Puisi

Puisi Kiki Sulistyo

December 29, 2020

Apakah yang Kau Lihat dari Seekor Lebah?

apakah yang kau lihat dari seekor lebah?

dengung sayap, sayup di kayu atap, sarang

berlapis dari malam dan getah propolis

mencari serbuk sari, nektar bunga, berhektar

daun mahkota di antara duri-duri.

apakah yang kau bayangkan dari seekor lebah?

sebatang puisi dengan putik berisi bintik sepi,

sengat rima merekat dalam irama, bila terperangkap

di jendela kaca, dengarlah upaya, mencapai cahaya,

musik dunia yang mengusik asmaradana.

2020


Burung Firdaus

tiap malam ada siul burung firdaus

dari gugus kaprikornus, seperti dengus,

padi ladang yang meninggi, melepas biji-biji

ke pusat humus, di pusar antariksa 

bila datang pagi, kau akan bernyanyi

meniru bunyi matahari, kaki-kaki akar

resap ke pusat gili, kelahiran berdengung

dalam kantung tanah, saat rampung denah

dan musim tanam dimulai 

burung firdaus turun, hitam seperti ancaman

membawa bangkai bintang, keturunanmu

menamainya iman, api yang nanti

dipakai meledakkan diri, sembari berharap

diri terlontar kembali, ke gili ini, tempat

seekor ular melingkari sebatang puisi

2020


Di Seberang Hotel

di seberang hotel, tunas tomat menempel

pada pagar rumah dinas, keping-keping

kaca masih memantulkan paras orang mati

setelah bunyi sirine dan sisa parade mengubah

kota jadi lembah api

bila nanti dari pucuknya muncul bakal biji

seseorang akan dilahirkan kembali

dengan mata buta dan lisan bagai besi karatan

tak sudi bersaksi bahwa sejarah bergerak

searah ayunan kapak pada tegak tonggak

di lobi hotel rapat akan dimulai, sebentar lagi

lonceng ekonomi berdentang dan seketika

bangunan- bangunan berdiri seperti zombie

harga-harga dan daftar belanja, surga dan pasar

terbuka, tunas tomat menggigil, seakan seorang

eksil, infantil di hadapan mulut bedil

2020


Ranjang Padi

dia sendirian, berbaring di ranjang, antara

nyala lilin dan usia tua, membayangkan kematian

serupa padi yang merunduk hendak menyentuh

bumi; tak ada lagi kelaparan di dunia ini

sebutir beras menghidupkan pucuk malam

sedang lambung anak-anak pengungsi berdengung

di langit merah wabah.

dia pikirkan benua yang jauh, kapal-kapal hantu

sepanjang perairan itu, hendak sampai pantai

para penjaga bagai dinding perbatasan

menampik kedatangan, meniup api di pendiangan

dia sendirian, berbaring di ranjang, bagai berbaring

di kolam mawar, tak ada lagi kelaparan, dia dengar suara

kanak-kanak mengepakkan sayap, membawa benih padi

terbang meninggi, ke ladang bulan, kerlipnya demikian terang

butir-butir beras di hitam marmar

2020  


Kucing Kata

seekor kucing bukan seekor kucing

sebelum dihela dari bahasa

seekor kucing hanya seekor kata

yang mengeong dalam kepala

bulunya bisa berganti-ganti;

hitam serupa malam bila perasaan

sedang muram, merah jambu seperti

rindu, bila parasmu dimerahkan

puisi itu.

sekarang si kucing sedang tertidur

dengkurnya detak jantungmu saat

bermimpi melihat si penyair menyusuri

tebing-tebing bahasa, mencarimu

yang kian basah dan bergetah

di celah-celah kata, o, gerangan

apa membuat gerahammu membuka

hingga terlepas bunyi meong itu

seolah tak sengaja ?

2020


Partitur

        : Em

setiap kali melihat telur, dia tertidur,

seluruh program diundur dan jam-jam

diulang-atur. dia terbujur bagai akan

dikubur, seekor tekukur menghambur

dari dalam sumur, membuat jalur,

seakan hendak mengukur, dibutuhkan

berapa putaran umur, sampai cangkang

itu hancur.

setiap kali tertidur, dilihatnya seekor tekukur

meluncur ke rimbun melur, sulur-sulur

cahaya terjulur dari siulnya yang luhur,

dunia lantas berdebur, nyanyi trubadur,

bunyi mesin tempur, dan keluh buruh

di jam-jam lembur, lebur dalam bunyi

mazmur, membuat limbur, seakan seluruh

partitur, terguyur hujan anggur.

2020     


Fraktal Sentrifugal

                        : bn

betapa tajam duri baiduri ini, melukai daging kata

umpama kebisuan setelah perang, berhenti untuk bertahan

lalu butir darah menitik di batang-batang perdu

angkasa memantulkan merahnya yang gemilang

noktah nebula; kabut bintang dari sisa ledakan dalam kelenjar

nama-nama diembuskan ke permukaan batu 

ular pembujuk melingkar di situ, menyaru bercak bulan

radang cahaya menghidupkan burung-burung hujan

gelombang sentrifugal yang menjauhkan kata dari makna

ucapkan ‘eureka’ ketika semua percobaan telah gagal

nanti di tempat rendah ini, segala sesuatu akan kembali baru

akan kembali kilap, berkilau di dinding-dinding kitab

2020


Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok.Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *