Puisi

Puisi Patricia Pawestri

August 6, 2019

ada hal-hal teraba

pada buah dada yang dibedah

ada ibu di sana

ada ranum alpukat

pada hamparan putih lembut itu

ada kekasih

ada hangat selimut rajut

pada kemesraan kelam itu

ada anak-anak

merumput surga

2019


ranum fajar

jalan lengang sejuk pagi

hamparan hijau padi berbulir

kuntum-kuntum ladang jagung

kolam tenang ikan berenang

bisik gemericik sungai

awan lembut perlahan beriring

2019


anak kecil berlari

ia menuju pepohonan pada jalan menurun

menangkap suara burung dan gemulai angin di antara daun

ia menahan bayang awan pada matanya

kaki kecil lembut membelai rumput

bintik peluh sedikit sembunyi

kulit berkilau sematan embun

2019


ia berkata, indah sekali

di tepi pematang ia berhenti

ia tangkapi kepak sayap bangau kecil

yang naik turun dari dahan mati

kepada kolam bibit padi

2019


uri-uri

sehelai selendang

menari bersama gemulai angin

keris-keris kecil yang manis

sehelai lagi dihentakkan

kembang-kembang air yang terusir

seperti tertawa suaranya

selusin batik menghiasi halaman

tersampir pada tali menggeletar

2019


melepas turun

benang-benang sari mendengar hujan

mendengar geledek hujan

benang-benang sari bunga rumput

tertimpa tetes-tetes hujan

benang-benang sari bunga rumput

tertunduk-tunduk terbawa berat tetes-tetes hujan

benang-benang sari basah sekujur tubuh

2019


mencium fajar

pada jaring waktu pagi hari

aku tak pernah melihat keluar

tapi kubayangkan, ada yang menjalin

segar dan ramai di udara:

hembus udara embun dan kicau burung

dan percik keemasan di tengah suram langit.

2019


mengetuk hati

cinta adalah diskusi hujan

bagi perempuan muda, bagaimana membedakan

keinginan berbagi dari memiliki, dan keduanya berasal dari surga

cinta adalah diskusi kemarau

di mana rasa dahaga tak menemukan secangkir minuman

hingga ia mengerti di dalam dirinya sendiri sumur tertutup sebenarnya penuh

cinta adalah diskusi musim semi

setiap pagi tunas baru menemui cahaya matari

dan dengan tunas cinta lainnya ia berlomba tumbuh semakin tinggi

cinta adalah diskusi musim dingin

di mana setiap yang beku adalah pintu rumah yang perlu diketuk

senyum dan pelukan hangat, meski seribu kali ditolak, tetap jadi anak kunci

2019


kita belum merdeka ketika membaca berita

ini memang bukan 17 agustus

hari di mana kita mengkaji bendera di puncak

kita belum merdeka

selama masih ada pengemis di tangga pusat perbelanjaan

dan anak-anak yang berangkat pagi dengan sepatu menganga

kita belum merdeka

ketika ada buruh pabrik yang disembunyikan di loteng ketika audit tenaga kerja

kita belum merdeka

ketika buku-buku dirampas oleh tentara

kita belum merdeka

ketika pemerkosa diijinkan melengang di kampus

kita juga belum merdeka

ketika jumlah pupuk dan pestisida yang dibeli petani dibandrol naik

dan pedagang sayur memilih membeli barang dari tengkulak daripada petani

kita belum merdeka. ke mana perempuan-perempuan Kendeng itu? aku belum selesai membaca berita, apa mereka masih harus merendam kaki mereka di dalam semen hari ini?

2019


Patricia Pawestri, lahir dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Nalar Politik. Karya tunggalnya Metafora Goodnick Griffin.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *