Puisi

Puisi Norrahman Alif

January 21, 2020

Kepada Seorang Novelis yang Malas Bersilat Bahasa Api di Depan Publik

Sekawanan api kata-kata dalam mesin kepalamu

melorot menjelma ular-ular beracun di sarang

hati-hati para penguasa yang kehilangan induk

kasih-sayang.

Sementara, kau sendiri terbenam dalam genangan kesunyian

kesunyian yang jauh dari suara-suara tuhan yang kebingungan

mencari obat untuk bangsanya yang sekarat, akibat persoalan-

persoalan kekuasaan yang semakin memberat.

Barangkali, kesunyian adalah keruwetan ingatanmu menganyam

dongeng-dongeng dari sisa air mata kenangan tentang

orang-orang jelata terpinggirkan, atau tentang bandit-bandit

gendut yang mencita-citakan surga kekuasaan.

Itulah kenyataan satir yang menyihir manusia getir memasuki

hutan-hutan cerita api dalam novelmu. Namun, nyala api nyalimu

masih sepercik korek api di tengah angin puting beliung:

padam induk kobarnya, bak susut nyali nyala api hatimu.

Sebab, kau hanya mampu melayangkan layang-layang kata tajam

di langit-langit negerimu yang terancam kegelisahan.

padahal, demonstrasi kata-kata tak lagi mampu menyembuhkan

duka-cita kehidupan. Di saat kepulan asap persoalan hukum,

korupsi, agama dan kekuasaan menyesaki paru-paru negeriku-negerimu.


Setan di Hatimu Memanen Kesesatan

Kepadamu yang terlahir sebagai imam kesesatan

Tak kutemukan tuhan dalam dirimu

Hanya berlembar-lembar bahasa dosa

dan metafora kesesatan setebal buku

kamus dibaca waktu.

Padahal, telah kucari letak tuhan

paling strategis di tikungan jalan hatimu

di mana denting doa-doa bisa kudengar

dari sepasang sunyi bibirmu karat dusta.

Barangkali kau perlu menjadi bayi kencur

kembali ke gendongan ibumu. Lalu dewasa

sebagai manusia wibawa.

Sebab, walau selautan air tobat pun tak mampu

menghapus kata-kata dusta dan keangkuhanmu

di kejauhan mata sana.


Tuhan Sedang Berkabung

Dulu agama adalah ladang surga kasih-sayang

kini menjadi biang cacimaki, pembunuhan

dan permusuhan.

Di saat nama tuhan disadekahkan

ke orang-orang tolol soal agama

demi keuntungan massa dukungan.

Dikara segalanya menyenang-nyenangkan tuhan.

Padahal, tuhan sendiri tertawa terkencing-kencing

atau sedang hobi berkabung di hutan sunyi sana.

Melihat raja-raja ahli ilmu agama

Berkoar-koar meremuk-redamkan

rumah-rumah agama lain.

Dikira agama sendiri surga,

dan yang lain adalah neraka.


Agamaku Kopi dan Tuhanku Puisi

Di saat agamamu tak lagi mengepulkan sedap aroma

Kasih-sayang dan perdamaian. Kuputar haluan

Hatiku ke secangkir kopi agama legit kenikmatan.

Di sini, tuhanku bukan lagi ciptaan mesin imajinasi

Tapi, tuhanku realita yang berwujud kata-kata puisi.

Hatinya abadi menyimpan diksi-diksi sakit hati

Atau melunakkan metafor-metafor rasa benci.

Dan rakyatnya adalah perasaan-perasaan sendiri

Yang terbuat dari sebekan-sobekan hati habis dicabik-cabik

Anjing-anjing agama kenangan yang tak menyimpan

Rasa manis ketenangan.


Pada Hatimu

Pada segelas kopi, kuseduh kental hatimu

manis di lidah pahit luka di cecap hatiku

kali ini dedak tidak melekat di lepek waktu

Kecuali jernih sendumu yang kuaduk lalu

Kuseruput kata sampai larut rasa resah di bibir jiwa

dengan pintu mata terbuka tanpa lelap alpa mengunci.


Reportase Akhir Tahun

Tahun terbaring lemah di ranjang waktu dengan

muka senja, sebentar lagi susut ke liang kematian

Sebelum tahun di kubur tengah malam dan letusan

bintang api merayakan tahun perawan di langit kelam

Kukalkulasi detik-detik kehadiran baru tahun

lalu kukalikan hatiku dengan hari-hari sendu

Agar genap suka-luka tigapuluh satu kenangan

di almanak puisiku.


Ayat Pengantin Senja

Menanam beling dendam dalam hati

lebih pedih dari segunung api membakar diri

Pengantin senja haramlah saling memutihkan mata

atau gemar menjerat kata sekedar menyapa

Lihatlah betapa masak buah resah di ranting hati

Merasa malulah kepada kerukunan burung-burung di langit

dari gelap ke terang senyap di ribaan waktu

bagaikan alpa ada apa apa janganpun tutur sapa

tetapi diam mendekap dendam bukan berarti aman dari bala bencana

Bencana sepasang jiwa lebih dahsyat berguncang dari gempa dunia

meski keduanya saling menghapus corak resah di kedua wajahnya

tetapi bila di bilang buah hati, sepeser pun ada getir di dalam hatiku

Duh, pengantin jiwa sambung kembali asmara dalam hati

lalu eratkan tali-tali setia pada pohon kasih meski berumur tua

sebab percintaan yang tua mengalahkan masa muda


Kecupan Terakhir

Lapar atau kenyang satu padu dalam rahim ini

menangis dan tertawa wajib kawinkan di aula hati

supaya tak ada cerai dan perang dalam diri

Dan hidup tak usah cerewet melulu di pertanyakan

walau kematian setia menjadi momok menyeramkan

di masa muda sampai tua

Padahal maut bukan binatang buas yang hobi menerkam

mengapa harus ditakutkan mengapa,

kematian adalah kecupan terakhir yang di berkati Tuhan.


Kematian Kawanku

Kematian adalah teman lamamu

yang kutunggu jua sejak hidup ini

Siapa yang mahir menafsirkan

maut kan datang ?

Tetapi dirimu sendiri paham

bahwa kematian akan menjelang

Setelah bisikan malaikat kepada napasmu

sendiri dirasakan kini


Pengantin Songkok dan Sarung

Berulangkali kunikahkan songkok dan sarung di aurat diri

setiap keluar kuberjalan atau tamu menghampiri

Penghulunya hatiku sendiri, berucap ijab ikhlas sebulat bumi

Boleh sekedip mata waktu sejoli songkok dan sarung bercerai

tetapi tak boleh keluar pagar

Sebab jika kepala kehilangan songkok, lebih baik tulangku

seputih kapur ketimbang putih mata

Atau perut ke kaki telanjang merana menalak sarung, menjadi sobek

baju kewibawaanku legam mata kancing hatiku dan tercemar

Sebab songkok dan sarung adalah seperangkat bendera yang tak pernah

sungkan kukibarkan di tiang tubuhku di mana-mana.


Norrahman Alif lahir di Jurang Ara -Sumenep Madura. Menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan beberapa karyanya sudah pernah dimuat di berbagai media. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *