Puisi

Puisi Julaiha S.

October 15, 2019

Beduk Rindu

kaki-kaki menelan tanah sawah

sepanjang usia ibu

hijau-kuning menakar tubuh keriput

di antara senyum itu

ada denyut yang mengeja waktu

tak ada yang nyata menggulung ingin

yang tercermin dari rupa rumah

pohon-pohon ikhlas

mengayun air malam yang kedinginan

menelusuri sisa-sisa letih

yang dijaga ibu sebagai ribuan doa

untuk kaki kuat di tanah kota

Medan, 2019


Kabut-Kabut Kelabu

langit kini nyanyian kabut-kabut kelabu
mengantar kesedihan di balik kapuk

tak ada yang ingin pulang

seperti burung-burung menjelang magrib

yang bersorak-sorak memanggil anaknya

aku tertib mengeja almanak

tata kera kemeja

urutan kancing baju

menghitung detak masa lalu

air selokan begitu tenang 
menjaga kakimu tetap berjalan

aku cinta yang mengalir dari

luka-luka sekujur tubuhmu

aku kandas dalam kemarau

berjiwa kota

di dalam angin

aku merindukan doa-doa

yang terbang tak tahu arah

Medan, 2019


Mata Seberang

tubuhku mencari-cari pandang

yang melipat kata jadi udara

yang tersimpan dari lubuk kenangan

ialah mata-mata seberang

menuntun langkah jauh

mekar di jari-jari kaki perempuan

tubuh angin memelukmu

semilirnya, menggetar kendi

di kepala kakak perempuan

yang di dalamnya bunga beragam rupa

di balik mata seberang

candumu mengemas hilang

yang menetes dari dahan-dahan kering

Medan, 2019


Tugas-Tugas Jarak

jarak ini tumbuh daun-daun kering

menepi menuju masjid

suara sapu lidi menyeret tanah

mengeja langkah kepergian lalu

larut malam kini menyerang rimbun

kaki menaiki kendara

kepala bocah panas waktu

dengan tugas-tugas tak berujung

barulah ia mendaki inginnya

kelebat duka suara ibu

sungguh tak ia ingkari kehadirannya


Medan, 2019


Burung-Burung Tak Menangkap Kabar

cakarmu tak melubangi tanah

detak-detaknya tertanam di sana

yang semakin senja

dan terbenam

Medan, 2019


Yang Diulang-Ulang

berulang-ulang

tasbih berulang-ulang

bulirnya menghantarkan gelisah

berulang-ulang

lantunan kuulang

bawa aku pulang

memelukmu

Medan, 2019


Tampungan Air

kau hanya duduk

mencium tubuh air

simpan aku dalam sedih

dan gulana

mahir ia menerjemahkan

tubuhmu tapi tidak pada tubuhku

di sana rindu tak mencuat

hanya menggelembung seperti

napas yang tanam

Medan, 2019


Menatap Langit

Ada hujan berjatuhan di matamu

kedap bintang mengairi cahaya musim

dari bumi, langit mengasah gulita

yang matang sebagai bakal mimpi

Ia tetap kukuh

mengakarkan rimbun harapan

memoar; menukik janji

sampai pulang ke jangkar hari

dan pagi-pagi penuh recehan ilusi

Medan, 2019


Makna Pagi

Anak-anak mencari subuh

menabung amal, dan menaikkan restu

dari tuhan sudah berkali-kali mengingatkan.

mereka telah tunai menanggalkan kantuk

suara panggilan dari ufuk,  mengaburkan mimpi

roh kembali pada jasad setiap malam.

Anak-anak mencari riwayat pagi

sementara kau masih berkabut sepi

membiarkan rohmu keluar tanpa tuhan

mengumpulkan kegaduhan dan setan di tubuhmu

sebagaimana kita mengadu pada laut.

Pada tangisan tangisan langit, perihal problema

yang mengurangi napas jantung.

tak berkukuh terang pada jalanan yang ditempuh.

kau telah menghabiskan kesabaran

pada sepi di sebuah lampu kota dan

taman-taman yang tak ada rupa bunga

Medan, 2019


Sebuah Pelita

rahasia tumbuh dari tubuhmu

waktu menata kata menjadi pertanyaan

renta hari, langit menangkap sunyi

masa silam disirami janji

angin telah mewartakan pagi

sebagai awal dari rantai mimpi

kau masih saja memanggul petang

dan riwayat yang kusebut usai

aku telah berkelana

melihat dunia padat di pipimu

setelah usia semakin tumpul,

kau tetap pelita

Medan, 2019


Julaiha S. (Julaiha Sembiring), perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Bergiat di Kompensasi, Labsas dan KPPI-Medan. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online yakni;Koran Tempo, Media Indonesia, Basabasi.co, Solopos, Suara NTB,dan lainnya. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *