Puisi

Puisi Lailatul Kiptiyah

July 16, 2019

Syawal

                 ; Ibuku Siti Ngaisah


sepetak ladang berpuluh tahun
menyulam dirinya untuk terus hijau

di tengah-tengahnya jantung ibu

berdegup mekar menjaga kangenku

sedang pohon-pohonnya tubuh yang tabah
melepas anak-anak embun
lesap ke urat-urat

perjalanan
melimpahiku ribuan maaf


dari kejauhan

Mataram, Syawal 1440 H


Menulis Sajak Tiga Baris

yang putih adalah kabut
yang sedih adalah putih
yang terenggut

burung-burung kembali
berpulang pada magrib
menujuMu duka berjalan tertib

kuseterika baju-bajumu
setelah kau cuci bersih
masa lalu

rembulan penuh
jatuh ke mata sungai
oh, cinta yang berderai

di bawah lampu menyala
begitu subur air mata
begitu rimbun luka-luka

kemarau yang menggenangi
seluruh kota
mengenangkanku pada lagu Africa

dari puisimu, Goenawan Mohamad
kusimpan dengan sedih
sepatu kecil Aylan Kurdi

di dalam tanah
sebutir benih pecah
ia pahami hakekat ibadah

yang dalam adalah laut
yang hitam adalah luput
yang cemas adalah doa-doa yang kusebut

Ramadhan- Syawal, 1440 H


Memandang ke Seberang Halaman

apa yang kau temukan
saat kau pandang
ke seberang halaman

jalan berpaving kotak-kotak
pembatasnya dulu jajaran batang-batang
luntas, sebatang nangka bubur dan
sedepa ke kiri segerumbul talas

seorang modin, beberapa orang dandan
pernah melewati jalan itu
membawa seorang demi seorang
-calon menantu

bagi tiga anak perawan
penghuni rumah limas
sebelah kiri jalan

apa yang kau simpan
di lubuk kenang
pada seberang halaman

kau yang datang dari arah jauh
arah yang berlawanan
bersetelan jas hitam, bersongkok hitam

di kiri kanan pundakmu
disangga tangan-tangan keluarga
sepasang kembar mayang mekar
menjemput mempelai perempuanmu

ke dalam rumah limas itu


dengan tubuh saling gemetar
kau dan mempelai perempuanmu
menyesap kucuran air kendi

air yang terperam dalam tujuh
rupa kembang

yang aromanya tak bisa hilang
hingga jauh memasuki tubuh malam
membenam dalam

menetes-netes, bermalam-malam
menjadi candu tak terbilang

Ampenan, 20 Maret 2019


Jarak

sebatang jarak tumbuh masih rendah
di tepi parit dekat masjid
yang tak begitu megah

pernah kupetik beberapa lembar
daunnya
tanpa izin ke barang siapa

“petiklah beberapa lembar daun jarak
dekat masjid itu
untuk kubalurkan ke perut bocah lelakimu”

seorang ibu dari Sumbawa
mengucap padaku

di tengah malam sebelumnya
diare serta panas menyerang
bocah lelakiku

beberapa hari selepas genap dua tahun

kini sebatang jarak kutemukan lagi, rimbun
di halaman sebuah rumah
dekat pondokan kami yang baru

kupandang setiap lewat
pohon yang menyimpan kelebat
suara seorang ibu dari Sumbawa
suara mantra yang sepurba

mitologi itu

Ampenan, 19-20 Maret 2019


Burung Hantu

di pohon hitam
di jam terkelam
kutangkap melodimu

Pagesangan, Januari 2017


Tarekat

aku menulismu
berulang-ulang

aku memanggilmu
tak pernah bimbang

dan aku menempuhmu
lewat ribuan lambang

2017


Di Kolam Renang Valerie

di atasmu duduk

bergantung enam butir jeruk

pada carang-carang sekaku telunjuk

gemar dan mahir menusuk

sesuatu yang sedih kau sembunyikan

di kediaman tengkuk

Jember, September 2018


Di Balai Kota


di balai kota menegak pagar
dari ribuan papan kembang
matahari mata yang menyabarkan
saat laki-laki itu
memasuki jantung gedung
namun ia merasa tenang
dan barangkali menang

memandang dendam kian mekar
di ruang sidang

Mei 2017-September 2018


Kesedihan Musim

sebuah paceklik datang tak memandang

waktu. Tangannya terulur demikian karib

menjangkau pintu

seekor induk unggas memburu butiran jagung

yang terbawa paruh burung
di hampar kebun yang memutih itu

seperti sehabis hujan abu

namun dari pucuk daun nangka
sebutir embun menitik
tak kentara

serupa doa yang diam-diam
terjaga
di sudut gema

bilakah hujan membuyar

lagi dari utara?

lewat tangan laut yang menyudahi nestapa


2017-2019


Doa

duhai angin yang melipur
ladang-ladang kering, musim-musim tugur
bawa sajak-sajakku serupa burung
menabur kidung dan terbang
merambahi puncak kesedihan

2018


Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar. Pernah lama bekerja di Jakarta. Sejak 2014 hingga sekarang menetap di Mataram dan turut menjadi bagian keluarga dari komunitas Akarpohon Mataram, NTB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *