Puisi

Puisi LY. Misnoto

January 1, 2020

Silsilah Cinta

ketika hati lama mati,

suara rasa terkirim pada kegelapan

setelah kenyataan tak senyata senyummu

ketika pertemuan terlapangkan,

sepi dari tangis dan rasa rindu

semisal lilin yang menyala dalam ruangan

ketika fajar menemuimu di halaman,

rumput-rumput ramai

menyuarakan sisa-sisa bahagia

ketika cinta bertemu tuannya,

harapan sunyi dari derai ilalang

tumbuh di taman kenangan yang gersang

ketika rumah tak beratap,

sisa-sisa namamu tak lagi dinaungi

apalagi hati yang dulu bahagia

selaksa hikayat anak-anak di masa kecil

mendengarkan dendangan hati kita

masih kuwiridkan senyummu

ketika purnama menemukan istri,

sejuk terlewatkan di antara jalan sunyi

pada kesetiaan yang menanti rindu

ketika aku diperjumpakan denganmu,

dalam kesanggupan untuk berikrar

kembali merangkai riwayat cinta

Malang, 2019


Silsilah Perasaan

Siti,

perjalanan ini tak lebih dari rindu

sementara hati mengharap bahagia

setelah zaman melahirkan luka

dari rahim yang disetubuhi waktu

antara bingkai jarak di wajahmu

Siti,

tubuh terengah-engah hampir pasrah

sementara otak masih ditumbuhi senyuman

ketika parasmu menjadi benih cinta

acap kali digarap dengan rasa sayang

pelaksanaannya tersesat di antara hati kita

Siti,

tentang ketulusan dalam setia

telah tertakar bersama perasaan

sekalipun tak akan ada kenangan

setelah semuanya terangkum ikatan

akan utuh di hati sebelum mati

Malang, 2019


Akulah

akulah rindu,

dalam seduhan secangkir kopi

saat segalanya menjadi asap kematian

selepas tertinggal pada jarak

dan kesanggupan kumenghirup

akulah rasa,

dalam makanan yang terhidang

saat segalanya menjadi irisan kehidupan

selepas berlabuh dalam luka

akulah puisi,

dalam setiap buku harian

saat rindu dan rasa memilih tiada

selepas ramalan luka perawan

menghancurkan hati di sepanjang air mata

yang terlanjur melupakan sabda cinta

Malang, 2019


Pertanyaan Berakhir di Ingatan

kenapa harus cemas malam ini?

mungkinkah pekerjaan tadi siang

atau barangkali bingung untuk memulai?

perbedaan adalah variasi

sebelum membahagiakan diri sendiri

tanpa harus memikirkan kami

yang tak sudi mencari jawaban

mengapa kau melakukan berkali-kali,

masih belum puas dengan kuasa di kening?

semakin merajam kecemasan

pada tubuh mereka yang membatu

di punggungnya tersimpan pertanyaan

tentang kebangkitan dan kematian

mungkinkah esok hari

mereka menyelesaikan pertanyaan?

kenapa seakan mereka tak kuasa

ketika kau berlari mengejar arah

di tubuh mereka yang tidak tahu?

masih tetap sama di jarak waktu

jawaban hanyalah harapan

selepas mereka mati tanpa kerangka

meski berkali-kali datang

pertanyaan-pertanyaan resah

yang setia redup dalam ingatan

Malang, 2019


Aku tak Tidur Malam Ini

aku tak tidur malam ini

masih menulis air mata luka

menjadi puisi dan mantra

yang gemar dibacakan untuk kekasih

atau dihantarkan melalui angin roh jiwa

seperti persemadian waktu

yang membutuhkan tumbal hati

yang memerlukan meditasi rindu

dalam cinta tertata

lalu tidurlah aku di wajahmu

aku tak tidur malam ini

membaca segala yang dilihat

dalam segenap rindu

bersama sebuah perjalanan waktu

yang terkadang selalu diburu

mencari wajahmu setelah membuka pintu

aku tak tidur malam ini

masih bersama wajahmu

yang terkadang menjadi halimun

aku tak tidur malam ini

teman-temanku memberikan secangkir kopi

menjauhkan rasa dalam diri

seakan wajahmu terlelap di hangatnya

ketika purnama memulaskan diri

Malang, 2019


Tak Ada Hari Libur

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah keluar dari kalender

menyusul kepergian Bapa

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah menjauh dari cetakan merah

menutup segala kesenangan anak sekolah

dari segenap pelipur perjalanan

yang kerap dicekoki tanggal hitam

Siti,

hari ini tak ada hari libur

biar tak selalu bergegas para pekerja

merapikan segala arah bertampak kertas

yang lusuh menjadi kenangan

yang rapi dilampui warna mahkota

disimpan dalam pecahan sunyi

Siti,

hari libur tak akan ada

ia telah abadi

di suatu tempat nan sunyi

di perkampungan tak berpenghuni

dan tak akan ada caci maki

Malang, 2019


Berhentilah

berhentilah menangis, Siti, berhentilah

kau sudah sampai pada puncak sunyi

bertamulah pada bulan

ada suguhan cahaya di sana

mintalah untuk kaubawa pulang

dan berikan pada masa lalu

berhentilah menyesal, Siti, berhentilah

akan ada puisi untuk kaubaca

menjadikannya obat sakit kepala

hilanglah mantra-mantra masa lalu

berhentilah tidur, Siti, berhentilah

malam ini akan datang purnama

jemputlah ia sebelum pagi

suguhkan rindu di meja tamu

Malang, 2019


Doa di Suatu Pagi

sebelum mata mulai berkerja

matahari belum melampui dedaunan

bising belum berdendang

biasanya selalu menyangkut di telinga

di kening masih terpancar kerut cahaya

melampaui sederet sajadah

dalam segala renung yang ditinggalkan

dan terkadang disimpan di dada

maka biarkan dedaunan mengembus angin

di kerut kening yang diwarnai luka

agar nanti, sebait doa yang kita eja

terbang menemui tuannya

lalu kita menerka yang akan terjadi

sebelum matahari menghisap gelap

biarkan tafsir langkah mengikuti arah angin

dan biarkanlah mata bekerja

di keriput kening bersama doa

Malang, 2019


Sebuah Kisah

matahari sebelum melewati waktu

masih mencondongkan tubuhnya

di kepala yang masih basah dari sisa semalam

sampai di sekujur doa-doa

semestinya kita berkisah di tangisan langit

bersama burung-burung yang pulang pergi

sedari subuh telah ia ikrarkan

demi sebuah kisah dalam harapan

langit masih tak berkawan mendung

meski kita selalu menjemput gerimis

dengan doa-doa di samping rumah

ketika perut-perut sudah kosong

bumi kita sedang sekarat, kawan

seluruh cuaca tak bisa diajak kompromi

meski beribu dupa kau jejalkan

pada ranting-ranting yang kemarau

dan akar yang tak bermusim

seharusnya tak seperti itu

setiap kisah semestinya beriringan doa

namun, doa telah membuatnya bosan

tak perlu lagi berjalan jauh

demi memohon kepada cuaca

sekadar menikmati romantisme gerimis

dan bertawa ria di dalamnya

sudah tiba untuk tak berkisah

tangis hanya sekadar catatan rindu

Malang, 2019


Pada Cuaca Pagi Ini

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menghirup aroma rindu

meski hujan sedang bergerai di luar

mengguyur seluruh doa

yang kita titipkan air mata

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menikmati kegelisahan

yang terbawa dalam tubuh sebelum lahir

dan kita tertimpa panas berkepanjangan

di dada kita, cuaca membaca kenangan

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita merasa haru

pada orang-orang yang memilih bersandiwara

ketika diam-diam tubuhnya merangkai rindu

melupakan kebersamaan

tak lagi melipurkan kedinginan

dan menutup panas yang membakar

Malang, 2019


LY. Misnoto, lahir di Pulau Giliraja, Kab. Sumenep, Madura. Menulis puisi semenjak berada di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Bluto. Puisi-puisinya dimuat di Radar Madura, Radar Malang, Radar Cirebon, Kabar Madura, Harian Ekspres Malaysia, Majalah Kuntum, dll. buku antologi tunggal barunya berjudul “Mayang”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *