Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

June 2, 2020

Jagung Rebus Hangat

sore mengantar tetangga

ke teras rumah

dengan plastik bening

di cantolan sepeda

keceriaan berwarna jeruk

lekas berpindah tangan

bersama preambul paling rendah hati

kebetulan panci untuk merebus berukuran besar

muat untuk mendidihkan lebih banyak keceriaan

Bojonegoro, 2020


Memasak Batu

ibu memasak batu

di atas tungku ceklekan

dengan api sedang

di atas batu

tiga bungkus amin

menguarkan keringat petani garam yang khidmat

amis baju nelayan

berpacu dengan haus pemanjat pohon kelapa

menjelang bedug

laut dan perkebunan semarak di meja makan

kepada mereka,

amin mengumpat aman

Bojonegoro, 2020


Pulang

kita kembali pada hati masing-masing

dengan pengertian yang susah

tapi kesusahan apa yang layak jumawa

menjelma paling kuasa

tidak ada kesusahan yang benar-benar

kata berita di lini masa

kita hanya perlu menepis kabar

panggilan dan persemuan bimbang

semoga tidak ada lagi jalan yang rentan

sehingga kita tidak perlu berebut jembatan

di lintasan sungsang

Bojonegoro, 2020


Kesiangan

pagi terjadwal sejuk

di jalan-jalan kampung

kaki menginjak embun

dengan agak tergesa

di timur atap rumah

bayi matahari sudah merah

bidak-bidak toko mesti lekas dibuka

kaki yang terjadwal mengitari sepetak besar perjalanan

jadi makin tangguh

mengikuti paving jalanan yang bergelombang

Bojonegoro, 2020


Lebaran Wabah

      : dari film Negara, Wabah, dan Krisis Pangan

kelas menengah perkotaan

menonton dokumenter terbaru Watchdoc dengan kegeraman tak sudah-sudah

negara yang berkasih hijau

senantiasa menjamin rumah

bagi hasil pertanian orang lain

tapi melibas kesuburan tanah anak kandungnya

di kulon progo

di kendeng

di batang

di papua

di kalimantan

di mana saja

dalam kebenaran

anak negara yang tak pernah manja

mengandung pangan yang berdaulat

tapi bapak yang telanjur khilaf

tak pernah mampu melihatnya

Bojonegoro, 2020


Ramadan Masih Meriah

mikrofon tidak berhenti

menguarkan biji-biji ayat suci

dari suar musala

suara-suara berkisah lugu

dari pagi sampai siang berwarna merah

lalu beranjak serak dan berat

saat cahaya tenggelam di kiblat

setiap hari

musala-musala yang letaknya selemparan sandal jepit itu

riuh oleh ragam lamaran

baik yang pamrih

atau tidak sama sekali

(Bojonegoro, 2020)


Arief Budiman

hari ini aku membaca tiga kematian di cerpen

ketika istirah rampung,

cerpen kematian ke empat mengetuk kelopak mata

tokohnya bernama wangi

tokoh telanjur mati

meninggalkan banyak tanda seru

di titian kebudayaan, politik, sosial, dan kebangsaan

(Bojonegoro, 2020)


Tua dan Gembira

                : djokolelono

Usia memanggul kegembiraan demi kegembiraan

Ia ingin kesedihan dan tangis singgah sesekali saja

dan jangan sekali-kali berlebihan

Hidup ini humoris

Jangan cemberut apalagi cengeng

Nanti kamu digoda setan penunggu beringin tua di Wlingi

Juga jangan bermain-main di dekat beringin tanpa doa orang tua

Setan van Oyot bias menjelma apa saja

Kepalamu bias tiba-tiba benjol

Atau kau tersekap di kamar tak layak huni

(Solo, 2020)


Di Kereta Hijau

                : impian

kita sibuk pada diri masing-masing

mematut wajah di jendela

mereka sesuatu yang jauh

di balik jendela, aku melihat obat-obat

yang harus kau minum tiap pagi dan petang hari

di dalam obat-obat, aku melihat dirimu bergulat

dengan bayangan diri yang muncul di siang hari

sebelum aku terjaga

kau sudah menyanyikan puji-pujian Mbah Moen

yang dialamatkan pada Fatimah dan Khadijah

kesempatan perempuan menjadi waliyullah

lebih terbuka dan terasa masuk akal

“Tapi mana mungkin Gusti Allah menjadikankamu wali-Nya

Tampangmu tak ada bakat sama sekali untuk jadi wali”

waktu itu tangisku sembunyi di balik daun mata

bukannya menangisi ledekanmu

tapi ingat, hari ini kekasihmu menikah

(Solo, 2020)


Di Samping Peti Mati di Dalam Pesawat AURI

kekhawatiran Gie

tiba-tiba mencemaskanmu

justru saat adikmu yang keras itu

tergolek pasrah dimandikan para perawat jenazah

“apakah hidupnya sia-sia belaka?”

kau mengulang-ulang pertanyaan di dalam hati

di tempat tukang yang membuat peti mati

yang menangis tak henti-henti

jawaban itu kau peroleh

dan siap kau bisikkan pada Gie di dalam pesawat nanti

dari Malang, pesawat sempat istirah di Kota Ngarso Dalem

pilot AURI menciptakan kembang

menggenapi pembuat peti mati

istirah kalian hanya sepersekian jenak

sejak itu, dadamu terasa lebih longgar

pesawat bersiap menuju Jakarta

tanganmu menelusuri peti

berupaya mencari di mana letak persisnya telinga adikmu

(Bojonegoro, 2020)


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.

Only registered users can comment.

  1. buat ifa

    Bayang bayang
    Datang di remang
    Di tipis senyum
    Di pancar sinar
    Pandang

    Remang remang
    Barlapis tanya
    Disendau sapa
    Diramu
    Akar akar tidak benar
    Sebentar

    Akar akar
    Menggigit membakar
    Dengan rasa asing
    Terlalu bising
    Di cangkir dengan bibir tercuil

    Kamu indah
    Di satu desah
    Kemudian berpisah

    Jilbab
    Berkelibat
    Sekilas hinggap
    Sekilas lenyap
    Dan kamu
    Masih ada di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *