Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

April 30, 2019

Memasak Ibu

perempuan kecil memasak
untuk menghadirkan aroma tubuh ibunya

(Sala, 2019)

Apakah Cinta Itu

di jauh, gadis kecil bertanya
pada ibu di rumah
apakah cinta itu, bu?
cinta itu, nak
saat kamu tidak berhasrat mengubah apapun
dari orang lain
pernah kamu jatuh cinta?
kupikir belum
bahkan kepada ibu?
ya, bahkan kepada ibu

(Sala, 2019)

Halaman Belakang

kesedihan adalah mengalami pertemuan
beku
kamu tak percaya diri menemuiku di keramaian
aku tak percaya diri mencintaimu

apakah kita perlu sering-sering bertamu
di halaman pungkasan majalah mingguan
sekadar untuk bertemu
di ruang depan pikiran

(Sala, 2019)

Setengah Hari

siang baru setengah dan miring ke kanan
sebab hujan tak bercabang
bertamu di himpitan pintu kamar
di dalamnya, mataku
hilang di tiap gigitan jambu

orang-orang kecut memandang
nyala neon
seperti ilustrasi komet jatuh
di pelajaran IPA sekolah dasar
mengumpati sabtu yang gagal tidur

(Sala, 2019)

Aku Tidak Suka Bekerja

aku tidak suka bekerja.
kecuali minggu,
hari-hari jadi sibuk dan menyebalkan
aku jadi tak punya cukup waktu
memandang buku-buku

sebetulnya kamu juga, tidak
suka bekerja
tapi bekerja sudah jadi
kehidupan itu sendiri

kenapa begitu?
karena bapak sudah jarang memberi uang saku
kamu anak laki-laki, dan harus
mandiri

(Sala, 2019)

Puisi di Jalan

di jalan
aku sering jadi puisi

sekian kilometer puisi tak tercampak
ingatan
duduknya tenang
menyusun diksi sesuai warna baju

lampu tiba-tiba memerah
wajah puisi jadi ramah
diantarnya senyum koma ke tiap-tiap arah

di puluhan jalan berlubang
puisi membenamkan diri
mengamati
batu-batu kecil bergaun malam

setelah tanjakan
puisi hilang di belokan
ia, tak pernah sampai rumah

(Sala, 2019)

Lelaki Bermata Jauh

waktu dan keriuk kerupuk hijau pernah kita simpan
baik-baik di toples bekas biskuit lebaran
tiap susunan kita tata dengan pertimbangan setiti

dua ratus tiga puluh bulan kemudian
di hari rekah, kita kalah
dan sepakat tak ada lagi tiket terselip di jendela kereta yang muram
kita pilih gembok tanpa kunci untuk stasiun kota yang tenggelam

(Sala, 2019)

Rizka Nur Laily Muallifa.Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya. Aktif di KomunitasDiskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, Bentara Muda Solo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *