Puisi

Puisi Nafi Abdillah

October 19, 2021

Tasbih yang Mengepung Kiai As’ad

Usai dawuh Kiai Kholil yang menggetarkan tembok-tembok tempat segala yang tinggal,

butir-butir wirid yang sering berputar dari atau pada wajah-wajah yang serba kias,

mengepung lehermu juga.

“tolong sampeyan antarkan ke tanah Jombang!” begitu kira-kira.

***

Bukankah untuk mencapai haq, kau harus menjadi basmallah dahulu?

Namun, kau tak perlu memahami apa pun, meski itu bukan berarti tak harus.

Sebab napas yang kauembus bukan dari gerak udara dalam parumu.

Sebab kata yang kaulontar bukan dari endap akalmu.

Kau memerlukan wewangian yang tidak terendus oleh hidungmu

sekaligus tanpa memikirkan jenis-jenis pohon yang berbiak.

Barangkali, itu bukanlah berasal dari daftar kitab yang perlu kaubaca.

Tugasmu ialah menjaga tangan santun agar adab tetap seperti bulir air mata

ketika kau merasa berdosa atau kelewat bahagia.

Bahkan, di kedalamanmu telah kaukungkum seluruh keredak api dan perigi.

Semuanya mungkin kaumaksudkan agar tidak ada yang tiris ke dalam makrifatmu.

***

Berderaplah melebihi batas, menjauhi riam,

perasaan janggal, dan batu-batu besar Gunung Geger.

Sementara denting waktu sama halnya wirid jantungmu

yang kerap lupa menyumbat celah-celah cahaya,

mengakibatkan jari-jarimu tak berani menghirup misik

walau sekelebat, apalagi menyentuh.

Ujian, barangkali adalah makanan siap saji bagi perut-perut setan.

Namun sejak awal telah tak kaudengarkan lenguh-peluh

yang sengaja mereka serak-serakkan untuk mengoyak imanmu.

Hinggalah segala lengang terasa lekat begitu saja seperti digulung oleh waktu.

Di atas latar Teburing, tetes keringatmu adalah ritus bagi senyum merdu Kiai Hasyim.

Leher tundukmu berlaku sebagai isyarat serta hal terakhir sebelum pamitmu ialah,

“yaa jabbar, yaa jabbar, yaa jabbar, yaa qohhar, yaa qohhar, yaa qohhar.”


Bukan Mbah Moga yang Menundukkan Banjir

/1/

Di rusuk kali Paingan, saban hari kehambaan lelaki sepuh itu

dihabisi oleh tangan-tangan usia yang cukup fasih

menanggalkan pujian orang ke dinding-dinding bambunya

yang dianyam dari napas-napas Tuhan. Ia selalu yakin

bahwa segala yang liuk-ceruk-merasuk adalah rahmat.

Ia telah sampai pada maqam di mana tidak ditemukan tafsir penolakan.

Di darahnya, penuh doa yang pasrah seperti rigen petani tembakau

yang berharap dirinya tak rapuh di musim hujan.

Yang ia pahami adalah menjauhkan doa dari fungsi tetes pahala

atau imbalan yang tualang ke tegak gubuknya.

Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati

sebagai rayuan kepada Kekasihnya.

Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,

namun mirip seperti kerinduan Kanjeng Nabi

pada suara lembut Bilal yang tak lagi menyentuh telinganya lebih dari 40 hari.

Sepotong cahaya mulai bermekaran dari dalam ruh

laksana sayap Jibril yang menghalau arak-arakan awan mendung

sewaktu pamitnya Nabi. Segala tafsir mengenai jasadnya,

semata-mata adalah benteng agar benang-benang tipis menuju langit tidak terputus.

Namun, ia benar-benar tak berani memasang dirinya

di tengah-tengah gerombolan kepala yang menenteng sekerat tanda tanya.

Sebab baginya, pengakuan adalah noktah-noktah bencana.

/2/

Malam telah lamat-lamat membelalakkan sepenggal amarah yang berahi.

Tidak banyak yang berani lekat-lekat menatap,

meski telah dijanjikan segala perlindungan:

keris keramat; jubah kadim; songkok masyhur; dan jiwa yang maksum.

Semenjak itu, telah sengaja ia kaburkan matanya

terhadap segala poros yang menyamar.

Baginya, surga bukanlah titik tumpu.

Begitu pula, neraka jauh dari lumbung rasa takut dalam dirinya.

Jika sudah cinta, apakah masih tak mampu menikmati seluruh tangis

atau kobaran api yang bakal membungkam segala gelak?

/3/

Hujan begitu dini menggelar pasar malam. Kali Paingan tak lagi mampu memangku.

Namun, di rusuk Kali Paingan lelaki sepuh itu tetap meleburkan

segala yang telah dipasrahkan meski akan disentuh taring-taring air.

Banjir menjadi sekawanan anak kecil yang tak berani melawan orang tua.

Syahdan, seperti Musa membelah lautan, ia menembus lorong-lorong senyap

yang khusus dinubuatkan untuknya.


Sabdo Palon, Noyogenggong

Usai tubuh menjelma ringkik Sembrani yang tak kasat,

lekaslah kami mengabdi pada roh-roh moyang

tanpa harus berpindah dari ladang berenuk

selama mestika belum terbata mendengungkan sabda-sabda.

Dawuhmu, Prabu,

sudah tak dianggap sebatas perkataan di ujung mata tombak Majapahit.

Sebab setelah ini, tak ada yang lebih luhur lagi di antara asap dan cahaya lilin

serta dada-dada yang tertancap oleh tombak adalah segala tunduk yang taksa. 

Meski dari balik busung dadamu

selalu ada nyala api yang luber menyembulkan berahi atau baur arah angin

tetap saja tak sudi kauminum derai-derai darah dari mata airmu sendiri.

Tapi percayalah Prabu, tak ada yang benar-benar merasakan kematian.

Jika itu berarti kau harus menenggelamkan roh dan jasadmu,

kami patuh tanpa harus melebarkan nestapa.

Sebab di tanah-tanah yang lebih subur

dari tanah yang diciptakan Sang Hyang Wenang,

sejatinya nelangsa menolak dilahirkan.

Saat itu, berawal dari khianat yang terkapai-kapai ke poros tirta amertha bumi

hingga Adipati mengatupkan gendang telinga pada bau-bau darahmu,

tetapi kau memilih bersejingkat dari dalam corong senyap ke arah Cetha

meninggalkan segala derap yang kabur dan suara-suara asing di tengah desa.

Berberita kewaskitaan Kanjeng Sunan,

diajaknya kau memangku kembali tanah-tanah moyang.

Namun tetap tak ada yang bergetar kecuali jiwa-jiwa

yang berlayar menuju telaga penahbisan.


Gajah Mada dan Borok-borok yang Niscaya

(1)

Usai tetes darah yang sengaja dibiarkan tumpah

hingga menjelma riwayat sebagai bibit bagi anak turunmu

hanya dianggap sebatas mestika yang karat,

tetap tak sudi kau keluarkan keredak api lewat sumbumu.

“Lebih baik kuteguk darahku daripada kukotori dengan mata airku sendiri,” katamu.

Telah kaupatahkan segala murka yang pelan-pelan mulai bongak pada tirta amartamu.

Kau selalu bersikeras mendekap tulang-tulang Majapahit.

(2)

Semua berawal dari pada rapal yang diadu domba,

yang terus-menerus melekat di tiap-tiap laku,

menjadikan bau-bau mistik tak lagi lapang,

mengakibatkan pucuk-pucuk keris

kelu mendengungkan sabda sebagai usaha mengasah perlawanan.

Seluruh kerajaan merasa tertimpa tempayan nanah

meski kehendak tak pernah melengking dari kidung seluruh arah mata angin.

Namun kau tetap dibentur-benturkan oleh ucapan nanar

yang menyat dari atau ke kecipak waduk Gajahmungkur.

(3)

Setelah Bubat yang tak diinginkan oleh sesiapa

dan belalak mata yang meninggalkan noktah-noktah bencana,

jiwamu mengerucut, merajut benang-benang tipis menuju niskala,

memasrahkan jasad dan rohmu lebur:

lebih tipis dari asap, lebih sunyi dari bisikan.


Menemukan Jati Alas di Selatan

Kalam langit yang tertiup membawa kakinya memijak tanah-tanah Pamantingan.

Gegaslah ia bersila dikelilingi potongan-potongan titah.

Pagi belum usai mengepulkan asap dari kobaran-kobaran api

yang menguar dari dalam celah-celah jati alas.

Sedangkan malam serupa kematian yang sempit dan tak tanggal oleh kebiri waktu.

Kanjeng Sunan meleburkan jasad sebagai tirakat

melewati benang-benang tipis menuju Sang Hyang Agung.

Sebab, resah dan tulah hanyalah sebatas berenuk yang busuk.

Hingga diutuslah Cemara Tunggal menggetarkan suara-suara serak

dari tempat lengang pun juga tak lekat.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga, kembalilah menuju selatan.”

Derap-derap langkah dan napas-napas malam tumpah juga pada Gunung Pati.

Di tangan kewaskitaan Kanjeng Sunan, kera-kera mampu mengaburkan diri

dari belalak sepasang mata dan amarah yang berahi.

Sebelum  waktu mencacah jiwa, batang-batang jati telah patuh pada kecup doa.

Dengan detak-detak tangan yang terdengar parau

dan lenguh-peluh yang diasingkan dari tubuh-tubuh, 

jati alas berhasil menancap sebagai saka guru.


Dengan Mengenakan Namamu, Muhammadku

Namamu mendengung dalam pengasingan.

Muasal namamu adalah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang.

Kau kampung halaman yang dirindukan oleh perantau nanar

sebab pulang terbuat dari jarak dan gelisah.

Dari namamu, semesta mampu merentangkan lengan

dan Jibril sanggup mengepakkan sayap.

Setelahmu, tubuh-tubuh memerlukan bumi.

Menampung tetes darah dan deras hujan yang mengguyur mata.

Telah kau siapkan ladang-ladang subur sebagai tempat bercocok tanam.

Tapi besi-besi lebih suka aku kibarkan di atas tanah-tanah basah.

Memang semula berawal dari badai kegembiraan

yang datang  bergantian di musim-musim cerah.

Namun cuaca telah berpindah haluan.

Maka saat ini, yang aku perlukan sebagai arah kembali adalah dirimu.


Di Balik Yarmuk

:Khawlah binti Azwar

Dari Yarmuk, matamu mata pisau melewati batang-batang tamr

dan butir-butir pasir menuju ke sebuah muara di ujung jejak-jejak kaki.

Di belakang punggung mereka, kaurangkai napas-napas

menjadi doa yang berarak memenuhi mega-mega.

Selalu kautorehkan percik-percik air terjun

dari dalam matamu ke atas bebatuan keras

sebelum luka menemu cahaya fajar.

Sebab Dhirar, kau harus merelakan tubuhmu bergetar oleh sentuhan cahaya matahari.

Mungkin kau tak pernah dianggap sebagai gema di kedalaman gua Hasa.

Sebab, di depan zirah orang-orang Romawi telah kautandai arah mata angin

yang menjadi titik temu antara darah dan nanah.

Namamu, seperti tangga langit yang seluruhnya berupa nyanyian serak

hingga berjatuhan air mata malaikat menjadi danau-danau kecil di tengah gurun.

Maka, angin menggiring ringkik kuda menuju getar-gemetar benteng Byzantium.

Tak pernah kau mengerang meski kaudengar deru-deru lonceng besar

bisa mengatupkan gendang telinga.

“Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Thubba’…”

Suaramu merubah pucuk-pucuk pedang hingga kastil menggigil sekali lagi.


Surat ke 18 yang Jatuh ke Bumi

/Haq/

Adakah yang lebih melegakan daripada patahku

dari ranting-ranting Arasy menuju Jumat yang mengerdilkan seluruh kabar haru?

Atas derma-Nya, aku lemparkan dusta jauh dari hadapmu,

kutiupkan wirid-wirid haq ke dalam semesta dirimu.

/Rida/

Akulah pelita yang membimbit potongan-potongan titah

di tengah daur yang payah, di antara masa yang pasrah.

Tuntunlah kepalamu agar terbenam dalam karib doamu,

sebab akulah pemanjang cahaya yang menyertaimu.

/Tobat/

Umpama kauziarahi Al-Aqsa dan Al-Haram,

dan telapakmu bagai tertancap batang-batang tamr dan duri-duri bidara,

biarkan lengan-lenganku yang meredam luka dan dendam

sebab di telaga penahbisan, telah kusertakan doa untuk pengampunan-Nya.

/Batil/

Bersama Al-Baqarah, kudirikan benteng Rumi mengelilingi istanamu

sebagai penghalau ketika hasut dan tamak berusaha mencengkeram tengkukmu.

Maka, kumandangkan lafalku pada tiap embus napas yang membentuk hidup.

Peliharalah zikirku dalam tiap detak jantung sebelum mata benar-benar terkatup.

/Cahaya/

Usai deras doamu yang khidmat dan luhur

kubentangkan jalan panjang melewati saf-saf langit yang tafakur.

Akulah persaksianmu, maka, tak usahlah khawatir

walau Malaikat Israfil meniup sangkakala terakhir.


Sebelum Tiba di Bulan-bulan Janggal

Daun malam berkata dengan busur panah yang membidik mata.

Di antara langit yang telanjang, bau-bau kematian adalah mata pisau.

Kehidupan adalah rempah-rempah yang telah menjadi hidangan langit.

Sedang aku hidup di dapur dengan kayu-kayu yang belum dibakar.

Suatu kali aku menyusuri hutan-hutan gelap

dengan langkah yang tidak bergerak.

Hanya jejak-jejak waktu yang terdengar parau.

Aku pesakitan sebab gendang telinga mengatup perlahan.

Hingga tibalah aku di hadapan unggun api,

bau-bau kematian luber, melelehi ruh-ruh yang memar.

Daun-daun malam mengendus dari permukaan

dan menggantungkan napas-napas.

Dituntunnya aku ke telaga penahbisan.


Ketika Para Perindu Duduk di Suatu Malam

Terang maupun gelap adalah jalan-jalan para perindu

yang tidak pernah abai dari fitrah alam semesta.

Rindu adalah kobaran api yang menjalar hingga terkoyak jiwa-jiwa sunyi.

Tapi mereka tidak mengultuskan pengakuan diri.

Oh, Perancang kampung halaman.

Biarlah nyiur seruling para perindu luruh pada pangkuan-Mu,

sebagai bongkahan es yang tidak bisa mencair kecuali sebab titah-Mu.


Sang Penunjuk

:USC

Dingin malam membekuk tubuhku.

Lalu kata-katamu muncul sebagai akar dari pohon,

tumbuh, bercabang, dan berbuah menjadi cahaya pagi.

Kata-katamu terbit dari langit.

Di persimpangan menuju bulan pernuma, ia tidak tenggelam.


Nafi Abdillah, menulis puisi dan cerpen.Seorang pembelajar di Padepokan Sakron dan bergiat pula di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa dihubungi melalui surel diannafiabdillah@gmail.com atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *