Puisi

Puisi Rizka Umami

March 3, 2020

Secangkir yang Luput

Kopi lelet di depan matamu luput kau sruput

Berita kematian saudara-saudara menyergap telinga

Virus-virus baru, makin ngeri kau dengar

Di rumah, kau tak lagi minum dari cangkir bekas anakmu

Kau cuci semua alat makan sisa mereka

Kau tak mau disentuh siapa-siapa

Secangkir lagi, luput dari bibirmu yang basah

Mulai membiru

Kau takutkan maut menjemputmu lebih dulu

Maka kau asing, dari anak istrimu

Mendekam seorang diri

Dalam teralis, ruang tiga kali empat meter persegi

Mulai membiru, sekujur kaku

Tinggal secangkir lagi

Tak mau luput dari bibirmu yang kering

Sudah pecah-pecah, berdarah.


Yang Koyak dalam Ruangmu

Pasca panen kacang ijo bapak remuk

Ruas-ruas jari kaki

Herpes menyerang seluruh tubuh

Merembet ke ketiak, leher, selangkangan

Tak apa, tak apa. Panen kita banyak, Le.

Tapi pasca panen padi bapak hilang, remuk

Diabetes menyerang ruas-ruas jari kaki

Tak bisa jalan beberapa bentar

Diamputasi sudah, kedua jari kakinya

Tak apa, tak apa. Yang penting panen kita banyak, Le.

Tapi bapak hilang, tak seimbang

Tak bisa jalan sepersekian bulan

Peduli apa pada tubuh yang koyak, tinggal remah-remah

Luka-luka nganga

Tak apa, tak apa. Kau bisa gantikan bapak, Le?

Lalu kau tangisi sendiri komplikasi di tubuhmu

Tak bisa lagi mendaratkan cangkul

Hasil panenmu berkurang

Sebab lanangmu tak cakap bertani

Kau koyak dalam ruang imajimu

Mengutuki cita-cita keturunan sudi mengundi nasib jadi petani

Tapi lanangmu pilih sewa orang

Bayar dua kali lipat

Sedang panen makin berkurang, tak seberapa

Kau koyak lagi dalam ruang harap semu, abu-abu

Mengutuk kepincangan

Mengutuki nasib.


Kretek si Mbok

Kubacakan Perempuan dan Kretek

Sedang si Mbok asik mengunyah suruh

Aku menyulut kretek

Dimatikan bapak

Sedang si Mbok menyalakan ulang

Buat apa melarang si genduk ngretek? Kau demikian sama

Sebab kau perempuan, kata bapak

Tapi si Mbok juga perempuan, sanggahku

Lalu si Mbok nyalakan ulang, menghisap dalam-dalam

Memberikannya padaku, sehisapan

Kubacakan lagi Perempuan dan Kretek

Bapak manggut-manggut

Lalu mengunyah suruh, menyalakan kretek buat si Mbok

Kretek si Mbok diberikan padaku, lalu ia mengunyah suruh bersama bapak.


Lintingan Terakhir

Sebelum perang harga, tembakau bapak

dibantai habis

Petani-petani merugi, kalang kabut

Investor bersulang anggur merah di samping istana

Bapak sedia badan

Demo saja, pak…

Berkelit

Petani-petani desa Wates meriang

Pilih menjual ke tengkulak, tapi harga

masih tak manusiawi

Tak dijual, tetap merugi

Dua kali masa panen tak dapati laba pasti

Panen lagi, meriang lagi, rugi

Bapak bisu, menyepi

Ia nglinting dari tembakau hasil panen

Terakhir sampai napas di ujung penghabisan

Lintingan terakhir jadi tempat bapak

Mengukut

Meninggalkan anak istri, dijemput Izrail.


Balkon Kesangsian

Di balkon lantai tiga

Yang luput dari percakapan kita

Disaksikan dua sulur Nephentes, mulai kering

Tapi tak lebih kering dari luka-luka yang kau sembunyikan

Di balkon lantai tiga

Kita sempat menghendaki cerita keutuhan dua manusia

Meski saling sangsi

Pada rasa masing-masing

Bukankah kita, dua organisme yang penuh ketidakpastian?

Lantas memintal harap

Memaksa penuh.


Menimang Ibu

Seperti balita, empat tahun minta ditimang

Ibu baru genap 80

Bungkuk seperti pungguk

Manja seperti gadisku

Tak mau kalah seperti jagoanku

Ibu minta ditimang-timang bapak dan aku

Nenek anak-anak berubah kekanak selepas menua

Sedang kami dipaksa dewasa

Harus mendewasa diri

Sebelum habis masa ibu jadi bayi, lagi.


Kau yang Hilang dari Pelupuk Mata

Koes,

Lelaki yang memaksa pergi dari buaian

Mendaku diri sejati

Pantang pulang sebelum dapat penghasilan

Koes,

Anak sulung tulang punggung

Memangku beban empat saudara kandung

Tiap-tiap waktu kirim uang bulanan

Hampir lupa jalan pulang

Koes,

Jatah sekolah direnggut nasib

Kurang beruntung

Kau hilang di tengah semester

Pilih merantau menyambung hidup

Buat mengisi perut ibu, perut bapak, saudara-saudara sepersusuan

Koes, hilang dari pelupuk mata orang-orang

Pantang pulang sebelum dapat penghasilan, banyak uang

Lelaki malang, rela pergi dari buaian.


Mendoakan Orang-orang yang Kehilangan

Kematian itu, niscaya

Kau kenal baik-baik detail cara membunuh jasad

Wajah-wajah pelayat

Yang pura-pura bersedih

Atau bersusah menghibur mereka yang kehilangan

Kematian itu, niscaya

Kau sekali datang memberi ceramah, khotbah

mendoakan mereka yang terbungkus kafan

mendoakan mereka yang kehilangan

meminta semesta lapang menerima

tubuh-tubuh yang telah dijemput mautnya.


Misi yang Sia-Sia

Dokter Rieux mengamini kesia-siaan

Pergolakan melawan kematian demi kematian

sampai nyawa tak ada sisa

Seperti kisah Maria Zaitun, karya Rendra

Tak ada bekas melawan nasib

Sudah beruntung ajal menjemput daripada hidup dirundung derita

Camus mengotak-atik tokoh utama

Sang dokter tak peduli pada misi yang sia-sia

Jalan terjal kemanusiaan

Memberi tubuh-tubuh yang sakit kesembuhan

Rendra tak memberi Maria berkah kesembuhan

Maria Zaitun mendapat Firdaus bersama lelaki berwajah remuk

Jalan terjal mencecap bahagia

Di akhir misi hidup yang sia-sia


Perempuan di Antara Dua Dewi

Dua sales masih menjajakan Dua Dewi

Meski surup sudah habis mengikis sinar matahari

Tak ada senja-senja atau mega merah muda

Dua sales masih berjalan menembus gang-gang gelap

Menjajakan Dua Dewi di tangan

Perempuan-perempuan dengan rok mini

Berhak sepuluh senti

Lipstik merah darah, bedak tebal

Menghias bibir dan pipi

Tapi  rias tak bisa menghapus payah

Dua Dewi di tangan belum laku terjual

Dua perempuan tak bisa balik ke peraduan

Tapi rias tak bisa menutup duka dari dua bola mata

Dua Dewi terbungkus rapi belum tergadai

Dua perempuan tak bisa balik ke bilik asal

Terus jalan, terus menjual.


Rizka Umami, pengasong di Komunitas Sastra Sadha Tulungagung. Sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di facebook Tacin atau Instagram dan twitter @morfo_biru

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *