Puisi

Puisi Mohamad Latif

January 26, 2021

Malam penghabisan

Bakarlah kata-kata itu

Di atas tungku

Malam hanya menambah dingin

Jendela hanya mengatupkan suara

Kelak kau akan tahu

Aku yang berdiri menyendiri

Di antara sauh kesedihan

Habis nubuat di tengah jalan

Tak lagi ada yang ingat

Di malam penghabisan ini

Aku dilingkari lolong kalut

Pamekasan 2020


Masakan ibu

Serut daun kelor

Jalan-jalan jauh ke tegalan

Kucari cinta pada ikan tongkol, nasi jagung,

Dan sayur bayam

Pudar daun-daun bawang

Pijar senyum ibu tenggelam

Runyam di relung santan

Pamekasan 2020


Pencarian

Waktu tidak akan mengerti bagaimana perihnya menjadi dewasa

Ia masih saja terus berlari menjadi kanak kecil yang tak tahu apa-apa

Di luar sana orang-orang menciptakan jam dan tanggalnya sendiri

Membuat perhitungan-perhitungan kecil dan besar

Tapi aku, aku masih belum menemukan apa-apa termasuk juga cinta

Ahhh, begitu kesepiankah diriku?

Tahun-tahun adalah alat menerka diri

Waktu membusuk dalam dada

Rekah segala gelisahku ditelan musim

Pamekasan 2020


Di dermaga

Selepas silir angin laut ke kota tubuhku

Bulan hanya potret di air genang

Bangau perak bersesaran dari timur

Berlayar ke langit

Warna pudar sebuah kapal

Bulan dan mataku, jiwa yang basah

Dan sauh laut di batas

Aku hanya jangkar tua dan kemalaman

Januari mengubah takdir jarum kompas

Pada karang, pada siul angin

Dan jala para nelayan

Pamekasan 2020


Punggung kata

:annuriyah al-masuniyah

Kita mencari sesuatu yang hilang

Sebuah diksi yang tak mungkin genap

Dari setiap degup percakapan

Kerling malam juga kerling lampu di sudut kafe

Malam berlalu

Dan tembakau belum selesai juga dilinting

Membiarkan bisik

Terus melamun ke relung meja-meja gelap

Kemudian kau lindap dimamah lelap

;mengeluh

“andai waktu bisa diperlambat

tentu kita bisa merekayasa kembali purwa luka-luka”

tetapi kita hanya bisa melipat punggung kata

terjebak dalam pilihan diksi yang rumit

yang tidak pernah kita tahu akhirnya

Sumenep 2020


Tirta amarta

Ia menyimpan kabar yang tak boleh didengar

Surat-surat hanya menyimpan peluk dan ingin

Sepasang mata melotot

Tak ada air bersih di sini

______Termasuk air mata_______

Sungai menguap jalan-jalan kehabisan napas

Air menjebak mata itu di balkon

Wabah mengapung di jantung hingga batas kota

Kesedihan melompat-lompat dari atap ke atap

Mata itu bersembunyi

_______Di balik botol arak pengangguran_____

Memandu setiap perjalanan panjang dan dekat

Terminal dan pelabuhan terdekat

Yang paling sepi

Awan di atas pecah

Siapkan wadah yang paling besar

Tadah air mata yang tumpah

Biarkan dahaga lepas

Hanyut dalam denyut

Mencari dunianya masing-masing

Pamekasan 2020


Di beranda

Malam nanti

Aku kan menjelma meja di beranda

Duduk dan akan kau dapati

Kopi dengan lebur senyum

Asbak tempat membuang kenang

Dan nampan tempat kau kembalikan seluruh rindu

_____padaku______

Pamekasan 2020


Di moncek timur

Di moncek timur, pohon-pohon tengadah

Seperti hatiku

;tabah

Nyala heningku

Dimamah jarak

Siang malam pucat di dadaku

Melintas pada senyum getir

;ibu

;bapak

Pamekasan 2020


Wangsit

Di sini, di semesta jiwaku

Risau masih terasa melengking

                        Kabar yang berkisah dari malam

                        Memecah celah-celah gerimis

Sebuah tanah di musim hujan

Menjaga ingatannya

                        Pertemuan-pertemuan basah

                        Risau dan ingin meletup-letup di sini

Dari jauh anak-anak meninggalkan lamunannya

Menakar peluh dan takdir

Di tepian ladang ia melihat ibunya

Ranggas di tengah jagung

Pamekasan 2020


Nyonson

Kamis malam menjelang purnama

Perempuan-perempuan tua

Merapal harap dan ingin umat manusia

Dengan sebilah sepat berbakar kemenyan

Gemericik asap pengharapan, menebar mantra dan doa

Aroma sedap menyeruak ke segala tempat

Merasuk dari pintu ke pintu, menyeruak ke luar jendela

Menyusup ke barzakh, mengantar rindu pada leluhur

Cinta subur di sini

Menjadi tali persaudaraan

Hidup tenang dengan kesederhanaan

Pamekasan 2021


Mohamad Latif, lahir di Moncek Timur, Sumenep 28 Desember 1998. Pernah aktif di Taneyan Kesenian Bluto, Forum Belajar Sastra, Sanggar Asap dan sekarang masih bergiat di UKM Teater Fataria IAIN MADURA. Bisa disapa di Facebook: Mohammad Latif, Instagram: latifmohammad086, atau Surel: latifmohammad086@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *