Puisi

Puisi Norrahman Alif

July 14, 2020

Aforisme Sepi

orang-orang memilih mati

di tengah virus gigil waktu

menjangkit kompilasi tubuh malam

mata-mata telah memborgol kelopaknya

waktu-waktunya berselimut mimpi

dan ia rindukan sedap kopi pagi hari.

sisakan ampas sepi pada gelas sunyi

yang kuseduh sedih ini di beranda

bersama rintik hujan dini hari

2020


Ada Masanya Penyair Mencintaimu dalam Hati

ada masanya seseorang jatuh cinta

hanya mampu diungkapkan dalam puisi

itulah kemahiran penyair atau aku sendiri

tapi penyair bukan penakut apalagi lebih

dari seorang pengecut.

ada masanya di jauh hari penyair memilih:

mengasihimu sebagai satu-satunya puisi

atau membayangkanmu sekadar sebagai latar

belakang rasa cerita fiksi.

ada masanya aku tak ingin memilih kedua-duanya

sebab penyair hanya mampu mencintaimu di

hati dalam puisi.  dan itu lebih romantis dari seseorang

yang hanya mencintaimu dengan separuh hari dan hati.

2020                                                                                                                      


Tulus dan Murni Cintaku Keluar dari

Dubur Seorang Pecundang

cintaku tak seluas pikiran kaum penguasa

mereka cerdas bersilat kata-kata dan semangat

menjungkirbalikkan bangku-bangku keadilan

demi undang-undang dusta berjalan dengan

aman di tengah-tengah hidup kita yang tolol.

cintaku tak sejahat gajah-gajah mencintai negara –

negara yang terbuat dari serpihan sejarah dusta.

kau tahu gajah-gajah itu siapa, ika? merekalah penguasa itu,

sang pemilik tangan-tangan keadilan yang buntung sebelah.

cintaku tak semewah dan semegah istana negara:

rumah tuhan dan dewan perwakilan dusta merumuskan

hukum dan undang-undang untuk melindungi pecundang,

penindas dan penguasa yang ber-uang. siapa mereka ika?

mereka adalah politikus, penjilat dan tikus-tikus

dalam penjara yang hidupnya lebih mewah dari

seorang pencuri ayam. padahal mereka adalah pencuri

kebebasan hidup kaum rumputan seperti kita.

cintaku sekali lagi perlu kau cermati, ika. aku ulangi: cintaku tak

sekejam politik yang berhati intrik. karena tulus dan murni

seonggok cintaku keluar dari dubur seorang pecundang.

Jurang ara.2020


Sampai Kapan Waktu Menimang Air Mata

dan Kita Meminang Masalah?

kau semai abad-abad yang gelisah, tahun-

tahun terluka dan serajut hari yang fakir bahagia

di ladang kepalaku. lalu kini tumbuh dan

berbiak menjadi sejuta masa lalu yang lumpuh

dalam gendongan waktu-waktu kita melangkah ke

masa depan cinta.

kau tiba banting gelas-gelas perasaan hatiku

ke berbagai kota yang kini bersibuk hati merapikan

kesunyian dan kematian ke dalam lemari kenangan.

lalu di kota itu rasaku dan rasamu menjadi sepasang

mata yang berduka-cita menatap lahan-lahan luas

di balik gedung dan perumahan tumbuh kuburan

-kuburan baru dan mayat-mayat segar yang segera

digiring ke liang akhirat.

kau lalu baru tersedu di kedalaman sumur hatiku

di saat ingatan menimang-nimang sejarah berpenyakit

tentang wabah yang masih tak menemukan jalan pulang,

perihal bulan-bulan yang terus menangis sendirian

atau tentang sakit hati kita yang tak menemukan

pintu kesembuhan.

kau baru menyesal kalau hidup di tengah kubangan

air mata harus tetap bisa tersenyum walau sia-sia

dan agar bahagia segera bangkit dari dasar kesedihan

kuajak kau ke keluasan dan kemegahan bahasa

di sana senyum hatimu tidak akan berbunga sia-sia

sebab puisi dan prosa akan menampung segala

benda-benda hati kita: abadi.

Jurang ara.05-20


Mencintaimu dalam Gelap

dan di saat kesabaran terus

memayungiku dari hujan perih masa lalu

sampai masa cinta berujung kelabu

akhirnya kutemukan cara paling pahit untuk mencintaimu.

dan satu-satunya cara adalah mencintaimu

dalam gelap. Bila dalam terang matamu – segerobak

keberanianku hancur di ujung jalan lidahmu yang asin

namun kini dari balik tembok ketidaktahuanmu

kudayakan waktu untuk melatih lidahku

belajar mengucap cinta padamu.

dan apalah guna itu semua

bila saat di ujung matamu aku masih

sepenuhnya menjadi bunga gugur

sebelum waktunya.

2020


Puisi adalah Gema Lain dari Hati

setiap yang diungkapkan

penyair adalah matahari

sebab kilau cahayanya adalah

terik hatiku yang puisi.

seperti puisi –puisi yang kutulis ini

sama sekali tak mengandung nilai-nilai

jahat untuk mempolitisasi hatimu.

karena bahasa hati adalah mesin

kejujuran yang memproduksi

makna-makna kasih-sayangku padamu.

Sumenep, 2020


Mitos Ketakutan

kini kepalaku menjadi

taman kuburan. seperti

ibu ingatan memeluk

pohon kematian.

saat ini pembunuh seribu

bayangan itu adalah corona

tubuhnya tak berwujud

namun membuat nyali

bersujud pada kecemasan.

akhirnya orang-orang tak lagi

berjalan, pekerjaan tonggak

sebulan, sekolah tutup usia

dan jakarta adalah gelanggang

manusia dan penyakit bertarung

mati-matian mencari sesuap napas kehidupan.

2020


Kompilasi Penyakit

hari ke hari berlari pilu

menyeret ketakutan ke

gudang-gudang pikiran

yang kelabu

betapa hidup ini terdiri dari

bagian bayang-bayang kecemasan

seperti DBD yang menjelma maut

sampai kini corona yang menjerat

kita tahu, bahagia hanya abadi

bersama hidup dan kenangan

tapi sampai kini dan nanti

apakah kita terus mengunci

tawa, mengubur kegembiraan

dan menyingkat segala urusan

pekerjaan dari ruang sunyi

2020


Simposium Kecemasan

tiba-tiba seribu buih jakarta

menggelembungkan pikiranku

dan meledak menjadi serbuk-

serbuk ingatan tentang

kehidupan orang-orang kota

yang tengah menghitung

biji ketakutan dalam rumah

di saat tiap detik balon kematian

meledak di planet mataku

betapa langka kotaku saat ini

jantung jalan adalah pusat

kesepian membayang,

kecemasan mewabah

dengan meletakkan kartu

kematian pada  aktivitas kehidupan

sementara kabar buruk dari

langit corona terus meletus

di organ-organ media massa

hanya meluluh-lantakkan

batu hati jakarta

akhirnya rumah sakit dan kuburan

menjadi liang kepulang terakhir bagi

para korban.

sementara sekolah, kantor, kedai

kopi dan semangkuk hati yang asin

mereka cecap tiap hari dalam kandang.

2020


Buah Dosa di Dada Desember

serasa dosa ini lebih tua dari usiaku sendiri

sungguh berlipat sungguh, hati ini berat

melangkah dari hidup ke hidup

mungkin, mungkin dan hanya kata

mungkin terucap dari bibir si duka

bila seribu gunung maafku

tak cukup mengubur jasad duka desember

di liang dadamu.

dan,

sejuta rintik hujanku tak akan

mampu memadamkan nyala api

di mata murkamu.

sebab aku kini lebih berat dari batu sebukit,

lebih ringan dari kapas diterbangkan angin

dan lebih cemas dari orang-orang melawan

virus corona.

di saat hati berat memikul nasib dosa,

membuat punggung hari lecet dan bernanah

menggendong segunung sesal dan selaut maaf

yang kau telan begitu saja tanpa bahasa.

2020


Norrahman Alif  lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karyanya bisa dinikmati di Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres, dan lainnya. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan (sublimpustaka-2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *