Puisi

Puisi Jihan Suweleh

July 11, 2019

Fibromyalgia

Seperti mati

aku tertidur

dalam ngilu

sekujur tubuh

lelah mencekik

tulang begitu sakit

bertahun-tahun

aku budak tangis

apa yang kuingat

pudar perlahan

kecemasan, ketakutan

kepalaku menahan

luka dalam obat

kesembuhan

bukan antidepresan

kepercayaan

bukan penenang

sementara

persis tidurku

yang berhari-hari

tak berdaya

meski terlihat sehat

katakan bahwa aku akan sembuh

aku akan sembuh

tanpa pertanyaan:

benarkah kausakit?

leherku, pundakku

punggung, dada

kaki, tangan

melingkar kesakitan

aku tak sanggup bangun

dari tempat tidur

terlelap dalam hidup

yang mematikanku

setiap saat aku bertanya

mengapa aku terlalu payah

mengapa aku selalu lelah

meski tak berbuat apa-apa

aku ingin membeli energi

untuk tulangku

yang melulu ngilu

menyembilu


Trauma

Kenangan masa kecil

gelap dipejam

terbingkai pada mata

hadiah Papa Mama

membentuk benda tajam

di dalam kamar.


Waktu

Di magrib yang dingin

Kita sepotong bibir ranting

Di subuh yang sejuk

Kita sepasang kaki berteluk

Jarak menggigit bayangmu

Gemeletuk nyaring di kupingku

Tiada yang mampu menjarah waktu

Kau telah meniggalkanku, dan berlalu

Kenangan kutelan

Sendirian

Rindu mengudus

Dalam kardus

Sampai jumpa di lain hari

Ketika kau belum menjadi orang lain


Panggung Tangis di Mata Ibu

Aku melihat matamu, Ibu

menggerakkan kesedihan

menjadi seni pertunjukan

Setiap menyentuh panggung

aku melihat tangismu

pada tirai, pada lampu yang berderet

dan akan menyinariku

mendapat tepukan dari tangan

yang bukan dirimu

Tata rias yang teroles di wajahku

menyatu dengan kulit

sebagai duka yang kaulempar

tanpa lebih dulu kautatap

dan kostum-kostum yang kukenakan

adalah pertanyaan atas kesedihanmu

yang tak pernah sanggup kaujawab:

betulkah mimpiku adalah lukamu?

Aku rindu bersandar di dadamu

mendengar sunyi yang berdarah

hening yang memeluk kehampaan

tanpa air susu yang keluar

sebagai tali antara kita

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa lalumu, Ibu

selain payudaramu

tak sanggup mengeluarkan

apapun kecuali kesedihan

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa laluku

sehingga yang kuingat hanya

Ibu mengurungku dalam diam

dan memukulku ketika aku lari

ke luar rumah

Di panggung berkilap-kilap

aku patung dalam matamu

wajah-wajah gembira di depan sana

adalah tangismu yang menolak

kepergianku

tetapi, Ibu, tidak ada jalan yang buruk

di atas panggung

meski panggung yang kita lewati

berbeda.


Pada Sebuah Televisi

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi air mata penonton setia

yang bersembunyi

pada nasib buruk sendiri.

Mereka melihatku sebagai perempuan

simpanan suami orang

merebut hak anak-anak tak berdosa

korban kegagalan rumah tangga.

Satu kali saja aku menjadi pemenang

meski menyakiti istri orang

anak orang, dan harga diri orang

yang rela melakukan apapun untukku

dan meninggalkan siapapun demi aku.

Kelak ketika aku kecelakaan

karena sibuk teriak-teriak

demi memperlambat durasi

kesedihan pada ujung takdir,

aku pasti bertobat dan meraung-raung

minta maaf pada Tuhan

sekalian tak menyangka, ya ampun

perempuan yang menyakitiku

adalah penolong hidupku.

Dan aku meninggal setelah memohon

agar mereka kembali bersatu

biar penonton tidak terlalu membenciku

lalu mendapat petuah hidup

dari kisah orang-orang baik.

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi teman bagi kesepian ibu-ibu

dan hiburan untuk orang

yang gemar tertawa

lewat judul-judul panjang

tak masuk akal.


Meminta Pertolongan

                    Mengenangmu.
                    Tolong aku.

Sajak-sajak yang kita tulis
Berhamburan dalam tangis
Rindu terjatuh pada patuh
Menjalar sebagai luka lebar
Di matamu yang jauh dari mataku
Senduku yang sendu pada sendumu
Sepanjang tahun lalu

Tengah malam kita menjadi terang di layar ponsel
Dan gelap di dada sendiri
Menutupi semua yang kita pahami
Dengan pertanyaan seputar duka sandiwara

Pagi hari kita menjadi kotoran kambing
Yang menolak mengerak
Membantah disebut sampah

Siang hari kita menjelma harta
Yang tidak membuat kaya
Siapa-siapa

Sore yang merah
Bergantian di bibir kita
Dan kau basahi dengan hujan dari mulutmu
Sobek seluruh aku

Tolong.

Mengenangmu adalah darah
Yang tak henti keluar di kepala

Mengenangmu adalah sedih
Yang selalu ada dalam puisi
Tanpa bisa kupahami


Kepada Tubuh yang Runtuh

Kautahu, tidak ada yang ingin menjadi gila
seperti kita yang tidak meminta lahir dari rahim siapa-siapa.

Napas membusuk
lebih busuk dari bangkai tikus
yang kaupandang sepanjang hari
menunggu pulang tiba

Di selatan Jakarta, orang-orang bekerja
menatapmu sebagai manusia
tanpa otak, tanpa dada, tanpa wajah
berdatangan meminta telinga untuk cerita sedih mereka

Pertanyaan datang pergi
semacam kontes di televisi
yang kausimak tiap hari
sebagai hiburan selain sinetron perselingkuhan

Rasa iba kaututup
demi membungkam kesedihanmu sendiri
luka duka kaubiar turun
dalam dirimu menuju doa yang entah didengar kapan

Terik melingkar di tubuh kita
setiap malam di atas ranjang
basah menahan nyeri
yang takut diketahui

Siapa punya luka lebih besar
di antara kita
siapa punya darah lebih kotor
di antara kita
bagimu menjadi gila adalah kesalahan
dan ketololan dan keegoisan dan kesia-siaan dalam hidup

Tetapi, tidak ada yang ingin menjadi gila
tidak ada yang ingin tersesat dalam dirinya sendiri
dan kaulupa, kita sudah mengalaminya
bahkan berdoa, “Tuhan, pulangkan kami,

tanpa rantai besi di tubuh ini.”


Bilur

Kau terbungkus plastik
tubuh biru, lebam, kaku
di tanah basah
kunci menyembul
menjadi barang bukti
terkubur

Pernah kita bersatu
suka dalam luka
tanpa minta sudah

Akhirnya jasadmu
lepas juga
disambut angin
yang menggiring bau anyir

Masih terekam nyerimu
bunyi jerit di ruang itu
menjadi nyanyian di bibir kita
takut menuju takluk
pada malam deras keringat

Di mana kemanusiaan, kaubilang
Di mana letak otakmu, perempuan murahan, kata mereka

Cambuk menari
di punggung dan pahamu

Kini giliranku
menyusul kebebasanmu.


Tidur

musik-musik sendu

menyentuh

kasur yang lembut

dan kosong

bersih

dari tangis

menguar luka tanpa darah

jatuh sebagai batu

jatuh sebagai lagu

dengan lirik kehilangan

Ibu


Wajah yang Terbakar di Stasiun Manggarai

Aku lupa bertanya padamu

bagaimana cara terbaik

menyelamatkan cinta

dari sakit hati

Di peron dua aku menunggu

bertahun-tahun, berganti baju

wajah yang tetap suram

rambut yang tetap kelam

mengibas masa lalu dari tanganmu

dari napasmu

dari tangismu

dalam sunyiku

Entah apa yang membuat diriku

menyebutmu masa lalu

sementara kita tak pernah berpisah

sekaligus tak pernah bersama

darahmu

dalam

darahku

Aku melihat restoran berjejer

seperti kelaparanmu

yang belum mampu kausampaikan

kecuali dalam rengek dan ba-bi-bu

hujan pernah menyapu kita

tetapi menghangatkan dalam peluk

yang kita eratkan

kemarau pernah mendinginkan kita

bersama bising kereta dan bau keringat

para penumpang ketika kauhilang

dan aku menjerit mencarimu

meski aku tahu kau adalah aku

Anakku, suatu saat entah di mana

kita akan kembali bersama

naik kereta menuju rumah

aku menenteng banyak kardus

tetapi takkan pernah kubiarkan

tubuhmu terjatuh, tersenggol tubuh

orang lain ketika kereta rel listrik berhenti

dan penumpang seperti binatang buas

yang membakar wajahku dengan api

kebencian tanpa sanggup kutahan


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *