Puisi

Puisi Naning Scheid

February 19, 2020

Bunga-Bunga Kepalsuan

1/

Senyum. Senyum menggoda

Seribu like – love; komentar

Sunyi. Hambar – ambyar,

dari balik layar

2/

Silikon – dada ranum

Parfum parisien – harum

Tag harga di panggal paha

Surga plastik; gimik

3/

Ketika layar dimatikan,

realita menjadi bayangan

Fantasi lebih sejuk dari udara

– fatamorgana

Brussel, 2020


Raksasa

Untuk sarapan, aku makan

Satu macan Sumatra

Dua orang hutan

Siang, hidangan pokok

Sup penyu tiga mangkok

Empat paha komodo

Lima burung maleo

Untuk cemilan,

Enam keripik cendrawasih

Tujuh ekor corak merak

Untuk makan malam,

Delapan badak bercula

Sembilan anoa

Sepuluh primata

Aku raksasa

Perutku besar, selalu lapar

Bila semua tiada, nanti

Akan ku makan temanku sendiri

Brussel, 2020


Pembaca Buku

Pembaca buku budiman

Mengeja diksi seperti firman

Manggut-manggut mengamini

Menghela napas, sesekali

Pembaca serampangan

Memakan mentah kata serapan

Terdecak pada yang wah-wah

Tak mengerti makna – arah

Pembaca buku rakus

Menguliti bacaan haram

Mencari surga di lubang tikus

Remah ilmu, gula dan garam

Bukan pembaca apa-apa

Makan, tidur, kerja, berdoa

Hidup, bergelut, tua, dan mati

Terkubur dalam kenaifan hakiki

Brussel, 2020


Generasi

Kakek buyutku seorang pejuang

Merebut kemerdekaan dengan berperang

Badannya kecil jiwanya garang

Melawan Belanda mengusir Jepang

Kakekku, tentara nusantara

Menyatukan Aceh hingga Papua

Badannya sedang jiwanya berceruk

Agung dalam remang masa kemaruk

Ayahku, punggawa negeri

Penegak reformasi dan demokrasi

Badannya lebar jiwanya rentan

Jatuh bangun memilah teman dan setan

Aku seorang pemimpi – tech savvy

Atau, pecundang di era desrupsi

Badan datar jiwa hambar, pemakan kuota

Entah kemana kubawa Indonesia?

Brussel, 2020


Pemberontakan Samudera

Poseidon mulai murka

Kau racuni anak-anaknya:

Sungai, Danau, Rawa, Parit,

megap-megap meregang sakit

Parit makan sampah

Rawa minum limbah

Danau tercemar merkuri

Sungai teracuni

Banjir, tsunami, gempa bumi

Kisah klasik anak-anak negeri

Brussel, 2020


Negeri Pelaut

Ini cerita negeri pelaut

Nenek moyangnya bukan penakut

Cucu cicitnya sejati pandir

Merusak alam, tak takut banjir

Analisa demi analisa,

Omong kosong penguasa

Mimpi generasi melambung tinggi

Rumah – pundak basah, tergenangi

Ini cerita negeri pelaut

Negeri besar bukan negeri pengecut

Pandai mengadu benar, adu umpat

Piawai memelintir, lihai melaknat

“Ini keputusan Tuhan!”

– penduduk berhati batu menjelaskan.

Para bijak bungkam dan kecut

Menumpang hidup di negeri pelaut

Brussel, 2020


Patahan Hati

1/

Kenangan tersapu

voilà. Serpihan pilu

2/

Datang pertanda seperti mata-mata

Berkabar tentang cerita baru

– siksaan subtil; cemburu

Harapan mati. Dimana karma?

3/

Adili cintaku –

jangan adili Tuhanku

4/

Parit di bawah lidahnya

Pernah membawa kapalku pecah

– karam dalam percumbuan

Tinggal kenangan

Brussel, 2020


Menuju Negeria

Para kanibal gentayangan

Menebar seribu satu ketakutan

Bangga! Tertawa menjadi jahanam

Bapak-bapak terkencing

Ibu-ibu dipaksa – bersenggama

dengan mesin pencuci otak

Berakhir bunting; beranak martir

Anyir darah, tubuh berserak

: pemandangan alam

Burung hering berpesta, di atas

Nyawa-nyawa terkoyak

– di Nigeria


Selepas Kepergianmu

Gelisah ini susah payah kubiar

Membiasa bak laku kita

Hening ini kuselami dalamnya

Terhirup indah, nantinya

Segera kusiapkan topeng topeng tawa

Kupamerkan kapanpun kubutuhkan

Bukankah khayalan lebih sempurna

Dari kebenaran dan kenyataan

Pada dingin pembungkus kelam

Selaksa pesan akhir suratan

Perjuangan terlalu rumit untuk diurai

Kita pulang pada keseharian

Meski ada yang tersayat seketika

Pedih, bagai luka diberi cuka

Lalu, sembunyi aku bagai pengecut

Tak sanggup bertemu

Sekedar menatap wajahmu

Takut aku,

Mengulang kebodohanku

Kembali jatuh hati padamu.

Brussel, 2020


Mea Culpa

Sejak samar jejakmu di telan ombak

Hanya punggung samudera yang tampak

Berisik dedaun kelapa melambai getir

Berdansa melankoli di peluk angin pesisir

Merpati telah pergi, meninggal janji

Tak paripurna; langit tak lagi berpelangi

Perjalanan sentimentil membekas di pasir

Hitam legam terbakar mentari takdir

Meski pada titik awal, merujuk padaku

Penyebab tunggal sayatan pilu

Tragedi patahan sayap merpati

Penitik prahara menderai dua hati

Aku, mimpi buruk

– bergaun bunga-bunga

berenda pelangi merona

ribuan lamunan mata terbuka

pemintal desir candu berbenang luka

Mea culpa, mea culpa maxima

Brussel, 2020


Naning Scheid, lahir di Semarang, 5 Juni 1980. Penulis dan Pemain Teater. Penyuka kerupuk gendar dan wisata budaya. Pengajar di Fakultas Bahasa Inggris UPGRIS sebelum meninggalkan Indonesia. Aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan di Belgia. Sarjana Pendidikan Universitas PGRI Semarang dan Sarjana Manajemen Sumber Daya Manusia CEFORA Belgia. Berkebangsaan Indonesia. Tinggal di Brussel sejak 2006. Menulis opini, puisi, dan cerpen diScheid.be, Medium.com, Wattpad.com, Kliksolo.com, Basabasi.co, Pos Bali, Buletin Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas PGRI Semarang.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *