-orang yang hilang

Kau selipkan igauan malam-malam

Dengan suara tembakan

Tapi kau mengerti

Mereka tak pernah mati

Hanya tidak bisa berdiri dalam gelombang

Tembus pandang tak ada

Yang musti dimaklumi

Dalam diri-diri ini kecuali

Nyeri yang tak terobati

Lamongan, 2021


Ether

Senyawa kimia yang kau

Racik di nganga luka

Membuat kita terjaga

Dalam jeda

Nyeri yang tak teraba

Tak terbaca meski dengan

Neraca surga yang

Pernah menaksir dosa-

Dosa umat manusia.

Luka ke mana-mana

Menjalar sepanjang arteri

dan vena, tapi tak ada

Kata siksa menari-

Nari serupa

Biduan orkes kampungan,

Yang disawer seribuan.

Tapi di sejengkal daging

yang belum kering, mereka

Mencari amsal jerit

Ketika malam melumat

Seluruh tubuh yang pernah

Berlabuh pada riuh

Kota yang sementara,

Selebihnya duka

Tapi tak terasa

Apa-apa.

Lamongan, 2021


Chloroform

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam aus atau apkir

hidup yang kian

ke pinggir mencicip

lagi wangi orang-orang mati.

Kenanga, angsoka,

pandan, dan mawar

-mawar yang gugur

di gundukan.

Ambang luar dan dalam

pada retina, melayang ke

hitungan tanggal-tanggal

merah di balik kerah baju hanya

ada kau yang malu-malu

dalam tidur panjang kerap ada

yang hilang dalam dada mimpi

sesunyi hari sebelum

pagi mengetuk amsal sesal,

lubang-lubang yang

bercabang

memakan

igauan.

Lembar-lembar asing

di kening karyawan, tagihan

harian, cicilan bulanan, pajak

tahunan, negara menjahit

luka di punggung warganya

dengan bara yang menyala

seperti lampu jalan

di tengah malam.

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam kelam yang

benderang di ujung jalan

hanya persimpangan dan

potongan-potongan

tangan yang pernah hilang

di ambang lengang.

Lamongan, 2021


Cranioplasty

Penjahit daging terasing dalam sketsa tubuh

Tanpa jendela, pintu dan langit-langit yang

Menghadap tilas di balik batu,

Aroma kaldu manusia, belulang-

Belulang dari penggalian ulang

Makam-makam yang mengambang

Sejajar igauan biduan kondang

Yang ditiduri ratusan mata

Meruah di hadapan lusa.

Tiap hari kepala-kepala plastik berisik penuh

Kerlip sisik tembakan-tembakan di perbatasan

Palang pintu yang dipasang

Melintang di ambang mimpi.

Orang-orang meludahi sepi,

Dalam diri sendiri, tapi apa

Yang musti dicari ketika

Hari-hari hanya dentuman

Innalilahi, Yang kian kemari?

Lamongan, 2021


Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Bukunya yang telah terbit Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, Majalah Suluk (DK Jatim),danpernahterpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra, Songgolangit Creative Space dan KOSTELA.Dapat disapa di Instagram: @fatahanshori dan Facebook: Fatah Anshori.

Leave a Reply

Your email address will not be published.