Puisi

Puisi Norrahman Alif

June 7, 2019

Aku Tak Ingin Kelak Istriku Diberi Makan Puisi

Tampaknya aku harus bangkit dari kemurungan kata

sebab hidup tak bisa hanya berdiri di atas pundak puisi

aku harus berjalan–mencari hidup yang lebih hakiki

dari hakikat bahasa.

Karena aku adalah lelaki yang kelak tak akan sendiri

dan kodrat hidup memang tidak untuk bersepi-sepi

esok pasti akan berpasang-pasang hati.

Maka kuselingkuhi puisi sebagai istri simpanan hati

sementara kini aku tiba saatnya mencari

puisi yang lebih nyata dari buah imajinasi.

Biarkan penyair mencaci –aku bukan pemuisi sejati:

hidup-mati mengeloni puisi–ke barat ke timur hanya

berduka-luka memakani hidup dengan sepiring kata hati.

Tidak, aku tidak ingin kelak istriku diberi makan puisi

di saat hidup tiap hari menghadirkan kekurang-kekurang

yang tak dapat dicukupkan hanya dengan selembar puisi.

Karena puisi bukan uang yang merenggut segala

kamewahan dunia. Karena puisi bukan ladang

perkerjaan yang menghasilkan emas dan permata

karena puisi bukan kebun uang yang menghasilkan

kekayaan.

Namun puisi hanyalah gedung-gedung kenangan:

museum bagi tubuh-tubuh kesedihan bercerita

kelak tentang penyair yang belajar mengekalkan

hidupnya dalam kata.

2019


Berkali-kali Aku Dipermalukan

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Aku ingin tahu kini

seperti apakah wujud perasaan?

Apakah ia seperti durian: kulitnya

bertaburan jarum kejahatan–namun

hatinya banyak mulut merindukan.

Namun kukira perasaan bukan buah

untuk dimakan, mungkin ia semacam

makhluk halus: gentayangan datang

dan pergi meletakkan rasa cemas dan

takut dalam hati.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Jujurlah Tuhan

apakah engkau perasaan itu?

Sehingga berjuta-juta manusia

memberhalakan perasaan dalam

kuil-kuil hatinya. Sementara aku

menjadi korban kejahatannya.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Saat ini  aku ingin

tahu seperti apakah sifat perasaan?

Ataukah seperti ludah lidah para

politisi: bermanis-manis perasaan

di depan kerumunan orang, demi

melancarkan mandat mimpi-mimpinya

menguasai dunia.

Tidak, perasaan tak sejahat itu, mungkin

ia sebaik rindang pohon kasih-sayang ibu

menaungiku dari hujan godaan kehidupan.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Berapakah harga

perasaan penyair di tangan seorang

perempuan?

2019


Aku Ingin Tidur dari Bayang-Bayang Kenyataan

Aku ingin tidur dari bayang-bayang kenyataan

bila selalu kesepian merawat usia–kesedihan

memakan hari-hari tak tersisa.

Namun apakah hidup ini?

apakah dengan mengumpulkan harta

hidup mewah berbaju emas dan permata

sudahkah dikatakan hidup.

Bukankah kitab penciptaan sudah bersabda:

hidup datang dari kekosongan dan pulang pula

pada celah kekosongan.

Kecuali, hanya hati akan

berisi keranjang buah pahala, jikapun aku punya

pohon kebaikan di sini.

Sungguh aku ingin tahu rahasia kenyataan?

atau mungkin aku sekadar bayang-bayang

yang ingin hidup menjadi makna kenyataan.

Namun apakah kenyataan itu sendiri?

jika makna kenyataan adalah kehidupan

barangkali kenyataan itu: makan enak,

hidup mewah dan mati istimewa.

Lalu untuk apa kenyataan diciptakan?

jika tidak digunakan sebaik-baiknya

untuk memperbaiki tingkah-laku duka

kehidupan.

2019


Lima Adegan Mawar layuku

/1/

Mawar yang kutanam dalam hatiku

ternyata telah kehilangan harumnya

dan keagungan tubuhnya telah memudar

tercuri oleh kenakalan masa lalunya sendiri

sungguh kini aku seperti menanam biji busuk

di ladang asmara.

Ke mana lagi harus kucari bunga mawar yang lain

dengan keharumnya yang masih perawan. Namun

bunga yang kumiliki ini telah bersumpah mati

siap menjadi pewangi rumah-rumah hariku–

kamar-kamar  hatiku.

Namun setelah kubaca-baca lagi buku kesadaranku

sangatlah bimbang menjadi lelaki sepertiku

hanya menjadi pemakan roti dari sisa-sisa kunyahan orang lain

namun jika perasaan sudah berkata dan cinta

makin sakit jiwa, tahimu pun akan menjadi

mawar di tanganku atau tubuhmu kekal perawan

dalam puisi-puisiku.

Bahkan ludahmu akan menjadi gula di pangkal lidahku,

sebelum  kutelan dan menjadi racun resah yang menyebarkan

virus-virus penyesalan sejauh usia berjalan ke batas paling nyeri.

/2/

Siang ini di tengah ladang-ladang waktu yang gerah

kau taburkan manis biji-biji janji: berharap tumbuh pohon kenyataan

esok hari. Aku pun hanya mengangguk dan kurang mengerti

sebab setelah kuperiksa jantung masa lalu dan kata-katamu

terlalu banyak ular yang melingkar dan mematuk janji-janjimu sendiri

menjadi sekadar ilusi.

Namun aku tak perlu tahu seberapa tinggi tiang hatimu

menjunjung pengharapanku menembus kabut kenyataan

dan mengibarkan bendera kasihmu padaku di mana-mana.

Karena kamu hanyalah bunga mawar yang kehilangan

kesegarannya di tiap-tiap pagi seorang lelaki.

/3/

Malam ini kau berlagak gila dan membuatku sakit jiwa

kita bercakap-cakap tentang rahasia keagungan yang

dimilik tubuh manusia. Sambil kau bertanya-tanya  mengenai

kebutuhan mendasar dari seonggok daging yang mulai

menegang dalam sarung kesepianku–sampai-sampai kita

melupakan kecantikan malam dan mengabaikan buah-buah

detik yang jatuh dari dahan menit di pohon waktu yang

hampir tumbang ke sisi jalan Subuh ini.

Pada akhirnya bunga mawar yang kehilangan keindahannya

sebelum menciptakan malam pertama di masa depan cinta bersama

berkata: “sayang, aku sudah tak tahan ingin meninabobokkan

anak-anak libidoku yang mulai sekarat menerjang meradang ini

sebelum aku gila dan jatuh pada kenikmatan yang salah kaprah.”

/4/

Pagi ini kau buka mata pagiku dengan api pertengkaran

yang tak kungjum padam ini. Kau nyalakan lagi api-api

masa lalu dalam kata, janji-janji yang berdebu dan kenangan-kenangan

yang kan menjauh. Seiring kita saling membunuh diri sendiri

demi sebuah kebenaran dan kerendahhatian perasaan.

/5/

Mungkin inilah puisi penghabisanku untuk mengekalkakan

separuh hikayat masa lalu dan masa depanmu.

2019


Malam-Malam Jahanam

Kutepikan diriku pada kata

Menyemai kembali luka sunyi

Di ladang-ladang cerita

Sebagai pesta pora hatiku

Yang dikucar-kacirkan

Perasaan nestapa.

Selalu di tepian malam gelisah

Kuseberangi waktu-waktu lara

Sampai kutemukan diksi sepi

Menari-nari dalam puisi.

Sudah lebih puluhan kali kukayuh

Jiwaku dengan wajah murung

Di tengah-tengah kampung

Yang sering di kutuk rasa sepi ini.

“Ke manakah orang-orang?”

Kesepianku berucap sesering

Mungkin ketika malam melampaui

Batas keramaian. Sungguh sunyi

Adalah bayi yang terluka, perih

Merintih dipangkuan ibu waktu.

Apakah karena orang-orang pagi

Menamakanku sebagai mata malam

Sehingga aku asing dan tenggelam

Di kebutaan mata orang-orang siang.

Maka dengan tekat sebulat biji mata

Kucari-cari kesenanganku dalam kata

Karena hanya dengan kata utangku

pada resah, sepi dan kegelapan terlunaskan.

2019


Kurayakan Kepergianmu dalam Puisi

Dan kau cukup tahu; bahwa usiaku terpotong-potong kehampaan

Menjadi bagian-bagian kenangan busuk dalam sakit mengenangmu

Sementara jiwaku makin runyam menerjemah tangis hatiku

Karena tak jelas mengapa padamu air mataku terus melaju.

Di kampung aku sudah kehilangan keteduhan angin dan pohon-pohon

Padahal kampung adalah sawah untuk menanam pikiran yang ruwet

Atau hatiku yang sulit menahan sakit kepergianmu

Walau sudah tak jelas bening wajahmu dalam cermin ingatanku.

Namun kau tak perlu tahu kondisi perih tahun-tahunku yang malang

Dan menjalang selama ini. Karena kau bukan lagi bagian dari tulang rusukku

Kau cuma sekadar objek dari air mataku yang terus melaju

Dari hati ke puisi dari puisi ke abadi.

2019


Berseberangan Keinginan

Jangan tanyakan padaku, lebih luas mana rinduku

Padamu atau harapmu padaku kembali ke kota kata

Sesungguhnya kerinduan kita sama-sama luas, kawan

Namun masih ada batas-batas keinginan yang mesti

Kita seberangi dalam jarak berjauhan ini.

Mungkin kau mencintai kebisingan kota

Yang dicipta oleh bibir-bibir manis para penyair

Namun aku lebih mencintai kesunyian kampung

Untuk meruang-raungkan kesedihan dalam puisi.

Perbedaan itulah yang membuat kita saling berseberangan ruang

Namun jangan cemas dan ragu, kerinduan kita harus takzim

Pada serajut keinginan lain yang tumbuh dari rasa nyaman.

Karena perpisahan itu fana –yang abadi hanya perjamuan jiwa.

2019


Ceracaun Ketidakwarasan 1

Saat ini aku duduk tapi melayang

ingin berdiri tubuh bergelombang.

Aku mungkin kemalingan kesadaran

aku kehilangan rasa hatiku

aku kehilangan anak akalku.

Siapa aku kekasih

aku anak siapa.

Bila masih aku hidup

tapi mengapa aku merasa mati

wajah semesta mengabur dalam tatapanku

mata-mataku kelabu menatap mata-matamu

mungkin aku kini adalah bayangan kegelisahan

yang tengah berjalan mencarimu

dalam hutan-hutan kerinduan

dalam semak-semak kehilangan

dalam goa-goa kegilaan.

Aku mungkin terlalu banyak menegak air mata

sehingga aku mabuk melangkah: dari sepi

ke nyeri lalu berhenti pada batas paling puisi.

Bahkan dalam resah jagaku saat ini:

aku berjalan namun jiwaku berdiam

aku bergerak namun ruhku mematung

aku tertawa sendiri namun ada yang

menangis dalam mataku.

Siapakah yang menangis dalam hatiku

siapakah yang merasa hina dalam jiwaku

tidak lain adalah engkau kekasih,

engkau kasihku. 

2019


Ceracauan Ketidakwarasan 2

Kekasih, kini aku akan berjalan sendiri

berjalan mencari kesenyapan inti sari hidup ini

setalah itu aku ingin berbicara pada maut

perihal hidup dan mati kapan menjemput.

Jika rindu padaku kekasih, carilah aku

di sepanjang jalan Malioboro. Lalu carilah

wajahku di antara wajah seniman, penyair

gembel, pengemis dan orang gila. Di

tengah-tengah penderitaan merekalah

aku bahagia mengawani kesedihanku.

Maka temuilah aku orang-orang yang mungkin

masih merindukan tawaku, kemurunganku dan kematianku.

mungkin ingin kirim salam rindu pada tuhan,

atau pada kerabat kalian yang lebih dulu menjadi nama

kenangan di batu nisannya. 

2019


Ceracau Ketidakwarasan 3

Sungguh aku lupa waktu

lupa diriku

siapa aku

sekarang dimanakah aku.

Masihkah aku hidup

atau perlukah masih

hidup butuh padaku.

Sepuluh jam hatiku

kesetanan rasa sedih kekasih.

Namun kau hanya sesegukan

dalam mimpi-mimpi tiap malam

di saat lari dari hujan ceracaun

ketidakwarasanku.

Sungguh kau tahu, kekasih

berjam-jam aku menjadi telepon genggam

demi suara serakku dapat menghubungi

hidupmu –namun kau malah tolak mentah-mentah

sebelum suaraku sampai dan menumpahkan seribu

air kemaafan di telingamu.

Sungguh betapa cemasku

sia-sia –cintaku

mati rasa –rinduku

sakit jiwa.

Barangki kini aku telah kehampaan mengingat

asal-usul hidupku:

dari bahan apakah hidup tercipta?

Bila dari api

mengapa aku tak mampu membakar

daun-daun kecemburuanku padamu.

Bila dari air

mengapa aku tak mampu menyucikan

kain hatimu dari debu-debu curiga padaku.

Bila dari udara

mengapa aku tak mampu melumat asap-asap

pikiranku tentang dustamu yang manis lalu.

Bila dari tanah

mengapa hatiku tak subur menumbuhkan

pohon-pohon kesabaran–rumput-rumput

keikhlasan mencintaimu tanpa musim pertekaian.

Bila rumah-rumah pikiranku

terus-terusan kedatangan tamu-tamu rindu

dari seribu kota kenangan tentang cintamu yang sekeras batu.

2019


Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara, Sumenep. Menulis puisi dan cerpen di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ). Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Merapi, Magelang Ekspres, Bangka Pos, Radar Cirbon, Koran Madura, Majalah Simalaba, Analisa, Rakyat Sultra, Banjarmasin Post, Padang Ekspres, Lampung Post, Fajar Makkasar dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *