Puisi

Puisi Norrahman Alif

September 24, 2019

Empat Surat Keluh di Musim Peluh

1

Sawah-sawah berwarna kuning tua

dengan kulit tanah bengkak dan berduka

kaum kaum tani gerah, tak lelah, tak keluh

memanggil-manggil hujan tiba, agar segala

yang bernama kemarau di langit, basah

menjadi pohon hujan di bumi.             

2

            “Langit sudah lama tak menangis ibu,

            aku sudah hampir mati di tanah ini.”

Serunya riscik anak-anak kencur, ketika tiap hari tubuhnya

terbakar, terpenjara bara api tangan-tangan raja matahari

namun kelebat angin hanya panas dan waktu resah

mencatat keberingasan tuan kemarau menjajah.

Sedang di dalamnya orang-orang berjalan ke sana ke sini

meneriakkan perih keringat mereka ke jalan-jalan waktu.

.

3

            “Tuhan, dari dalam tanah, rinduku membeludak dalam ingatan  

mencium wangi kesegaran lumpur sawah atau mengecup bibir kali-kali

kecil mengaliri persawahan.”

Dengungnya doa katak-katak yang sedang mati suri dalam goa

pesembunyiannya itu.

Atau mungkin mereka telah paham: bahwa

hidupnya tak bertahan jika tak bertuhan pada

musim hujan.

2019


Monolog Asap

Cara hidup yang sia-sia adalah menjadi diriku

di sepuntung rokok yang menyala:

tubuhku putih terbang tanpa sayap

bisa dipandang tak dapat kau pegang.

Namun aku kerabatmu siang-malam

setelah usai makan atau ketika kau

menulis puisi bersanding kopi malam.

Sementara kenapa Tuhanku banyak di duniamu

padahal Tuhanmu satu: namun bergelantungan pada

            hati di mana-mana. Sedangkan saat ini

kau Tuhanku semenit dalam sendiri

namun tidak tahu esoknya lagi.

Makin lama kauhisap tubuhku malam ini

makin bingung aku pada diriku sendiri

di puntung rokokmu yang hampir habis.

Mengapa hidupku hanya sekejap tiap kau hembusan

 aku ke udara dengan nikmat.

Padahal aku lebih nyata dari bayang-bayangmu

ingin rasanya aku menjadi bagian dari kekekalanmu di sini:

walau pada akhirnya kau mati di bumi dan aku wafat di udara.

Asap, bagiku kau angin perpisahan:

datang dan pergi hanya untuk

menitipkan rasa sesak kehilangan

pada jantung perempuan.

Kataku pada asap penghabisan–sebelum kubenturkan kening

puntung rokok surya ini

                        pada dinding asbak tanah liat.

2019


Sabda Batu Kapur di Bukit Badur

Aku hanya batu-batu kapur tak bernyawa

            namun tangan-tangan kuli bangunan

menyulapku bersenyawa dengan

air,

semen

dan

tanah

yang menjadikannya rumah.

Walau tubuhku tak sekekar karang di hati lautan

tubuhku hanya sususan bayi-bayi

kapur yang dikeraskan suhu dan waktu

di Bukit Badur sana.

Namun putih wujudku yang dikekalkan kebisuan ini

makin akrab dengan tangan-tangan pembangunan

semenjak akal manusia mulai mempelajari peta

— peta arsitektur ruang teduh di muka bumi.

Pada saat itulah tubuhku mulai dijual-belikan

oleh orang-orang lereng Bukit Badur. Sebab aku bagi

mereka otot-otot bagi dinding-dinding rumah

yang baru didirikan.

Namun menjadi batu kapur tidak segampang mobil-mobil

boks mengangkut potong-potongan tubuhku ke desa-desa atau ke

kota-kota pembangunan.

Sebab menjadi batu harus terbuang dari sekumpulannya

di Bukit Badur. Di saat setiap hari kulit perut bukitku

di garinda demi sebuah batu seperti diriku saat ini:

yang menjadi pertapa tua di rahim dinding-dinding rumahmu

yang kian lapuk dan purba.

2019


Nasib Jengki yang Terlupakan

Orang-orang lebih memilih cepat bermotor

daripada lambat namun sehat bersepeda.

Seperti keasinganku di gudang tua kini;

                        hanya menjadi barang kuno

                        atau barang bekas yang tak

mempunyai harga diri di jalan mulus.

Mungkin aku hanya jengki lusuh:

bertulang besi dengan tubuh kurus berkarat

berlari sendiri menuju kelam

masa silam–menjadi kenangan kini.

Kemudian aku kembali lagi sebagai

tulang besi langka di ruang-ruang mewah:

namun bukan lagi menjadi barang

tunggangan manusia.

Sebab aku terlalu kurus dan lemah bagi

jalan zaman yang sudah gemuk dengan

motor-motor kencang berkaki empat, tiga

dan dua menyesaki dada lorong-lorong itu.

Maka jadilah aku hanya barang pajangan

di musium-musium barang antik atau di

warung-warung kopi klasik–dengan menjual

harga diriku sebagai barang bersejarah.

2019


Sabda Rumah Kontrakan

Rongga perutku hanya sebagai persinggahan

–datang dan pergi adalah nasibku yang digariskan

kaki manusia sebagai jiwa rumah sewaan.

Tak ada yang bertahan menahun dalam tubuhku

seperti anak, istri dan kawanmu itu:

masuk lewat mulutku yang dibiarkan kekal terbuka

hanya untuk merokok, ngobrol dan ngopi kemudian

pergi

dengan meninggalkan sepuntung rokok kenangan

yang dibiarkan terbakar rambutnya di pojok perutku:

 menguapkan asap-asap kepedihan

mengajak jantung sesak dan aku batuk

            batuk dalam kesunyian.

Mungkin mereka tak mengerti bagaimana dukanya

menjadi bukan manusia. Namun kubiarkan kini kusimpan

segala dendam amarah sebagai ruang mata-mata:

mengawasimu yang tak tahu cara merawat rumah

dengan rasa cinta.

Di saat warna kulit-kulitku telah kusam dan menghitam

tanpa kau ganti dengan warna cemerlang tiap lebaran pun.

Dan tahun demi tahun hanya menimbun kenangan berdebu

–di ruang-ruang perutku, tempat baju-baju berkuman,

 lemari-lemari dapur membuka diri, menguapkan bau

tidak sedap dari sisa-sisa makanan di masa lalu.

2019


Percakapan Kasur dan Baju

Lampu mataku menyenteri dada kasur sobek hatinya

lebar dan tebal dagingnya tak lagi selembut dahulu

karena kejahatan kuku-kuku kaki buta tak beradab itu

atau tak kuat menanggung beban duka tubuh maha berat.

“Tuan, siapakah  kasur itu di cermin matamu?”

Tanya baju sebelum kulipat jadi satu kerabat.

“Aku kawanmu yang terbuat dari kapas dan benang:

kasur namaku–sebidang kelembutan segi empat

yang mengabdi pada tubuh manusia sebagai pelampiasan

air liur, air mani, mimpi dan tidur,”

ujarnya kasur di lantai.

Namun pasti dukamu lebih ringan dari dukaku menangkis

kekerasan gerak tubuh-tubuh yang tertidur.

            “Kau tahu, di lain tangan sering diriku disakiti ketika puntung

rokok jatuh dari tangan yang tak punya mata, arang itu

melubangi kulitku yang hanya setipis jarak hidup ke mati.

            Namun aku hanya setebal diam semenjak dalam kandungan

di saat Tuhan lupa bahwa aku jua membutuhkan suara

sebagai gumam perlawanan,” geramnya kasur.

“Ternyata kau bagian dari tubuhku yang dipisah oleh daging.

 jadi Tuhan kita sama

sama satu sepenanggungan di tubuh manusia,”

kata baju sebelum bersatu dalam kandang lemari. 

(Cabean-2018)


Sabda Noda-Noda

Debu-debu mati terkubur di sela-sela keramik,

sisa-sisa tembakau tergeletak di bibir tanah,

tubuh-tubuh kertas dan plastik  pulas tertidur

di kasur-kasur tong sampah.

Baju-baju busuk tak terpakai beraroma keringat kenangan,

  celana-celana kehilangan resleting terbaring di atas genting

saudara sandal-sandal putus talinya sebagai anak buangan.

Kubangkitkan kematian mereka sebagai diksi-diksi dalam puisi.

Karena mereka butuh riwayat dari sisa hidupnya tak terawat.

Kini kata-kataku sebagai mobil ambulan yang mengangkut air mata

benda-benda kuno di musium kenangan yang jauh.

Sementara suasana puisi tersusun dari cacahan tubuh kesedihan

                        sejarah dan nenek-moyang yang di lupa

                        dan rahim kalimat-kalimatku mengandung janin

                        sampah-sampah dunia tak ternilai.

 Maka atas hati yang prihatin, anak-anak puisiku

ingin mewakili makna kehidupan mereka yang terlupa.

2019


Surah Kotoran

Tai-tai kucing di halaman meratapi kemalangan hidupnya

berak-berak ayam menggunung di lesteran hanya menguapkan

ujaran kebencian dari bibir kehidupan.

Mengapa perasaan manusia tak memberi harga pada kotoran

            padahal kata-kata ingin menyelamatkanya ke dalam makna sebagai

kalimat berharga pada hidup–setelah puisi mewangikannya.

Mungkin hati manusia memang sia-sia sebagai tuhan perasa

jika lupa bahwa asal-mula hidup ini dari sari-sari kotoran

yang telah dikuduskan oleh anak-anak tanah sebagai padi-padi

jagung-jagung dalam tubuh kita.

2019


Dongeng Noda Hitam

Tak akan sadar walau angin menenggelamkan waktu ke dasar dingin

ketika gema bibir ke bibir menyimpul cerita noda hitam

di tubuh orang lain.

Mungkin, sudah beribu kali kita tabung kebahagiaan

dalam kenangan, dari sebuah perkacapan dosa

di tubuh para tetangga.

Tetapi, apakah yang kita dapat dari rasa bahagia

yang terbuat dari rempah-rempah keburukan orang lain ?

2019


Pada Malam Kelam Kelabu

Kata-kata menggulung kesepianku di sini

di kampung yang tumbuh sunyi pada

 malam kelam kelabu.

Sedang detik-detik gemetar –jatuh ke sumur waktu

yang kian dalam kian menyumberkan kenangan.

Padahal mataku belum rabun untuk melihat sesuatu

yang ternyata tak ada. Seperti bintang-bintang di langit itu:

susut kemudian kelabu dalam pandang mataku.

Mungkin keriangan hanya milik jalan perkotaan

ketika senyap adalah kekekalan jiwa perkampungan.

2019


Norrahman Alif lahir di Jurang Ara, Sumenep Madura. Belajar menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan untuk saat ini sebagai relawan Pustaka Bergerak Desa (PUSDES). Beberapa karyanya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *