Puisi

Puisi Irvan Syahril

December 11, 2019

Sepasang Sepatu

Setiap Minggu ibu duduk dekat pintu

matanya merapi tali ke lubang sepatu

dan tangannya yang berurat waktu

masih sigap mengikat tali sepatu.

Ibu begitu tekun kepada waktu

sambil memangku sepasang sepatu

semoga tak lepas talinya di ujung tunggu

semoga lekas mengantar ke depan pintu

sebelum sebuah ajal memangku.

Semacam ada ruang waktu yang jauh

dari titik matanya yang kian abu-abu

di sepasang sepatu ada air mata ibu

yang menebalkan alas dan ujungnya

yang tak tuntas mengarah kepada rindu.

Serpihmimpi, 2019.


Puisi

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dalam waktu yang kauberikan kepadaku.

Hening selalu lebih dahulu dari apa pun

seperti debu tak tuntas seribu sapu.

Kau dengan gampangnya menyuruhku

membetulkan hatiku sendiri.

“Ini sepaket waktu, gantungkan di hatimu.”

Aku dengan puisi bertubi menggambarmu

dengan kata dan dengan apa pun yang tak

mengandung rasa sakit. segala tetap naif.

Kau tak pernah tandang ke pintu puisiku

walau terpasang rambu gelisah pada matamu.

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dan berkali juga kusampul diriku dengan waktu.

Serpihmimpi, 2019


Musim Panas

Detakmu adalah ancaman bagi mangu dedaunan

dan kami yang tergeletak. Hujan masih tenggelam

dalam pusar putaranmu amat rumit ditebak.

Debu semakin lancip seperti peluru dilesatkan angin

dan mata kami penuh berair. Ada yang berteduh dari

perjalanan juga ada yang mengaduh dari kejauhan.

Ketika langit kemerah-merahan matahari sekecil

kelereng. Bayangan seakan ingin melepaskan diri

meninggalkan tubuh yang kerontang musim panas.

Detakmu adalah ancaman bagi burung-burung

kehilangan tempat bernaung. Hujan masih lama

terkurung menangis merindukan rumput dan daun.

Serpihmimpi, 2019.


Menjadi Daun

Aku tak pernah menyalahkanmu,

apalagi angin dan musim atau hujan.

Seandainya kau mendengar aku berkeluh

bukan berarti membenci angin yang menarik

lepas dari ranting tanganmu, musim mewarnai

selembar tubuhku, atau deras hujan

yang mengabur pandangan ke dasar dadamu.

Aku percaya kau bukan pemarah,

karena itu kepada langit aku mengharap waktu.

Mata sulit terbuka menangkap cahaya

dan sejak itu seluruhnya menjadi samar:

kukira itu kepak burung yang biasa bertengger

ternyata maut, menebas habis lajur nadiku;

kukira hujan ternyata tangis yang mengiringku.

Segalanya amat cepat, tanpa kata-kata

tubuh dan bayanganku menyatu di tanahmu.

Kini aku berada dekat dengan akar keabadian

aku ingin menjadi satu-satunya daun di rantingmu

daun besar yang kokoh menghadap hujan;

tak pernah kalah dengan musim, apalagi lemah

oleh angin, daun yang senantiasa meneduh jantungmu.

Sepihmimpi, 2019.


Ketika Akan Tertidur

Jam sudah memberi isyarat hati terlelap

kususun wajahmu dengan sisa sungguh

jarum beranjak seperti menguntit jejak

dan persembunyian terbuka di matamu

Adalah langkah yang patah

kertak dari angka ke angka

dan aku bertahan

di jalan yang tak pernah selesai

Kurengkuh degup yang masih menyebutmu

lalu dinding ini memantul-mantulkannya

siapa di antara kita  yang terpenjara

cintaku atau bayang-bayangmu di kepalaku

Aku sedang dalam jantung waktu

kata-kata seraya melejang

setelah merasa ada tatap dari jauh

entah dari lubuk hati siapa ke arahku.

Serpihmimpi, 2019.


Menunggu

Akhirnya aku mengerti hidup

hanya berlomba menunggu

kita bergilir menjadi sepi

Kau ataupun aku harus tertib

sebuah suara memanggil

sesuai pesanan dan waktu

Seketika kita saling tinggal

terpenggal kata-kata di sini

segala lesap tak terucap

Tanda itu segera muncul

membacakan nama kita

seperti serangkai pengumuman.

Serpihmimpi, 2019.


Pergi

Maka sebuah cinta pun yang rutin kita pelihara

tak mampu menolak adanya sepi, sekeras kita

meramaikan meja dengan peristiwa-peristiwa.

Aku dan mungkin engkau, sudah yakin begini:

bahwa yang tersisa antara kita hanya teng-teng

jam, yang menunjuk waktu tepat untuk sendiri,

atau seguyur hujan menarik-ulur cinta yang gugur.

Setiap saat kita seolah tahu kapan datang hari itu

sekecup dua kecup waktu pada bibir kering kita

seperti sebuah peringatan; cinta tak setia sebetulnya.

Serpihmimpi, 2019.


Irvan Syahril lahir pada 18 November 1997 di Subang, Jawa Barat. Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Singaperbangsa Karawang. Menggawangi komunitas Gubuk Benih Pena (GBP) serta bergiat dalam ekstrakurikuler Bengkel Menulis Unsika (Bemsika) dan Komunitas Kelas Puisi Bekasi (KPB) dan mengelola blog puisikusyahril.blogspot.com & kailfajar.wordpress.com. Beberapa puisi permah terbit di media cetak dan online. Serta beberapa puisinya termaktub dalam buku antologi puisi bersama Karawang Abadi Dalam Puisi (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Kepada Toean Dekker (2018), Bintalak (2018), a Skyful of Rain (2018), Risalah Api (2019), Bisa disapa melalui surel irvansyahril18@gmail.com dan akun instagram @serpihmimpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *