Puisi

Puisi Kharisma Damayanti

November 13, 2019

Malam yang Panjang

Doa berembus dari bibirmu

dan kau tiupkan di sekujur malam

mimpi baik akan datang

menyelimuti lelap yang dingin

Pejamkan mata sekarang

apalagi yang sibuk berlalu-lalang

di dadamu itu?

Mengapa tak kau loloskan saja

agar ia bebas menyusuri malam

dan menemukan tempatnya bertenang-tenang?

Waktu semakin tajam

kau sampai di puncak sepi

mengetuk bulan untuk membukakan

pintu cahaya lalu masuk dan

menemukan dirimu jatuh di antara

lembaran-lembaran masa lalu

Kau sudah lelah, tampak dari

sajak-sajak yang kau bacakan

hanya bergaung di kepala

tak pernah didengar oleh siapa-siapa

Tidurlah,

maka malam akan terasa panjang

dan pagi masihlah jauh membangunkan

rindu di hati tabahmu itu

Magetan, Oktober 2019


Doa di Suatu Hari Menjelang Pagi  

Sunyi meninggi

malam kian menepi

embun terburu-buru tumbuh

dari dadamu yang rapuh

Jelang pagi

hening bersuara di kepalamu

meribut segala ingatan

isak tak bisa lagi kau tahan

Lalu yang pecah

adalah gelas-gelas matamu

berserak masa lalu di lantai

begitu buram semua itu

Puncak sunyi

langit masih gelap

azan pertama menyelinap

di jantungmu yang berkarat

Sedikit berdebar,

kau menunggu matahari jatuh

mengeringkan luka-luka yang ngembun

dari celah matamu

Magetan, Oktober 2019


Pukul Setengah Sepuluh

Matahari pukul setengah sepuluh

mencondongkan tubuhnya kepadamu

sampai peluh membasahi kepala

membanjur sampai sela-sela doa

Kau lihat langit pukul setengah sepuluh

jutaan burung melesat pergi dari tanganmu

yang sedari subuh kau penjarakan

demi meraup harapan demi harapan

Mendung belum lagi bangun,

tapi kau telah menginginkan gerimis

bertandang ke rumahmu selagi

anak-istri menekan kosong perut mereka

Cuaca sedang sekarat, katamu

terik tak bisa diajak kompromi

meski kau jejalkan dupa

ke kantong bolong musim

Tak bisa, langit pukul setengah sepuluh

memang selalu begitu

mengikat setiap lakumu

yang mulai linglung dan bosan

Tapi, tidakkah kau rela berjalan jauh

demi menemukan cuaca

anak-istrimu sudah lama menanti

bermandi gerimis tertawa-tawa

Pukul setengah sepuluh lebih

langit menangis tanpa air mata

Magetan, Oktober 2019


Cuaca yang Baik

Tenanglah,

bukankah cuaca sudah mengalah hari ini

ia tak membebankan tugasnya padamu

juga tak mengundang angin untuk membadai

di sore yang kelewat hening

Jangan salahkan ia,

puisi-puisimu tak ditulis musiman kan?

kau berkata-kata sepanjang hari

bahkan cuaca senantiasa mengabadikan

dengan mengalirkan napasnya ke denyut ingatanmu

Ia setia melakukan tugas

merawat baik kenanganmu

tak membiarkan waktu mencurinya atau meracuni dengan khayalan-khayalan

Maka tenanglah,

cukupkan hatimu yang sakit itu

biarkan perlahan pulih dengan merelakan yang tak kembali

dan kelak pun sembuh saat kau sudah berdamai dan memaafkan luka-luka di masa lalu

Magetan, Oktober 2019


Menanti Hujan Turun

Di beranda, sepasang mata berkaca-kaca membaca cuaca. Semesta di pikirannya sibuk melipat kemarau dan berusaha merentangkan penghujan.

Sementara itu, di luar angin beraroma tanah basah. Semilir membelai kenangan yang menjuntai-juntai dari ingatan. Denyar gerimis mulai terasa menitik satu-satu dari mata.

Hujan pun turun. Ricih-ricih waktu deras bersejatuh. Memanggil-manggil doa dari dada yang tergenang, sampaikan ke langit paling tenang.

Magetan, Oktober 2019


Seseduh Ingatan

Masih panas,

kepul asap kopi di meja

serupa kabut menggayut di jalan-jalan pikiran

kita sesap pahitnya perlahan-lahan

menanggalkan kesedihan dan membiarkan

segalanya hilang begitu saja

Bukankah itu lebih baik

daripada menjaga apa yang telah tiada

membuang detik percuma

sudah cukup kita rawat luka

perihnya yang lama membikin lupa

bagaimana cara berdoa

Magetan, 2019


Pada Suatu Senja

Pada suatu senja,

ia berjalan entah ke mana

membawa rahasia

Barangkali ke rumah ibu

di pusara lindap sepi

tempatnya menabur bunga-bunga

Atau ke rumah ayah

yang letaknya di sudut mata

begitu nanar dan jauh

Ia linglung, sudah jauh berjalan

melewati kelokan-kelokan,

tapi semakin menjauh dari ayah dan ibu

Ia seorang, berkelana tanpa arah

mengikuti jejak dari gugur daun-daun

diterpa angin yang badai di matanya

Pada suatu senja di hari lain

ia menemukan sebuah alamat di koran

dan ingin berkunjung ke sana, menemui Kau

Tapi, apa guna rahasia yang ia bawa

bila Kau sudah tahu segala-gala

akankah Kau berpura-pura menerimanya?

Magetan, 30 Juli 2017


Sebentar

Hari demi hari

angin menyisir padang-padang

menerbangkan debu-debu

sampai padaku

Berkumpullah debu itu

pada kaca jendela rumah

yang kian mengabu

termakan waktu

Lalu kugambar wajahmu

di kaca jendela itu

kepalaku bersandar di sana

kita bertemu mata

Cerita-cerita kita bagi

tawa-tangis silih berganti

dan angin datang lagi

menerbangkanmu, membawamu pergi

Apakah kau kembali

ke padang-padang itu lagi?

Magetan, Juli 2019


Mata Beningmu

ada awan, matahari, kadang juga

bulan, bintang-bintang berkelip di sana

di matamu, mata bening itu

aku gemar sekali merangkai tatapmu

yang seringkali berganti cuaca

menjadi sajak-sajak musim

di mata beningmu,

telah hidup semesta cintaku

membentang rindu tak terukur oleh penjuru

Magetan, September 2019


Kelahiran Puisi

Malam ini, telah kulahirkan puisi

disaksikan cahaya bulan dan ribuan gugus bintang

meriah cericit burung malam menyambut

angin riuh bergemuruh, berpestalah semesta!

Silakan timang puisiku, duhai Kekasih

aku adalah ibu yang akan mengenalkannya pada keras dunia

kelak, ia adalah kata-kata paling tajam

menusuki jantung-jantung orang ngawur

agar tak semena-mena mengatur

Kekasih, atas nama-Mu

izinkan puisiku menggapai puncak citanya

dibaca dunia sebagai tanda bahwa berkata-kata memiliki hak merdeka

Magetan, Oktober 2019


Kharisma Damayanti, lahir dan besar di kaki gunung Lawu. Beberapa karyanya baik puisi maupun cerpen telah dibukukan dalam antologi bersama.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *