Puisi

Puisi Muhamad Saef ad-Din

January 29, 2020

Dua Piring Satu Sendok

/I/

sejenak ketika itu, gadis.

betapa puisi ini sederhana

lantas bersabda:

tiada lagi cita rasa

yang hambar

di meja makan

dalam perjumpaan

antara dua piring

satu sendok

serta kau dan aku

kita mengingat kembali

sedikit menu

yang berasap di atas

piring-piring yang tanpa pisau

dan tanpa penutup,

asapnya mengepul

di atas ubun-ubun

persuaan dan perayaan

siapakah yang berpesta hari itu?

/II/

sejenak ketika itu, gadis.

betapa puisi ini sederhana

lantas bersabda:

sebagai suasana rikuh

kita hanya menyantap

seporsi puisi (hampir basi)

pada dua piring,

kita cincang baris per baris,

betis per betis dengan etis

hanya oleh satu sendok

kau yang pertama

melahapnya,

aku yang ke dua

merasakan betapa

kata-kata tidak

memberi perut kenyang

tetapi gadis,

tetapi ketika terakhir

kalinya aku melahap,

dua piring satu sendok

dengan seporsi puisi

ternyata cukup

sebagai alas

antara perkawinan

ludahmu dan lidahku

yang terhampar ambyar

di meja makan

/III/

sejenak ketika itu, gadis.

betapa puisi ini sederhana

lantas bersabda:

bahwa lusa nanti,

kita ada jadwal

makan malam

dengan menu puisi

biar suntuk semalaman

Cirebon, 2019


Menyusun Menu Sederhana

dalam perjamuan kepada roh

ada perapalan yang tak terbaca,

menguap di kaca-kaca rumah,

menyuap bayangan di lorong suwung

kenduri menyusun riwayatnya,

di sana tersedia menu mantra

yang tak berlauk-pauk. dan

kekosongan menciptakan rongga segar

tanpa isi, juga tak bermakna.

tidak ada lafal tartil,

tidak ada sahutan kata,

yang tersisa

tinggal nama-nama dan mantra.

Cirebon, 2019


Sesuap Puisi

pagi tidak pernah pamit,

ia selalu hadir kembali

sebagai bening sebutir embun

menyegarkan pundak pegal

dari kisah-kisah sesal

serta membisikan

perut yang keroncongan.

di beranda fajar,

aku sebagai nasi

yang dibungkus dengan puisi

dan aku terbuka sebagai

sarapan pagi tanpa

lalap daun kemangi, tanpa gulai,

juga tanpa secangkir teh poci.

hanya sesuap puisi.

Cirebon, 2019


Seteguk Air Tuba

jarak antara

kesepian dan keramaian

adalah dalih air tuba mereguk

dari segala yang suntuk

: kau berdendang dalam pinangan,

aku melarat di dasar kenangan.

Cirebon, 2019


Berdua: Secangkir Rasa Tawar

ada bias berkilauan di atas

secangkir air putih itu,

aku seperti merasuk tenggelam di dasar

kulihat di binar mata juga,

ada sungai Cisanggarung

mengalir bening serta dangkal,

di sana ada bebatuan

tidak bersusun meliuk-liuk

meninggalkan bekas

dari jejak Malin Kundang

pada secangkir air putih itu,

kukecap seperti laut yang tak asin

atau amis menjelma imaji

dengan ikan-ikan bersisik

berenang di pinggir bibir cangkir

kadang diam dengan recehan bahasa

menarik paksa bayang-bayang

supaya tidak ada pendar-pendar di air

sampai senja, hari ini: berdua

secangkir rasa tawar menawar manis

Cirebon, 2019


Menyaksikan Beranda Pagi

Secangkir teh dan aksara yang memudar

Jendela-jendela tamu membias

sejengkal batas

dan asbak kosong tanpa bekas puntung dan tembakau

Tumbuhan kecil di halaman merekah hijau

menyaksikan malaikat pendekar tengah

bernapas dengan sengau

Pintu depan terbuka lebar

: kedatangan tamu sajak

yang renta serta batuknya berdahak

Dari nun jauh di ujung cakrawala yang melangit

Pucuk-pucuk cemara menyampaikan

pesan-pesan euforia

Cirebon, 2019


Cita Rasa

Kau benar, cita rasa

dari setiap secangkir kopi

yang tersaji di meja dengan baik

tidak akan melarutkan aroma

manisnya, atau pahitnya semata.

Aku pernah bertanya,

mengapa bisa begitu?

Sebagai manis, kopi

akan memberimu

setakar rasa pahit.

Sebagai pahit, kopi

akan memberimu

setakar rasa manis,

katamu dengan baik

setelah meneguk kopi

entah setakar manisnya,

entah setakar pahitnya.

Cirebon, 2019


Secangkir Kopi

Kopimu pahit,

aromanya pekat

: Seperti nasib tersekat.

Asapnya mekar,

nuansa panasnya nanar

: Seperti luka memar.

Cangkirnya pedih

airnya mendidih

: Seperti reaksi raksa yang perih.

Cirebon, 2019


Pesawat Kertas

gadis kecil melayangkan

catatan hariannya

dengan pesawat kertas

menuju kilau cahayaNya:

seketika air mata menetes

sebutir demi sebutir.

gadis kecil itu

sama sekali tak memahami

ke mana ia mesti berkisah

perihal sepi yang bersarang

di bola mata hitam pekatnya.

dan harap berbalas

dari kilau cahayaNya:

ia memesan selaksa takdir.

Cirebon, 2019


Amplop Cokelat

lusa nanti, gadis

ada tukang pos

menuju alamat rumahmu

mengirim amplop cokelat

tapi di dalamnya hanya berisi

biodata dan lampiran lamaran

betapa hatimu demikian, bukan?

Cirebon, 2019


Muhamad Saef ad-Din Lahir di Cirebon, 27 November 1997. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan. Pernah aktif menjadi Jurnalis Pelajar dan Dapur Sastra. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Esai-esainya pernah jadi juara di berbagai lomba yang diselenggarakan oleh beberapa universitas. Buku debutannya ialah kumpulan puisi Eros dan Sayap-Sayap Patah (2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *