Puisi

Puisi Ian Hasan

November 19, 2019

Merawat Cinta dalam Jangkauan

lampu mati,

mengirim gelap yang mendekatkan

senyata kenyataan yang menghimpit

angkasa lapang,

sepi dari lalu-lalang pujian

sekhusyuk lilin di tengah ruangan

fajar di halaman,

rumput-rumput berdesakan

sembunyikan genangan hujan semalam

kebun,

harapan yang segan tumbuh

derai gulma, ilalang dan tanah jenuh

rumah,

menaungi sisa-sisa kantor

kran bocor dan tumpukan piring kotor

anak-anak,

nyala yang tak pernah kau saksikan

di kepulanganmu yang masih keruh

istri,

kesejukan yang kau lewatkan

dalam sunyi dan kesetiaan menanti

cinta,

adalah bagaimana kesanggupanmu

menjangkau dan merawatnya


Ke Mana Pergi

dunia belakangan jadi sempit

bahkan tak lebih besar dari ibu jari

sementara zaman demi zaman

kerap melahirkan orang-orang besar

yang lebih banyak dari rahim mancanagari

ke mana pergi pewaris ibu pertiwi?

sehari terasa tak cukup

waktu terengah-engah hampir tak sanggup

sementara otak tak lagi berupa lahan subur

kerja otak tak bisa dihitung

acapkali tak keluar keringat justru bikin makmur

ke mana pergi pelaksana hati?

rasa dan ketulusan cukup dipajang

agar selalu ada kenangan

sekalipun bukan milik sendiri

hidup harus hemat jangan dibuka semua

secukupnya untuk diri kita sendiri saja

ke mana pergi diri yang belum mati?


Menunggu Kedatangan

awan berkelipat-gelung menelan senja yang tak gesa

angin menghimpun gelap mendorong malam tiba lebih cepat

orang-orang bergegas mengaliri lorong masing-masing

sementara butiran kehidupan mulai menitik singgahi segala muka

dan langit semakin menunduk, kian dekat dari sebelumnya

hitam di mata orang-orang mendekati batas kelopak pandangan

air muka kerut, simpul kening menjerat perlihatkan penat

hujan pun tiba dan malam melindungi penuh gelora

anak-anak memandangi jalanan basah dari balik kaca jendela

dan aku diam-diam melepas rindu bersama deras tak berkesudahan

sepertinya anak panah itu melesat,

angan itu bergelantungan,

rindu itu di kedalaman

sepertinya…, tak perlu kau tanyakan

kucing-kucing terdesak dingin di emperan hingga hujan berselang

gerah seharian dikuliti, hingga tinggal belulang

tergolek aku di kesendirian, menimbang utang yang belum lunas

selama purnama masih terhalang mendung di mata anak-anak negeri

dan sedikit pun tak kukenali lagi bara api di dada para terpelajar

sepertinya laju takdir tercerabut,

jalan maju kian terentang,

rindu ini belum terlawan

sepertinya…, akan segera datang


Mendekatlah

mendekatlah padaku,

dengarkan kabar tentang elang

yang melayang tenang terdorong angin

mengarungi cakrawala dengan mata waspada

menghitung berapa kali pusaran berputar

menyaksikan perubahan, merekam kenyataan

itulah kabar tentang batas hari ini dan esok

yang harus segera kita kerjakan

mendekatlah pada-nya,

dengarkan kabar tentang bintang

yang bertengger di dahan keabadian

menyandarkan kegalauan dan keragu-raguan

melabuhkan harapan penuh penghambaan

menyusun ingatan tentang pergulatan fana

itulah kabar tentang batas daya dan upaya akal

yang harus segera kita endapkan

mendekatlah pada diri,

dengarkan kabar tentang tanah negeri

yang kering kala hujan tak datang

menyediakan hamparan kejujuran

menorehkan jejak-jejak terdalam

menempuh kesadaran dan tanggungjawab

itulah kabar tentang batas selain kau dan engkau

yang harus segera kita kabarkan


Sejarah Kerinduan

adakalanya kerinduan menjelma wewangian

terpendar dari rona tersipu bebunga taman

merayapi segala penjuru lesu yang hiruk pikuk

hingga para penghuninya seketika bertengadah

dan serasa teraliri dengan darah-darah yang baru saja diperas

dari kemerahan mega saat matahari mulai menggeliat

dan menyingkap selimut yang semalaman

telah membungkus keseluruhannya dengan rapat

kantuk melarut, keletihan menguap,

selayak kabut yang kian menipis saat mentari mengintip

tapi siapa yang tahu dari mana datangnya wewangian bunga?

seperti kerinduan yang tiba-tiba saja mendekap erat,

tak lagi memberi ruang bagi siapa saja

yang menghuni lesu untuk bergelimpangan tak bertenaga

tanpa kita tahu dari mana awal keberangkatannya

dan di mana tempat yang menerima kepulangannya


Kalian dan Kita

I

teman

: entah kepada siapa sebutan ini kutujukan

ketika kusadari napas yang menandai hidup

bersama kalian hingga detik ini

tatapanku seakan menghindar

dari kecenderungan hasrat banyak orang

dan barangkali juga kalian

alam kita sama, zaman kita sama pula

akan tetapi ada ruang-ruang kesunyian

yang selalu menarikku ke sana

sesak kurasakan di keramaian

kosong kurasakan di perayaan-perayaan

jiwaku selalu mengembara

menelusuri celah-celah tak menarik

mendekati yang kalian singkirkan

II

teman

: entah kepada siapa tanda ini kusematkan

kaki angin tersangkut di sangkar kenangan

ketika kita berdua tertegun dan sangsi

mentari tak beranjak seolah memberi jalan

bagi kemungkinan-kemungkinan yang tak jarang kita ramal

kita pernah saling bertandang

saling berkirim jejak kaki di lantai yang asing

sebelum akhirnya kita sadari tak pernah ke mana-mana

saat di mana otak dan perut kita telah sama-sama terisi

angin masih saja tersangkut

sepertinya menunggu dentang rencana

yang barangkali tengah disiapkan untuk kita

sedangkan kita tak lagi tertegun dan sangsi

semoga sampai kapan pun, meski tak lagi di sini

III

pada suatu saat nanti

bersama-sama akan kita petik kembali

kemewahan yang pernah mengaliri nadi

seperti diamnya batu

seperti kehadiran yang tertunda sekian lama

dan wangi kemewahan itu tak bisa kita tolak

mencumbui ke mana saja angin pergi

bersama tetesan waktu

bersama kening kita yang batasnya kian menepi

dan cukup lewat berita yang tak perlu dimuat

sehingga pantas untuk datangnya senja

pada suatu saat nanti

ada kemilau berputar di batas nalar

kemewahan yang menjadi pundi-pundi


Tiga Anak Kucing

tiga kucing kecil memburu anak sungai

masing-masing berbinar purnama yang berbeda

jemariku yang hitung sepekan merasai kelembutan

entah genap atau baru sedalam sayatan pisau

bulu mataku seketika rontok tergoyang bayu sasmita

menolak semai benih-benih pengebirian

tiga anak kucing dengan ekor terombang-ambing

seburuk ranting yang patah ketika muda

saat kala melibas deras tak ambil pusing

lalu terbirit tanpa sekalipun berpaling muka

putik-putik surya di kepalaku menangkap bahasa kebisuan

membuka lipatan subuh yang terbungkam dingin

benih-benih, tandas begitu ditanam

membingkai jalan pencarian anak sungai

arah manakah mereka?

tiga anak kucing rebah lupa gelisah

tupai-tupai pingsan saksikan langkah memukau, kebingungan

alangkah pelik bekal yang harus dibawa

bukannya cukup karsa terhunus tak putus

alam telah sediakan jalan untuk haus dan lapar

dan tak hanya mentari yang sanggup memanggang kebekuan

tiga anak kucing mengerontang

kedatangan tua sejuk bersepoi-sepoi

dan anak sungai masih nampak di ujung mata


Pada Butir-Butir Padi

sebelum kita sama-sama tahu

bahwa jalan ini segera bersinggah

sadar kusongsong pelita di kedalaman sanubarimu

dan langkah kita terbawa oleh satu cerita

mengukir dialog- dialog yang terajut rapat

kita banyak belajar darinya, tentang sebuah perjalanan

pun ketika kita berjarak satu sama lain

masih mampu kita hadir bersama-sama

menjumpai orang-orang dan keseharian kita masing-masing

kau hadir sertaiku dan kusertai kehadiranmu

karena cinta bagi kita alam semesta

karena hidup bagi kita jalan cerita

tirai demi tirai terbuka

dan genggaman kita bersinar seperti matahari

kita selalu percaya binar itu tak mungkin padam

seperti halnya kita selalu yakin

kehidupan masih tersedia pada butir-butir padi

kita sama-sama terdiam suatu ketika

dan lewat pejam kita saling berpandangan

bersama kita sadari tak punya apa-apa

hanya cinta, kesetiaan, dan rasa percaya

hati kita pun berdekapan agar lebih kuat

menumbangkan tiupan angin sekeliling

             naskah demi naskah terbaca

             dan kegamangan kita menjelma patri kesungguhan

             kita selalu mencoba berbicara dengan kenyataan-kenyataan sulit

             seperti halnya kita bertanya ke hati

             saat asa masih tersimpan pada butir-butir padi


Perjalanan Malam

sore, kala kunang-kunang masih bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan

sukma-sukma yang baru saja terbangun berkerumun di ujung hari

mendekat satu sama lain, meraba kenangan sepanjang lelap sehari

subuh masih tercekat di belahan masa yang berbeda

perjalanan usia nampak tatkala cahaya mengurai bentuknya sendiri

sementara rembulan pucat menanti jelaga terhampar

jemari senja kian nampak sedang meraih bentang angkasa

usai kuundang kenangan yang tak lagi sekadar kerinduan

sedang raga terlanjur letih, ditemani sisa-sisa dosa yang menempel di benak hari

sementara jiwa menyapa beranda-beranda yang masing-masing menunggu dikunjungi

seteguk kerinduan basahi sekujur angin yang terdiam telanjang

membalut luka kenangan meski tak sembuh seketika

saat jelaga tumpah dan di antara kita rasa ini menjadi sahabat

menemani di setiap putaran, menyertai di setiap perjalanan

sepi pun menyediakan ruang pengembaraan yang begitu luas

di perbatasan kota, di mana kenangan membawa serta sekawanan harapan

berdua kita berdiri, sama-sama menjadi saksi kedatangannya

emas cahaya rembulan hinggap, memberi irama perjalanan

hingga saat kelambu malam terbakar di ujung timur

dan lagi-lagi kita sadari, satu langkah lagi akan menyusul esok hari


Hikayat Purnama

purnama mengantarkan kedatanganmu

di jendela yang sengaja kubuka malam ini

angin malam berduyun-duyun menyelimuti

dan langit tersapu pucat oleh awan-awan tipis

aku sedang menatap purnama itu

di rengkuhan langit yang kelelahan

kusaksikan drama yang begitu panjang

seperti saat kutebus kerinduan tadi pagi

tertera begitu tegas namamu

yang sanggup membuat purnama hadir dengan kerelaan

demi menghimpun keseluruhan cerita tentang kita

memenuhi rangkaian episode tak kenal akhir

di jendela yang membingkainya ke dalam petak-petak kenangan

bersama malam, bersama dingin

bersama sejarah yang tengah kita kerjakan


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan), sebuah model prakarsa pendidikan alternatif berupa sanggar berbasis komunitas sejak 2013 lalu. Dunia pendidikan anak menjadi perhatiannya hingga kini, di sela kesibukannya sebagai juru rancang bangunan di Solo. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *