Puisi

Puisi Miftachur Rozak

January 12, 2021

Jam di Tangan Sudah Mati

jam di tangan sudah mati

masih melingkar di tangan kiri

namun, kata-kata tetap berdetak

mengulur waktu mentashih sajak.

dan terkadang pikiran kelayapan

mencari-cari alasan kebenaran

menyalahkan waktu, tak tahu jalan.

bus kota pun lekas datang

membawa seratus penumpang

namun aku tidak jadi pulang

sebelum sajak yang kau tulis

menjadi penerang jalan.

Jombang, April 2020


Membagi Waktu

diam-diam mataku membagi waktu

pada hujan membunyikan sendu

pada daun-daun  lotus di altar rumah

pada nyala kerlip lilin dan kasturi di atas tanah

berkecipak bulir menerpa kendi liat

sebagai bunga berpijak: lotus merah jambu

tatkala bayangmu sekelebat datang

di pembagian waktu

melewati sela hujan yang ragu-ragu

menari-nari di antara insomnia dan rindu

berliku-liku dalam angan sajak bisu

yang setiap malam datang mengganggu

mataku menuliskan peristiwa itu: sajak masalalu

di balik daun lotus kering dan kelopak warna ungu

sajak-sajak itu tersimpan rapi

pada nyalang album puisi

dan akan kuberikan padamu

ketika engkau sedang rindu

seperti aku yang bertengadah untukmu

Jombang, 2020


Pingsut

gajah marah pada telunjuk

yang menunjuk-nunjuk

ketika semut sibuk menggaruk

pada telinga lebar, hingga terkapar.

namun, semut pun kandas; tertindas

oleh jari telunjuk; saling menunjuk.

dan batu pun mulai geram

pada gunting; hingga berkeping-keping.

namun ia merinding ketika kertas merunding,

apalagi jika tertempel materai iming-iming.

hompipa alaihum gambreng!

mayoritas terkapar

minoritas berlayar.

suuuut jleeng..!

gajah marah

telunjuk menunjuk

dan kelingking melengking.

Jombang, Desember 2020


Kereta Pukul Dua Siang

kereta datang tepat pukul dua siang

saat hujan menahan air matanya berlinang

pada gemawan menghitam

di atas stasiun membawa pesan

ihwal skenario digariskan.

seseorang telah datang

dengan gaun merah marun menjuntai

berkerlip kunang. sepatu tanpa hak

warna biru  genitri cukup terang.

lihatlah, perempuan itu

yang tiap malam datang bersama secawan

harapan rindu. melilit di setiap detak waktu

hidup dalam liku diksi-diksi kelu.

lihatlah, ia sedang berjalan ke arahku

seperti yang telah dikabarkan tuhan

dalam mimpiku

perihal kekasih yang turun

dari gerbong nomor tujuh

ketika hujan datang, air matanya jatuh dan luruh.

Jombang – Jogja, 2019 – 2020


Terkadang  Ingin Menjadi Air

terkadang aku ingin menjadi air

menyucikan segala hadas

yang membatalkan segala rindu.

terkadang aku merindukan air

meredakan segala haus

pada tandus.

terkadang aku membenci air

yang tiba-tiba datang

menghanyutkan segala kenang.

dan terkadang,  aku merenungi air

segala takdir adalah takrir

bagi yang berpikir.

Jombang, Juni 2020


Selaksa Api

lukaku adalah api

menyala pada puisi-puisi.

kadang murka dan membakar

pada sajak-sajak sunyi

pada muskil janji-janji .

kadang menyinari

pada lanskap kalbu

pada gelombang muasal rindu.

lukaku adalah api

nyalang  abadi di bulan Juni.

Jombang, Juni 2020


Meniup Seruling

enam lubang oktaf sudah kau tutup

namun lengking masih saja meletup

masihkah kau terus meniup

menemukanku pada nada

yang tak kau anggap hidup

Jombang,  Agustus 2020


Kelopak Anggrek

ia sudah tak berbunga

semenjak kau patahkan kelopaknya

kemarau membuatnya risau

sementara hujan buatan

hanya ada pada tangisan

maukah engkau menangis

pada bunga yang rindu gerimis

Jombang,  Desember 2020


Halaman-Halaman Pertemuan

pada halaman pertama aku mencium

bau parfummu yang legit vanila

lantas aku sibak pada halaman kedua

aku menemukan bercak lipstikmu

merah buah delima

dan selanjutnya,

dan selanjutnya

hingga aku temukan dirimu

di akhir bait yang beku

pada halaman terakhir sekumpulan puisi

dan seikat narasi, tentang penantian yang kini

menjadi semacam tali, mengikat janji di jemari

Jombang, September 2020


Matahari Mekar Berbunga

  :Kinan

matahari sedang mekar berbunga, kinan

ia bersolek di ujung timur,  langit arunika

pohon-pohon pinus sontak terbangun

dari tidur panjang semalaman

dan mereka mulai berdesis

melantunkan zikir pagi

di setiap daun-daun

dimandikan percik matahari

dan dibelai-belai desir angin

sementara,  engkau masih bersembunyi

di balik kalut jendela kayu mahoni

menghirup semerbak biji-biji puisi

yang ditulis para lelaki

apakah engkau masih takut, kinan

memilih sebiji puisi paling menawan

menggenapi puisimu yang perawan

matahari sedang mekar berbunga,  kinan

seperti engkau yang semakin perawan

Jombang, September 2020


Sarung

sarung yang dipakai ibu

sebenarnya milik bapakku

bukan karena ibu tak bisa membeli baru

namun ada tenun rindu: 

dari harum parfum bapakku

benangnya halus, sutra buih samudra

coraknya berkilau, pualam mutu manikam

hangat dari pelukan malam

sejuk dari embusan siang.

sarung yang dipakai ibu

kini diwariskan padaku

terdapat tiga jahitan baru

dari benang-benang rindu.

Jombang, April 2020


Miftachur Rozak, tinggal dan lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Ia alumnus PBSI STKIP PGRI Jombang tahun 2011, kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang sebagai guru Bahasa Indonesia. Selain menggemari vespa dan kopi, ia juga menyibukkan diri menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya tersiar di pelbagai media cetak dan daring. Puisinya Masuk dalam antologi tiga negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku Sang Acarya. Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di Facebook: Miftachur Rozak atau Instagram: @arrozak_88.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *