Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

June 21, 2022

Wajah Mematung

kulihat seraut wajah mematung

dengan nasib terkatung-katung

pada bayangan lorong gelap

menyingkap tabir tak terungkap

“di sini tatapan sinis adalah lumrah,” ucapmu

“sebab kemurungan terlalu lama digelar

dan secuil senyuman kecut

telah menjadi kegilaan yang ramah.”

“lantas kenapa kau masih berdiri angkuh?” tanyaku, “sedang singgasana berduri tak kunjung kau rengkuh?”

“entahlah, aku sudah mencoba,” jawabmu

“dari mengibas tanganku sampai buntung

hingga melilitkan lidahku untuk dipasung

hanyalah kekosongan yang kudapat,

dan pada gelapnya lorong inilah

aku bisa merasakan kegetiran yang kudambakan

menikmati sepi yang meringkik dengan merayapinya

menikmati sunyi yang merangkak dengan merasukinya.”

(pelan-pelan ia melangkah pergi dan hilang ke dalam bayangan)

kini berbalik aku melihat wajahku sendiri

dalam wajah yang mematung itu.


Wajah

/1/

ribuan sembilu menyayat waktu

tangisan pilu bertalu-talu

lalu mengutuk

untuk memburu

wajah itu

/2/

pada sekeping cermin

yang disapu angin

kulihat wajah dingin

yang berwarna asin

wajahku, wajahmu atau wajah kita?


Hutan Beton

di kota ini bagiku

semua hal terasa asing

sedikit sekali yang tersisa

selain rimbun hutan beton

yang menjulang subur

di tengah kejomplangan

menghampar sepanjang pelupuk mata.


Hujan Kenangan

hujan ialah segala bait kenangan

yang tergeletak di tepian jalan

untuk dikunyah-kunyah

menjadi seperlima irisan jeruk

dalam sewadah es batu

yang dikupas di landasan kayu

lalu dituang ke mangkok kuah kari rasa keju

dengan beceknya bulir-bulir padi

dan diseruput tanpa puisi.


Ngopi Sederhana

aku ingin ngopi

dengan sederhana

tanpa gula

tanpa susu

tanpa kamu di sisiku.


Kecemasan

pada akhirnya semua memang kembali ke awal

ketika deru cemas di panas paling cadas

melahirkan percakapan yang menguap di udara

seperti sebuah pilihan yang kita pilih

meski tidak benar-benar kita pilih

bagaikan langkah maju dalam keanehan

yang mengaduk prasangka hari depan

seperti rumor bising dalam kegilaan

yang berembus dengan ketidakpastian

semua mengendap bersama pertanda buruk.


Histeria

seorang lelaki dengan raut sumringah tanpa keraguan

berjalan mantap menuju lapangan penjagalan

tempat dimana ia akan dipenggal bersama teman-teman seperjuangan

sesampai di sana ia bergumam lirih “betapa beruntungnya mereka yang tak ambil bagian.”

lalu tiba giliran, ia melangkah tegap naik ke panggung pemancungan seperti tanpa tekanan

saat algojo siap mengayunkan pedang, seluruh penonton pada kelabakan

melihat kejadian aneh di luar perkiraan, bukannya leher lelaki itu yang diserahkan

tetapi kelaminnya sendiri yang sudah tegang yang ia sodorkan

setegang penonton yang menyaksikan.

ia menyodorkan pada algojo yang siap menebas sembari berjabat tangan

penonton kelimpungan dan algojo sempat gelagapan

bahkan ada beberapa penonton yang jumpalitan

tetapi penonton dan algojo langsung sigap menguasai keadaan

apa yang sebenarnya ia bicarakan pada algojo ketika jabat tangan?

dan apa yang sedang mereka rencanakan?

sejurus kemudian terdengar desas-desus yang mengatakan;

ternyata mereka telah membuat perjanjian dengan suatu persyaratan

bahwa algojo akan menghentikan pembantaian

asalkan lelaki itu bersedia dan mampu menggantikan peran

dan tanpa babibu lagi ia setuju mengabulkan

lalu di luar dugaan penonton histeris ketakutan.


Matanya Meleleh

cahaya sore yang merambat

ke ruangan itu seakan enggan

menerpa parasnya yang memantulkan

ketenangan dan kerahasiaan

semesta

seiring matanya yang meleleh

bersama cemas

yang hinggap

dan mengendap

di sebutir peluh

ah… apapun itu

aku suka matamu.


Pada Sebuah Pagi

/1/

selamat bertandang ke rumah, hujan

makhluk di bumi sudah rindu

menyambutmu pulang.

/2/

senyummu dingin mengering

raib ditelan pagi menyingsing.

/3/

untuk apa susah payah menikam dadaku sendiri

bila mata itu telah lebih dulu membunuhku

mata itu adalah milikmu.


Hanyut

cakrawala terbakar hitam dalam

mendung itu

seakan mengiringi kepulanganku

yang kalah kuyup sepanjang jalan

di jalan aku menemui segala ketimpangan:

dari traffic light mati

lampu jalan yang redup

selokan mampet

lalu lintas macet

yang mengisyaratkan aku tuk berhenti

pada trotoar licin yang tergenang

berlumpur penuh lubang

sampai akhirnya kutemukan senyummu

yang mengambang

hanyut terbawa luapan

sungai hujan.


Gandhang Kandhiridho, lahir pada 4 April. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku antologi puisi pertamanya berjudul “Rahim Waktu” (Teras Budaya Jakarta, 2021) dengan menggunakan nama pena “Dan Hermit”. Dalam waktu dekat (2022) sedang menyiapkan buku antologi puisi keduanya. Bisa dihubungi surel: gandhang99@gmail.com dan Instagram @gandha_ng

Leave a Reply

Your email address will not be published.