Puisi

Puisi Irma Agryanti

May 28, 2019

Aku Ingin Meninggalkan Diriku

aku ingin meninggalkan diriku. masa lampau membuatku mengingat yang hendak kulupakan. tapi di balik jendela tak ada orang lain selain diriku dan buku puisi yang berulang kali dibaca. pikiranku tak pernah lengkap, selalu ada yang tak bisa kupahami seperti cara untuk mencintaimu atau upaya menolaknya.
setiap hari cuaca begitu susah untuk ditebak, membuat perasaan tinggal lebih lama seolah tak pernah ada saat yang tepat untuk pergi.
barangkali aku terlampau lama menjadi seseorang yang merasa bersalah atau menanggung kesalahanmu, sebab seperti pertengakaran kerap tak memberi kemenangan, agar masing-masing selalu terkenang.
tapi aku dikalahkan bayanganmu. menerimamu sebagai apa saja yang terasa dekat denganku, meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa menanggung, kesepian yang sering menetap. 

2018


Seseorang Dalam Diriku

ada saat-saat dimana aku meragukan seseorang di dalam diriku. seseorang yang menyalakan lilin tapi memadamkannya berkali-kali, seseorang yang ingin dilengkapi tapi seringkali menjauh. keriuhan seperti kesedihan yang minta dihibur. juga perasaan, selalu datang bergantian, rentan dan mudah lepas, sedang pikiranku seperti kota besar, penuh oleh prasangka, perihal-perihal dunia yang nonsen. aku tidak menulis sajak meski aku menulis sajak. kekosongan adalah satu-satunya yang bisa dituliskan, semisal tunawisma yang menatap langit dan bicara untuk diabaikan. barangkali aku tak menyadari, setiap kali pintu dibuka adalah sebuah kemungkinan lain, semacam upaya menolak untuk menemukan agar tak merasa kehilangan. orang-orang sudah lama menjadi hari-hari sedang aku tak tahu siapa yang sesungguhnya tak nyata, seseorang di dalam diriku atau di luar diriku.

2018


Aku Ingin Berhenti Bunuh Diri

aku ingin berhenti bunuh diri

pikiran-pikiran tak tidur

adalah mayat di luar peti mati

dalam pejam kedinginan

angin melintas-lintas

tak saling bertemu dalam udara

adakah pemakaman di tiap simpang waktu

bagi lubang dada yang tak selesai digali?

aku ingin berhenti bunuh diri

sebab seperti mata lampu jalan

aku sudah kau padamkan, berkali-kali

2019


Setelah Kehilangan

mungkin ada suatu hari baik

setelah kehilangan

aku lupakan

lagu yang mematahkan

musik-musik sedih

seorang perempuan selalu mengaku

baik-baik saja untuk tak mengalah

tapi hati seperti sekumpulan abu

beterbangan bila disentuh

angin dingin yang menyakitkan

mengingatkan pada sudut kecil

tempat negasi dihidangkan

dan sesudahnya

hanya samar

hanya latar

kau tak lagi di sini

tak perlu ada 

2017


Merayakan Kesendirian

pagi hari; dingin memutih

tak ada angka di kalender

tak ada ingatan dalam kepala

aku bayangkan kesedihan-kesedihan

apa yang seharusnya adalah apa yang tak pernah ada

seperti kalimat selamat jalan yang mesti dilepaskan

agar seluruh ketakutan pergi

dan puisi kembali dituliskan

2019


Perak

adalah laut bergulung-gulung

adalah gugus bintang

adalah warna rambut bulan

adalah padang-padang adulam

adalah daun-daun palma yang ditebar

adalah perempuan di balik cadar

ia tamar yang mati dibakar

setelah yehuda menyingkapnya

2019


Upaya Memahami Dirinya Sendiri

ketika hari selesai, ia akan berbaring, melihat bintang jatuh dari jendela kamar dengan tangan yang tak menggapai, juga cahaya lain, memantulkan warna yang tak jelas batasnya dan dadanya terasa berangin.

ia gamang pada sesuatu yang tak tertebak, semisal, bahkan dalam hati langit yang lapang, ada sesuatu yang sukar ditemukan.

ia ingin bebas dari mengingkari bahwa kesedihan tak pernah selesai dikenang, meski, prasangka hanya sebagian komposisi melepas kenyataan, mengapa dirinya lebih suka tersedu.

2019


Aufklarung

seseorang datang

setelah lama bermukim

dari kematian musim

seseorang datang

membebaskan diri

dari seluruh kutukan 

perempuan yang menderita

menjalani hukuman

oleh cinta

bagian kelam dari kenangan

betapa panjang usia derita

waktu serupa nyalak anjing

suara lonceng di puncak menara

samar terdengar

2016


Delusi

seseorang menjadi tak waras

setelah meneguk anggur

ia menyeka, matanya seperti basah

tapi film biru lebih menyedihkan

dari surat-surat yang dikirim

mereka mudah terbakar

sedang cerita, samar dengan kebohongan

sseorang menjadi tak waras

selepas menelan pil tidur

ia menyeka, matanya penuh delusi

2019


Membayangkan Dina Oktaviani

aku ingin menjadi dina

sekalipun bukan

ia yang jatuh di tiap kelokan

bicara pada angin

dan setia mengasihi dirinya

sebab padanya

lampu-lampu langit menyala

juga sebuah jalan yang

menjauhi rasa sakit

tapi ia adalah duka

musik-musik pujian

yang luput dari doa 

senantiasa mendapati dirinya

sendiri menjaga cinta

dari sekadar kata

aku ingin menjadi dina 

sekalipun hanya

puisi

2019


Irma Agryanti, lahir di Mataram, Lombok. Puisinya tersiar di berbagai media lokal dan nasional.  Buku puisi terbarunya Anjing Gunung (Basabasi, 2018). Bergiat di Komunitas Akarpohon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *