Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

January 8, 2020

Taman Kota Jam Dua

di taman kota, aku menemukan diriku

sedang awas pada tiap telinga.

kusulut ini rokok dalam diam,

dalam-dalam

ibu, hai yang tak kutahu namanya

demi hebatnya malam

kopi harap segerakan!

mi instan untuk ketegangan seorang

perempuan

dan gelak tawa seorang bujang

pecah apa pun yang jadi sunyi

kutulis puisi 15 menit dan tak peduli

ketika seekor nyamuk menampar mukaku

ia bertanya iseng,

“hai, ini malam Minggu, kau tak ada janji

bertemu?”

2018


Wahai Kesepian

dari mana kau datang wahai kesepian

siapa yang mengutusmu

jarak adalah kisah yang membosankan

bila diceritakan oleh malam

Tuhan sayang, kala pertemuan adalah

makhluk yang hanya kalah tipis dari surga

mengapa Kau perkenalkan perpisahan 

Pariaman, 2014


Goreng Cinta Percintaan

aku tiba di kotamu

melewati kabut gila

asap penuh sesak; bangsat!

sebelum dan sesudahnya

kulumuri karang gigi dengan doa

; tentang apa yang kita sebut harap

; tentang bagaimana menunggu

akan kupeluk kau; sekuat tenaga!

hangat, umpama pijar pada gelap hebat

kita tak tahu lagi orang lewat

bagaimana burung pulang alamat

goreng pisang rasa cinta

dan tulisan Rp.500,- yang dicetak miring tebal

lumat pada mentari yang malu-malu

dan kau yang sedang kuyup

pasti sedang mencari

bagaimana aku sembunyi

di tepi diri

di awal malam

kita sama bertanya,

“kapan dan untuk apa pulang?”

Mei, 2018


Hari Lalu

yang jauh akan pulang

seperti masa lalu dalam ingatan seseorang

tak ada tempat bagi yang pergi

melainkan kembali

seperti kemarin pada hari ini

padi masak sore hari

burung gereja pulang petang di masjid-masjid

angin menemui sarangnya

senja menyembunyikan hari esok

dalam cahaya merah saga

kau pasti kembali

2015


Sepasang Kekasih yang Lupa Bagaimana Cara Bercinta di Atas Awan

pada bumi, salam maaf telah diam di hati
disampaikan di udara, ditulis, dibukukan malaikat
jatuh jua kita, kekasih
sampailah kita pada waktu jauh
jalan pulang yang salah dan panjang

berdamai dengan iblis hitam bertenaga musik metal cadas
kecemasan yang ramai, seperti pengunjung konser musik yang kehilangan kunci motor
rangkul saja aku, kekasih
peluk dengan segala hangat
kecup lagi sedikit, kalau bisa gigit sampai sakit
ya, kita harus siap untuk jatuh

kita adalah sepasang kekasih yang lupa bagaimana cara bercinta di atas awan
tak lain, yang selalu kita jaga hanya doa
itu saja

Ketaping, 08/04/2015


Cinta Adalah

cinta adalah lantunan maha sakit,

tempat di mana ketiadaan harus dipertanyakan,

penyair berkata, lewat akun twitter-nya

“cinta adalah hari libur pedagang pasar pagi,

lebih susah dicari, dari mencari-cari mati.”

2014


Masuk ke Rahimmu

pulang ke rahimmu

aku mencret

ngilu pedih seluruhku

jangan kau lari

kau tak bisa sepenuhnya

sembunyi, dari apa

yang sebabkan mati

kau selamanya bingung

di jantung, kau akan selalu

murung digantung.

kepalamu akan muncul

di gunung-gunung

dan tak seorang pun

pernah ingat kau ada

2018


Obat Luka

beberapa lagu dalam sunyi

bunyi, selalu bunyi

selalu saja, diri ini kehilangan diri

bahkan ketika aku memanggil apa saja

tak seorang pun, bahkan juga kau

mampir ke sini

untuk obati luka

kau di mana, kau?

aku, di mana aku?

kukira kau tau

rupanya kau bukan

2019


Menebar Bunyi

aku ingin dikenang olehmu sebagai bunyi

yang lama dan bertamasya di hati

diam pula di jantung

aku ingin lama di dalam dirimu

seperti siul burung-burung di kejauhan

seperti ledakan di medan perang

yang merebut kemerdekaan

dan memenjarakan ingatan

2019


Di Udara

kita bercinta sekuat tenaga

di udara

kau ayun jiwaku tinggi ke atas

enak, kita berdansa riang

gembira

eh, anu

bergetar ah, ada sesuatu di celana

berdistorsi, bertenaga

dan tentu saja, cintaku, manisku, sayangku,

muah muah

aku akan memenangkan niaga!

2019


Dangdut dari Kejauhan

Gerimis di telinga

Badai di mata

Hati luluh-lantak merana.

Aku mau pulang ke bahumu

Bersandar, meminta jalan pulang.

Meski rumah terbakar, sungguh!

Kamu lebih kilau dengan gingsul

pada gigi. Lubang jepang di pipi.

Sungguh!

Bagai laju kota.

Aku akan selalu berburu.

Orang-orang berlari mengejarmu.

Aku naik motor. Sungguh!

Bukalah pintu!

Seorang baik selesai mengetuk.

Mei, 2017


Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *