Puisi

Puisi Jihan Suweleh

May 24, 2022

Di Bandung

Rindu menikam

cinta menggali makam

pisau tertanam.

masa lalu

menjadi darah

dalam kakus.


Menjadi Ada

Aku ingin mati di hidupku

dan tumbuh di dirimu

sebagai sesuatu yang baru

saat hatimu basah

karena seseorang

biarkan aku merapal doa

tanpa pernah kau aminkan

saat dadamu bernanah

sebab luka tak sembuh lama

kutiupkan nyala tuk hapus lara

segala bentuk duka

tenggelam dalamku

berubah bunga yang mekar

tanpa batas waktu

aku mungkin tak ada

ketika kau berkaca

sambil menyisir rambutmu

yang patah-patah

karena shampo sudah tak pas

di kepala

aku mungkin tak ada

ketika kau mengejar

mimpi dan mengeja

kebahagiaan semu

yang kau catat dalam buku

biru berwajah laut

aku mungkin tak ada

setiap kau melihat dirimu

sendiri di dalam sunyi

yang terang dan pahit

dalam rekam medis

tetapi aku ada padamu

menggerakkan waktu

dan hidup sehidupmu

mati sematimu.


Menonton Horor

Sore itu kau bercerita

tentang film-film yang kau suka dan tak.

bagimu, kisah yang tayang di layar besar itu

adalah hiburan. cukup sebagai hiburan.

kau tak ingin berkomentar apa pun

jika jelek biarkan begitu

jika bagus pun tak berpengaruh

bagimu.

aku sepakat. bahkan seumur hidup

tak sanggup kuhapal adegan-adegan

dalam film meski kutonton berkali-kali.

kupikir kepalaku sudah penuh

dengan film-film yang kubuat sendiri

dan kau juga begitu

dalam kepalamu ada banyak darah

seperti adegan di film aksi dan horor yang

sebetulnya tak kau suka.

kau tak pernah suka.

Lima jam kita duduk bersama

membicarakan film dokumenter

dalam kepala

tiba-tiba kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang setiap wajah mengingatkanmu

pada ibu dan teman ibumu

juga temanmu yang sudah menjadi

seorang ibu.

kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang kakinya mengingatkanmu

pada ayah yang hampir tak pernah

terlihat oleh kita.

Kau mengenal seorang

perempuan yang hidup

sebagai hantu

berbaju hitam dan

bibirnya tak pernah berhenti

mengeluarkan asap

dia berbicara

banyak sekali

seperti memuntahkan

segala bentuk kamus

yang diciptakannya

sendiri.

Ayahmu mengenal perempuan

bertubuh pahit itu

yang mencium keningmu

lalu mengusap kepalamu

dan memintamu memanggilnya

Mama dengan M besar.

Ibumu mengenal perempuan

bermata beling itu

yang memelukmu kencang

seolah kau adalah anak

kecil yang lahir dari mulutnya

dan tak pernah tumbuh

menjadi gadis dewasa.

Aku juga mengenalnya

perempuan berkulit arang

menghapus isi kepala

ayah dan menggantinya

dengan memori-memori baru

tanpa pernah

kembali lagi.

Malam sudah mampir

kau berhenti bercerita

angin terasa lebih dingin

dari masa kecil kita.

kau menyudahi pertemuan

senyummu meninggi

punggungmu memudar

segalanya terekam

dalam kepalaku.

tanpa pernah akan

kuhapus.


Blokir

Air mata menjadi sepatu

berjalan sendiri

menabrak batu

terjebak di ruang kosong

bersama cicak dan laba-laba

yang tak dilihat keberadaannya.


Tak Pernah Ada Nanti

: AA

Kau adalah mimpi

dalam melek dan pejamku

catatan-catatan pada buku

cerita yang hidup

dan berlatar sungai

pun batu-batu

kau adalah doa

yang menolak berhenti

terucap dalam hati

kau selalu menjadi kini

selamanya

bertumbuh bersamaku

tanpa ada nanti.


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember.

Leave a Reply

Your email address will not be published.