Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

August 25, 2020

Hujan di Telinga

seseorang, yang kalah dengan nikmat Tuhan

melewati kebosanan demi kebosanan

dengan cara mengudara

lewat kata-kata

yang hidup dan berkembang biak

di jantung telepon genggam

kemudian muncul hantu

yang menari di tengah hujan

sembunyi di balik ramainya bunyi atap

dan pekikan udara

aku menyaksikan semua itu sambil merokok

dan menulis sebuah puisi iseng

di dalam telinga, muncul bunga bunga

2019


Ke Tenggara Jiwa

menangkal kesepian demi kesepian

yang diam di sarkofagus tepi jiwa

aku berjoget di udara

bersamamu, melewati banyak lagu burung

di awan tinggi

kita menikahi hujan dan membasahi banyak rumah

yang selalu berdoa

terus berdoa

agar senantiasa kaya

di atas sana

malaikat bercahaya putih suci bersih

sebagai peracik ulung kebahagiaan

berencana membakar sebuah mall

agar seluruh orang yang cari duit di sana

pulang, dan meminta

menangis

dan memeluk

agar ibu

selalu mau melepas diri dari keterpojokan

dan selalu tinggal

di rumah

menyapu banyak masalah

2019


Obat Gila

dengan segala hormat, puisi

dengan segala takut, segala sisi formal,

segala aturan

agar arus bawah tetap di bawah

agar purna akal tetap di langit tinggi

kepadamu puisi

kugali huruf-huruf

tegang badan sendiri bak kaktus di tengah

hutan

tiada matahari tiada angin

tiada apa pun

yang ada hanya cahaya samar

menembus hingga ke tulang

dan ketika pulang

hai puisi, hai umur panjang

kupulangkan segala kenang

agar purna harapan

yang diam di tepi tangis

panjang

oh doa doa

oh apa saja

lekas pulangkan segera

obat bagi jiwa

2019


Beku

siluman berkepala nabi

mendaftarkan diri masuk pegawai negeri

agar candala demi candala

di lebat hujan sana

tiada meminta apa

bikini gadis itu tersangkut di tepian pulau

ketika salju menampar mukanya

di sisi terakota

lelakinya, namanya topik

sedang memasak es batu

dan menanak banyak embun

untuk perempuan salju tadi

dua gelas sirup rasa jambu muda

tersedia begitu saja

setelah badai salju ribuan daya

menenggelamkan tubuh-tubuh penuh

elektron

dan, mati juga akhirnya

kala topik bertanya,

“pranata itu apa, hai kekasihku yang sudah

tiada?”

2019


Bertahan

seekor sapi dari dalam kitab suci,

sejak 14 abad lalu, mencoba

muncul ke dalam pinggan nasimu

tapi gagal, selalu gagal

sebab, ayam-ayam di kampus

dan ayam kampus di pusat perbelanjaan

menawarkan nubuat gurih nikmat

ke dalam tubuhmu yang universal

dirimu, dan sekularisme yang sering main

di celana

menjadi juri bagi dirimu sendiri

kau bertahan, selalu bertahan

agar lepas segala beban

agar pergi ingatan

akan tetapi, kau selalu menolak

kedatangan sapi dari kitab suci, ke dalam

pinggan nasi

yang kau upayakan diri tanggungmu

mampu menahan isak ribuan tahun

ragamu, dan asa kemerdekaan

bertahan, bertahan, bertahan

demi ayam-ayam amerika di restoran

kenamaan

dan seragam sekolah anakmu

kau menarik kembali sapi di kitab suci

dan memasak sebuah sup

kau menangisi kuahnya

sebab

itu kuah air matamu

itu kuah pedih sembilu

2019


Ruang Tulis

hai

ke mana seluruh isi bumi?

aku ingin menitipkan lara ini

untuk teman segala kenang

untuk hidup!

apa? apa aku harus tiap hari di sini

sendiri di balik sepi

apa? kau tak mendengarku?

oh baiklah

akan kutelan sendiri hidupku

aku tak akan mati-mati

tak akan pernah kalah!

lihat saja!

2019


Ruang Tulis /2/

sungguh, aku ingin menemukan diriku

di kedalaman sendiri

di tepi apa pun

tidak ada suara

tidak apa pun

bahkan diriku pun tak

kunjung kutemukan

aku terus menulis

dan menulis

hingga letihku

penuh seluruh

2019


Ruang Tidur

di gelap hebat ini, kekasih

aku tertidur, dan terbangun

satu jam kemudian.

tidak ada apa-apa di sini

kecuali doa

doa-doa panjang

yang kutulis, kurangkai, kudiamkan,

menjadi seekor puisi yang

mudah-mudahan kau mau

mudah-mudahan kau

lelap bersamanya

dan membangunkanku lagi

satu jam kemudian

2019


Ruang Tidur /2/

kubikinkan ruang tidur untukmu

biar kau tak butuh lagi pelukan,

kening yang telah dikecup,

atau sentuhan ngilu ke jantung

besok senin, kekasih

dan kau masih terbang di udara?

tidak, sesekali jangan begitu

kewarasan orang kota akan menelanjangimu

2019


Tidur

di lagu terakhir ini

telah kuhempas badan

kuhempas apa saja!

aku ingin ke sana, Rabbi

ke sudut jauh

memulangkan segala ingin

menafikan semua mau

rebah aku dalam tiap sujud

tunduk, aku patuh

tolonglah, tolong aku

mengenal yang namanya istirah

2019


Ruangan Ini Beku dan Dingin

salju masih menembus rumah

dinginnya ke jantung

kecut badan remuk di tulang

kunyalakan ponsel pintar

kutarik orang-orang

untuk menerjemahkan hidup pelik ini

menerjemahkan peta

tapi, seorang pun tidak

mengetuk pintu

mengucap salam, atau apa pun

Padang, 10 Januari 2019


Maulidan Rahman Siregar, sekarang lebih suka bikin arsip. Belum giat membaca dan menulis. Tidak terlalu suka kucing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *