Puisi

Puisi Pusvi Defi

July 30, 2019

Mendua

bila kuluahkan; sempurna bayangmu

yang hendak kulipat dekat

ada lembayung jingga membayu benak

serupa gadis hilang perawan, kocar-kacir mencari sasaran

ratap tersuruk, ambruk

pecah gelombang, menghantam karang

kian kuingat jerit hati tersayat

saat kudulang kembali ingatan itu

di pantai cermin indah nian seri

kau tikam aku dengan genit rayuan

tersulam sejumput ikrar, memadu kasih lewat cumbu birahi

janji-janji hanya omong kosong

tipu bualanmu mencubit!

Sebulan lebih kuurung rerindu ini, menahan konak kian terpenjara

rupa-rupa air mataku berderai gagah

menyaksi lekat lekuk tubuhmu tengah asik bercinta di pelabuhan dermaga 

napas tersedak sembilu membara

;hatiku patah

Pantai Cermin, 2019


Hubungan Jarak  Jauh

:Bagi A.B

Cobalah engkau bayangkan

aku seumpama ikan benih dari hulu

yang dengan tabah tergerus arus para perambah

Sedang kau

Adalah pelayar yang melawan arus gelombang

Namun tetap kita 

menghilir mudik di sepanjang risalah penantian

menakik segala rintang

menanjak  jarak membentang

dengan rindu yang semakin garang

Panam Kota, 2019


Terkenang Mantan Kekasih 

:An

memasuki jalan kecil, melewati tiap-tiap gang sempit

lampu-lampu kendaraan serupa kunang-kunang

yang bertubrukan. seraya aku mengenangmu

bagaimana kabarmu setelah kurun waktu 4 tahun kutinggalkan

masihkah wajahmu yang lugu manis seumpama buah manggis

itu gemar tersenyum tipis?

atau jangan-jangan setumpuk awan mendung tengah menyelimut

selepas kupatahkan kau dari peraduan cinta yang sekecut buah mempolam

kau tahu, akhir-akhir ini aku mudah terserang penyakit lupa

baik itu hari, tanggal, dan apa pun itu

namun bagiku, lengang jalan yang sering kita susuri, 

bagai riak-riak kecil yang terpercik dari pengayuh

membilang kenang yang ingin kembali memulai

Harapan Raya, 2019


Tuli

diladang sunyi,

capung-capung mengepung

lalat bertengker di ujung

dan biji kedelai tengah membenih; semi 

aku melirik, mendongak pandang

orang-orang sibuk berkerumun

bercengkerama entah apa

Pekanbaru, 2019


Air Mata

di ranjang basah, kutiduri keringat mata

tak sempat kuseka, hanya kujilati asinnya

ranum membuahi; perih

Pekanbaru, 2019


Sakau

Aku adalah wanita yang gemar menjambak imaji

mengeram rahim puisi tanpa metafora

memuntahkan birahi frasa yang entah apa

semua kulumat sesuka sakauku mengeja

Pekanbaru, 2019


Bayang

Di sebuah ranjang ada bayang mengangkang!

bertabuh dengan sayap kenang

serupa kunang-kunang berteduh di daun ketapang

Pekanbaru, 2017


Jerebu

aku tertidur dalam kepulan asap jahannam,

menyibak mataku menyerih, perih

Pekanbaru, 2015


Ihwal Rumah Tangga

:Sakinah Bersamamu

Aku membangun sebuah atap di hutan belantara

Sebelum kaudirikan sebuah pondasi

Di dalam tembok-tembok perkasa

Dan untuk sekian kalinya pada senja yang terpasung

Oleh cericit murai yang ceriwis

Kita salingsilang menjenguk kerinduan

sebagai pengembara purba

Rumah adalah Raga

Yang lebih Agung

Dari sebuah hiduk suci

Rumah adalah keheningan

Yang menebar teduh dari ancaman

Rumah adalah kunci

Yang membuka pintu hati

Untuk kita saling mencintai

Pekanbaru, 2015


Ihwal Angan

Aku melayang-layang bagaikan kapas putih

Dihembus angin liar

Dan busur-busur bercahaya lentur

Timbul tenggelam

Dalam puncak pikiran

Pekanbaru, 2019


Pusvi Defi, kelahiran Medan, 23 Juni 1994. Mencintai puisi, dan kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *