Puisi

Puisi-Puisi Ebi Langkung

March 10, 2020

Membaca Burung Hantu

setajam matamu, kasih

kurawat gelap ini

sampai wajahku kusut dan

nyanyian burukku terdengar

di tengah orang-orang putih menggelar

sebab lewat gelap

kau dapat kusentuh lebih dekat

lebih lesat dari zikir, takbir dan mekar

bunga-bunga mawar, atau kuntum yang hambar melafal

dengan jari-jari layu dan bulu lembut

kujaga dirimu, kasih

dari segenggam siasat pencuri

yang kerap dingin melukai

kutemani kau mencari cahaya

dalam gelap menebus segala

hitam dan jantung muram

ke waham jurang dan batang-batang terpejam

hingga segala jadi baru

biar semua kefanaan ini tahu

kita begitu setia

karena juga rindu bermalam di surga

2020


Segelas Teh Pagi

tak ada doa, tak ada sebaris kata cinta

kecuali murung dicecapnya

pohon-pohon dingin di luar jendela

burung-burung berkicau mengekalkan

warna hijau kelamnya

matahari timbul sederhana

di tengah uap tak ada mekar menangkap kabar

kecuali, cuaca mencelupkan luka

yang samar-samar terperam di pucuk sarinya

2020


Pelukan

akulah dahan dalam imanmu

cinta yang bersulur melilitmu

lantas kita seperti mata burung

dalam sarang menangkap gelap rindu penyatuan

di antara kehangatan dan ketakutan

adalah perpisahan

lantaran sepasang lengan tak mampu mengabadikan

getar sebatang sungai

maka sebuah jembatan membentang

di atasnya kita terpejam

seratus tahun kesunyian tiba menyeberang

selepas pelukan

hanya selepas pelukan

buah abadi terkenang

2020


Yang Tersisa

yang tersisa adalah cuaca

dirangkum renung bayanganmu tumbuh

dari jendela kamar

matamu sebatang sungai mengalir

ke pembaringanku

dan matahari mekar di situ

burung-burung pun terbang menempuh khayalku

tidak, kau tidak tumbuh, melainkan hanya

menyentuh halus yang pernah tersuluh

di waktu kudus

di atas bantal sisa keringatmu

bau rumput muda yang luput dari doa

namun, selalu menyala setiapkali menjelma

2020


Menyapa Kenangan

inilah jalan kita

masa lalu telah menanam hujan

di antara pohon-pohon rindang

seharusnya kita masih di sini

membayangkan di antara bukit-bukit terjal

memelukku ketakutan

melihat kabut yang melepas, dan ilalang yang tumbuh bertunas

namun, doa telah kita padam, sayang

sebelum liuk lubang pertama

lalu yang tersisa sekadar rimbun bayang,

bising suara orang asing

yang keluar dari dalam gelap

menjelama kau, menyentuhku sebagai angin lalu

di antara barisan gedung dan warung

yang menyimpan hangat dan bau tubuhmu

masa depan kulalui dan kupejamkan sendiri

tak ada keabadian, ucapmu.

dan jalur-jalur pun memintas, aku pun mempercepat

kelam, sebagai mata daun-daun kering

yang memilih tidur di bawah selimut pagi

2020


Mata Ijah

berpasang malam

burung hantu yang suntuk berdiam

di antara lantun tarkhim kelam

dalam nyalamu

lalu sebiji dua biji benih bangkit

dari gelapku menyusuri

kedalaman matamu

ke putih sisi, sinar korona bulan

melintasi rintik alismu

yang sunyi membentangkan jalan

adalah ke barat jalan imanku

ke haribaanmu

yang mencairkan segala beku waktu

di hatiku

2020


Biji

wujudku sepi

di tengah rimbun

yang mendalam tiada tepi

pada tanah sunyi

kutengahkan salat ini

supaya menciummu lebih dekat lagi

hingga aku dapat berakar dan berdiri

ajari kami menyerap yang murni

juga mata mereka yang bimbang menatap

kedalaman sujud ini

kami yang kerap hidup

dari dekapan angkamu

dan asuhan susu heningmu

kelak, mungkin tiba buah dudukku

bersama sekerat roti

dan janji yang meragi

sampai tiba matahari yang bahagia

anak-anak burung berkicau di atas rimbun

batang luhur kami

2020


Pengantin Barzanji

aku bersaksi tiada ketenangan kecuali padamu

aku bersaksi tiada kekecewaanku

melainkan jauh darimu

langit dan bumi berdiri dari sinarmu

dan segala jadi debu dari diriku

kecuali bersamamu

tanah timur dan barat yang berseri

menghadapmu, meraih wujud sejati

dari emas dan intanmu yang murni

kuncup bunga kini telah mewangi

semerbak baunya menguar ke langit tinggi

kutanam cahayamu di lubuk sunyi

hingga tersentuhlah jiwaku dan

menyalalah aku atas cintamu

2020


Pacar dari Tuhan

akulah ladang bagi biji-biji air matamu.

tumpahkan seluruh biarkan angin gemuruh

yang kita tuju hanyalah satu

sebab kita tak menanam apa-apa

juga tidak menumbuhkan apa-apa

segalanya cahaya yang bekerja menciptakan sari tegaknya

kau mekar mawar

yang kurawat dari mataharinya

dari duri dan keseimbangan langitnya

tesebab embun tergelincir

di bumi kita ciptakan harumNya

akulah ladang bagi akar pertemuan sang pecinta

rebahkan keringmu

kunyalakan mekarmu

2020


Hantu Imsomnia

kau datang lewat lubang malam

berkelebat memekarkan

kuping dan mataku

meski langit memejam

dan tak sepenuhnya kutahu

apa yang kau genggam pernah jadi milikku? tidak

tawamu buruk serupa burung pungguk

tak ada yang merindukanmu

termasuk diriku

selepas tarkhim kau masih di situ

diam membeku dengan tangan layu

di atas meja segelas kopi dingin

kucecap ragu-ragu

barangkali kau telah menyesap jantungku

dan melafalkan kata murung

yang asing kudengar

setelah terjerembab ke masa lalu

yang pernah menjadi bagianku

2020


Ebi Langkung, lahir di Pasongsongan Sumenep Madura. Alumni Komunitas Tikar Merah Surabaya. Buku puisinya berjudul Siul Sapi Betina 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *